Saturday, July 25, 2020

Cerpen, Kue Pembawa Berkat".


SHORT STORY

KUE PEMBAWA BERKAT






Perkenalkan nama-ku Cindy aku adalah anak pertama dari 7 bersaudara. Orangtua-ku nggak kaya-kaya amat mereka hanyalah penjual kue doang membuat adik-adik-ku nggak bisa bersekolah. Yang bersekolah hanyalah aku dan harapan mereka cuman ada pada diri-ku supaya bisa menjadi orang hebat seperti yang mereka harapkan.Ini cerita-ku.

***
“Cin, Cin udah pagi ayo cepet bangun mandi lalu sarapan dan berangkat ke sekolah nanti kamu terlambat lagi”, suara ibu Cindy membuatnya segera bangun dan menuju ke kamar mandi untuk mandi. (Tok-tok-tok) “aduh siapa sih di kamar mandi cepetan dong nggak tahu apa aku bakalan terlambat kalau kayak gini caranya awas yah...kalau keluarnya kelamaan aku toki nih kepalanya pakai handuk”, bentak Cindy dari luar kamar mandi membuat adikknya Lidia segera keluar dari kamar mandi “maaf kak Lidia ke belet pipis jadinya menghalangi kakak buat mandi”, jawab Lidia dengan nada mendatar (sambil menundukkan kepalanya). “Iya...iya kali ini kakak maafin jangan ulangi lagi kalau sampe ulangi lagi awas kamu”. Begitulah sifat Cindy nggak di sekolah nggak di rumah sifatnya sama saja membuat ayah dan ibunya ingin sekali menyadarkannya supaya bisa mengubah sifatnya yang suka manja, mau serba ada, dan suka marah-marahin adik-adiknya.

***
“Teng...teng...teng lonceng sekolah Cindy berbunyi, Cindy bersekolah di salah satu sekolah yang lumayan mahal karena dia gengsi harus sekolah di kampus,takut di bilang ketinggalan jaman dan anak kampungan. Di sekolah Cindy termasuk anak yang nggak terlalu pintar dan nggak bodoh juga tapi dia bisa terkenal karena berteman dengan anak-anak kaya yang terbilang populer di sekolah itu, Cindy juga nggak mau ngaku pekerjaan orangtuanya apa dan rumahnya di mana. “Eh entar kita mau nonton film di bioskop loh mau ikutan nggak Cin”, tanya Lisa pada Cindy (Sambil menunggu pelajaran pertama di mulai). “Aku mau dong jam berapa kita pergi terus karcisnya bayar berapa sih?”, Tanya Cindy pada Lisa, “karcisnya Rp.100.000-an” jawab Lisa sinis, wah ada ngitung-ngitung nih jangan-jangan nggak mampu kali loh”, Lisa semakin menyindir Cindy. “Ha..ha..ha..ha emangnya loh pikir gue nggak bisa apa beli karcis gitu doang lagi pula kalian berdua bakal gue traktir makan deh entar kalau emang gue bohonga nggak punya duit gimana?”, jawab Cindy (dengan nada meyakinkan kedua temannya) “Iya deh kita berdua percaya”,jawab Christin dan Lisa serentak. “Kamu mau dijemput jam berapa Cin soalnya filmnya mulai jam 19.00 malam”, tanya Christin pada Cindy “Ah nggak usah dijemput nanti kita ketemuan aja di bioskop ok”, jawab Cindy pada kedua temannya. “Yah udah deh”,sahut Lisa. Tak lama kemudian guru Matematika mereka masuk dan mereka pun mengikuti pelajaran Matematika dengan pikiran yang tidak konsentrasi akibat terbayang-bayang akan keseruan jalan-jalan bareng ke biskop nanti malam. Satu demi satu pelajaran mereka lewati sampai waktunya jam pulang sekolah jam 1 siang. “Sampai jumpa ntar malam yah Cin”, sahut Lisa dan Christin, “ok sampai jumpa juga sebentar malam”,balas Cindy.

***
“Selamat siang, ayah dan ibu ada uang nggak aku pengen nonton ama temen-temen-ku ntar malem di bioskop”, (kedua orangtuanya heran melihat anak mereka Cindy) “kamu ini pulang sekolah langsung nanya duit emang ayah sama ibu kerjanya apaan sih sampai kamu pengen pergi kesana-sini hanya untuk bersenang-senang lebih baik kamu belajar bikin kue sama ibu kamu supaya kamu itu bisa membantu kami orangtua”, nasihat yang keluar dari mulut ayahnya membuat Cindy marah dan lari ke kamarnya lalu menutup pintu kamarnya (duk,bunyi yang kasar). “Biarkan saja bu nanti dia akan mengerti bahwa apa yang dia lakukan itu salah”, “Iya pa tapi bapa nggak boleh terlalu kasar sama Cindy”, “bapa nggak kasar bu bapa hanya menasihati dia supaya dia bisa menata masa depannya dan bisa lebih baik lagi dari kita berdua harus sukses dan memerhatikan adik-adiknya”, tiba-tiba Cindy keluar (bunyi pintu terbuka) bapa, ibu maafin Cindy yah emang apa yang bapa dan ibu bilang itu bener Cindy harusnya bersyukur bisa sekolah sekarang dan mendapat fasilitas yang baik dari bapa dan ibu. Cindy sadar Cindy memberatkan bapa dan ibu sekarang Cindy mau diajarin buat kue sama ibu, Cindy nggak akan pergi ikut temen-temen Cindy buat menghambur-hamburkan uang Cindy akan nelpon mereka batalin jalan-jalannya, kata Cindy. “Baiklah sayang sekarang kita pergi ke toko buat beli bahan-bahannya”, sahut ibunya Cindy “Iya bu ayo kita pergi tapi tunggu dulu Cindy ganti bajunya”,jawab Cindy. Cindy dan ibunya berjalan ke toko dan membeli bahan-bahan kue untuk membuat kue dan di jual di kios kecil milik mereka yang berada di dekat emperan toko-toko ternama di Jakarta.

***

Keesokan harinya Cindy ke sekolah dan temen-temennya Lisa dan Christin memarahinya. “Cin mana kata-kata loh yang sok-sok mau traktir kita makan”, suara cempreng Lisa menusuk telinga Cindy, “alah Lis kayak loh nggak tahu aja Cindy kan hanya mulut besar doang buktinya nggak ada gayanya aja sok mau gabung dengan kita berdua padahal janji kayak gini aja nggak ditepati”, sindir Christin “ayo kita pergi aja, kamu udah bukan lagi temen kita”, kata-kata Lisa menyayat jantung Cindy. Sekarang Cindy hanyalah sebatang kara di sekolah nggak ada satupun yang mau deket dengan dia, tapi dia tetep senang karena masih ada ayah,ibu dan adik-adiknya dan yang paling penting sekarang dia fokus untuk membantu kedua orangtuanya. Sepulang sekolah Cindy membantu ibunya membuat kue dan Cindy serta adik-adiknya dengan semangat pergi mengantarkan kue-kue itu ke kios mereka dan adik-adiknya membantu Cindy menjaga kios kue mereka. Tak lama mereka menjaga kue itu tiba-tiba temen-temen Cindy yaitu Lisa dan Christin tak sengaja memarkirkan mobil mereka di dekat kios kuenya. “Eh ada penjual kue yah di sini, pentesan aja kemaren nggak berani ikut kita ke bioskop karena ternyata miskin toh”, sindir Christin “ha...ha...ha yaiyalah emangnya ada yah penjual kue bisa nge-shooping ke toko-toko mewah dan nonton di bioskop”, sambung Lisa. “Emang aku bukan orang kaya seperti kalian berdua tapi aku juga punya harga diri,aku bangga bisa bekerja seperti ini yang penting aku dapetin uang halal buat hidupin keluarga-ku nggak kayak kalian berdua yang hanya menghabiskan uang orang tua kalian”, kata-kata kasar yang keluar dari mulut Cindy membuat Lisa dan Christin tak dapat berkata-kata lagi, “ayo kita pergi yuk males lama-lama di tempat kumuh kayak gini” kata Lisa pada Christin “Yuk aku juga males di sini” jawab Christin.

***
Setahun kemudian ayah Cindy meninggal membuat dia terpukul dan harus berpikir menjalani hidupnya kedepan bersama ibu dan adik-adiknya apalagi ibunya sakit parah karena kesedihan yang berkepanjangan membuat penyakit-penyakit muncul dalam tubuh ibunya. Sekarang Cindy fokus membuat kue demi menghasilkan uang bagi keluarganya dia berhenti dari sekolahnya dan memilih meneruskan usaha keluarga. Hari itu cuaca sangat baik sekali bagi anak-anak yang mau kesekolah, orang-orang yang berpergian ke tempat kerja dan adik Cindy yang menjaga ruko sembari menunggu Cindy mengantarkan sebagian kue yang dibuat dari rumah ke ruko. Tiba-tiba ada suara dari jauh makin mendekat menyapa selamat pagi dek”, sapa seorang pemuda bernama Andi pada adik Cindy bernama Dinda yang saat itu menjaga kios kue. “Iya pagi kak,ada perlu apa yah”, sahut Dinda “adik pemilik ruko kue ini?” Tanya Andi pada Dinda,”iya benar kak ini ruko milik keluarga kami”, jawab Dinda, “begini ada salah satu karyawan perusahaan kakak yang suka membeli kue di sini dan kakak pernah mencobanya,kuenya enak sekali maka kakak ingin menawarkan pada adik” (belum lama berbicara Cindy datang) “Kak ini ada yang perlu kakak”, kata Dinda “Siapa Din?” tanya Cindy “Tuh orangnya kakak yang layani deh biar kakak yang lebih tahu”. “Pagi mba,mba pemilik ruko kue ini?”, tanya Andy pemuda yang sedari tadi berbicara dengan Dinda, “Iya benar,emangnya ada apa yah?” Cindy menjawab dengan wajah penasaran, “perkenalkan nama aku Andi, sambil menyodorkan tangannya, Cindy juga menyodorkan tangannya dan berkat, ”nama aku Cindy”. ”Enggak mba jadi gini aku sudah beberapa hari ini ngerasa ada yang berbeda dari kue-kue yang disajikan di kantorku waktu aku tanya sama OB-ku dimana mereka membeli dan mereka bilang kuenya dari rukonya mba yang di beli dan rasanya enak banget jadi aku mau nawarin mba gimana kalau kita bekerja sama jadi mba menyediakan sarapan kue-kue dari ruko ini ke kantorku setiap hari bagaimana?”, tawar Andy kepada Cindy. Cindy terharu sampai air mata keluar dari matanya dan dia menjawab Andy, “saya menerima tawarannya terima kasih banyak atas kebaikan hati bapak”,”nggak usah panggil bapak panggil Andy saja”,”eh…iya terima kasih Andy”.

***

Akhir yang bahagia, Cindy mampu bekerja menyediakan sarapan kue setiap pagi ke kantor Andy dan Cindy bisa membantu biaya berobat ibunya serta menyekolahkan ke-6 adiknya. Setiap Sabtu dan Minggu ruko kuenya tutup dan biasanya Cindy menikmati hari liburnya itu di halaman rumahnya. Ibu yang melihat Cindy duduk di belakang halaman rumah mereka, datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya serta berkata “Cindy ibu bangga sekali melihat apa yang sudah kamu lakukan kesalahanmu di masa lalu telah mengubahmu menjadi anak yang bertanggung jawab itu semua berkat nasihat keras dari almarhum bapamu, pasti bapamu di Surga sana tersenyum melihat kerja keras-mu, nak”, “ibu ini memang sudah menjadi tanggung-jawab Cindy sebagai anak dan sebagai kakak tertua yang harus mengurus ibu dan adik-adik, Cindy minta maaf karena selalu menyusahkan ibu dan bapa”, Cindy menunduk dan menendang-nendang rumput yang ada dibawah kursi tempat ia dan ibunya duduk, ibunya berkata lagi, ”kamu harus lanjutkan sekolahmu yah nak”, “tapi ibu aku kan sudah umuran tidak bisa masuk SMA lagi”,”kamu ikut ujian paket saja sayang nggak ada yang nggak mungkin selama kita mau berusaha seperti kamu membantu mengembangkan usaha keluarga ini, ibu yakin kamu pasti mampu menyelesaikan sekolahmu yang tertunda juga”,”baik bu”, “maafkan ibu karena kesakitan ibu membuatmu repot,”nggak papa bu Cindy sayang ibu dan adik-adik apapun akan ibu lakukan untuk keluarga kita," Cindy dan ibunya berhadapan lalu berpelukan.

Inilah kisah hidupku yang kubagikan bahwa kita harus siap sedia menghadapi hidup ini baik atau nggak baik tetep harus berusaha. Kepergian salah satu orang tua kita entah itu bapa atau ibu akan buat kita jadi orang yang lebih dewasa lagi. Jadi nggak boleh patah semangat yakinlah bahwa ada orang-orang yang setia dukung kita terlebih Tuhan. 💙


KARYA : APRIANI PASKALIN AYOMI

Friday, July 24, 2020

Cerpen, "Lima Kali Kucoba".


SHORT STORY
BERDASARKAN KISAH NYATA HIDUPKU
“LIMA KALI KUCOBA”




Lima tahun berlalu dengan cepat aku sudah sarjana rupanya. Berkuliah dengan tekun bersusah-susah selama lima tahun akhirnya saat yang kunantikan tiba juga, aku wisuda. Dan aku bahagia sekali karena dinobatkan sebagai mahasiswa dengan predikat cum laude pada bidang yang kutempuh yaitu pendidikan agama. “Selamat yah Dina, Ayah dan Ibu bangga sekali padamu” kata Ibu,”iya Dina tapi ingat tetap rendah hati” sambung Ayah. “Selamat adik bungsu kita” kedua kakakku yang ikut pada waktu aku yudisium dan wisuda memberi selamat padaku. Setelah kami sampai dirumah ayah dan ibu mengatakan bahwa tidak ada acara untuk wisudaku tapi akan ada ibadah keluarga dirumah sesuai jadwal ibadah dalam lingkungan gereja kami, jadi pengucapan syukur wisudaku disatukan dengan ibadah keluarga tersebut. “tidak apa-apa bu, yang penting aku boleh yah undang ketiga sahabat SMA-ku”, kataku,”tentu saja boleh sayang”, jawab ibu. Akhirnya semua kebahagiaan waktu aku yudisium dan wisuda segera berlalu seiring berjalannya waktu yang begitu cepat.
***
Dengan perjuangan keras setelah yudisium dan wisuda aku kembali ke kampusku dan bersama teman-teman lainnya kami mengecek ijasah kami dibagian Akademik. Meskipun kami agak kelelahan bulak-balik kampus untuk mengecek ijasah kami tapi akhirnya kami bisa memegangnya juga di hari terakhir pendaftaran CPNS 2018. Karena kami semua terburu-buru ingin mendaftar CPNS. “Kakak tolong kami, kami mau daftar CPNS hari ini ditutup pendaftarannya”, kata Denis, “iya kak tolong aku sudah isi semua persyaratan tinggal nomor seri ijasah”, timpal Ria. “Baik-baik tinggu sebentar yah sedikit lagi ibu wakil ketua bagian akademik menandatangani ijasah kalian baru boleh diambil”, kata kakak Roni yang bekerja di bagian Akademik kepada kami. “Teman-teman bagaimana kalau kita jalan-jalan ke toko Saga abe setelah itu baru kita balik lagi ke kampus”, ajak Fina, “boleh…boleh ayo nanti setelah ini kita pasti tidak sering bertemu lagi karena masing-masing pulang ke daerah asal”, seru Kezia, “oke deh kalau begitu” kataku, serempak teman-teman lain mengiyakan. Kelas kami hanya terdiri dari 12 orang jadi tidak banyak seperti teman-teman kami yang dijurusan lain sehingga kami terlihat kompak. Jalan-jalan pun sukses ada makan bakso bersama juga, lalu kami berjalan kaki kembali ke kampus dan akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Ijasah kami diberikan hampir jam 18:00 WIT. Dengan bergegas aku meminta tolong temanku Denis, “Den bantu aku mendaftar CPNS 2018 dong kamu kan sudah”, “tapi kamu ada internet tidak? Di rumah”, tanya Denis, “tentu saja aku ada kami pasang Wi-Fi, ada laptopku dan semua persyaratan CPNS siap sedia, hanya ini pertama kali untukku dan aku masih bingung”, kataku. “Oke nanti aku bantuin”, kata Denis. Teman-teman yang lain sudah pada pulang dan aku mengajak Denis “ayo kita ke rumahku sekarang nanti pendaftarannya keburu tutup”, cetusku. Akhirnya malam itu dengan hujan, kilat dan guntur aku mengurus semua persyaratanku dan namaku terdaftar dalam seleksi CPNS 2018, aku berterima kasih kepada temanku Denis yang sudah membantuku. Karena kehujanan dan rumahnya jauh di Polimak temanku Denis berpamitan pulang. Setelah hari itu aku berdoa dengan tekun menanti hasil tes, hingga saat yang dinantikan tiba. Aku berdoa dan membuka laptopku, sangat disayangkan melihat hasil tesku. “Ayah, Ibu aku tidak lolos” dengan setengah suara aku menyahut dari kamar tidurku memberi tahu ayah dan ibuku. “tidak apa-apa jangan patah semangat coba lagi yang lain” kata ayah menyemangatiku, “iya benar masih banyak tempat lain yang menunggumu mendaftar pekerjaan” sambung ibu. Dengan kecewa aku mematikan laptopku dan tidak mengambil bagian dalam makan malam tetapi langsung tidur. Ayah, ibu seandainya kalian tahu betapa aku berjuang gigih demi membanggakan hati kalian karena telah memiliki aku sebagai anak kalian yang berguna dalam keluarga.
***
Hari-hari berlalu aku menjalani aktivitas yang menurutku sangat membosankan yaitu membantu ibuku mengerjakan pekerjaan sehari-hari dirumah. Setelah membantu ibu memasak aku berusaha membuka internet di akun Facebook dan Instagramku, aku berusaha mencari pekerjaan lagi. Kutemukan satu akun menulis dibutuhkan customer service di salah satu tempat kursus bahasa Inggris, “mau coba ah”, “coba apan” sapa kakak sepupuku yang dari tadi sudah ada di depan pintu kamarku dan memerhatikanku mengotak atik handphoneku, “eh kak Kia sudah datang dari tadi?” tanyaku, “baru saja nih”, “kak temenin aku urusin lamaran kerjaan di Entrop”,”boleh…boleh kapan?” tanya kak Kia,”sekaranglah kak masa 20 tahun lagi kan ketuaan”, candaku, “hahahaha…” serempak kami tertawa. Dengan semangat aku dan kakak sepupuku mengurus lamaran kerja hari itu juga selepas makan siang bersama lamaranku aku berikan kepada ayahku untuk didoakan. “semoga berhasil, nak” kata ayah, “terima kasih ayah”. Sesudah berpamitan, aku dan kakak sepupuku mengantarnya ke tempat kursus tersebut yang terletak di Entrop. Sayang dan sangat disayangkan sesampainya disana aku ditolak karena posisi yang mau kulamar sudah ada yang menempatinya. Lamaran keduaku ditolak, tetapi ayah dan ibuku terus menyemangatiku dengan berbagai kata-kata bijak. Aku harus bisa move on sekarang dan mencari pekerjaan lain. Kebetulan saja ada lowongan di salah satu organisasi keagamaan yang berada di Jerman karena mereka bekerja sama dengan gereja tempat aku beribadah. Lamaranku aku kirim lewat e-mail karena aku punya basic English yang bagus karena pernah mengikuti kursus bahasa Inggris di Australia salah satu program yang kakak-kakakku ikut juga sewaktu mereka kuliah, jadi aku optimis bakalan lolos. Seperti biasa kamaranku, aku berikan ke ayahku untuk didoakan dan setelah itu baru aku kirimkan lamaran tersebut melalui e-mail. Hampir sebulan aku menanti dengan harap dan cemas, tiap selesai melakukan aktivitas di dalam rumah aku mengecek e-mail masuk di laptopku. Akhirnya jawaban datang e-mail baru di kotak masuk. “Wuhuuuuhhuu…akhirnya aku diterima” ucapku bahagia, “anak ibu diterima”, sahut ibu dari luar kamar yang mendengarku bergembira mendapat e-mail.”Huffftthh…lagi-lagi kejadian” kataku dengan air mata dipipi sambil melihat isi e-mail tersebut yang bertuliskan sorry we already chose another person to take the position that you would like to apply for. Ibu yang dari tadi mendengarku bersorak dikamar lalu tiba-tiba suasana menjadi hening, ia penasaran dan mengetuk pintu kamarku tapi aku tidak menghiraukannya, ibuku terdiam di depan pintu kamarku karena ia tahu bahwa lagi-lagi aku tidak diterima kerja.
***
Keesokan harinya pagi-pagi, aku menemani ibu ke pasar karena belanjaan kami sudah banyak aku memutuskan untuk menunggu ibu dipintu pagar keluar dari pasar. “Hei Dina”, sapa seseorang dibelakangku yang mengagetkan aku yang sedang duduk bengong menunggu ibu. “oh…hai Lisa”, sapaku, “lama sekali kita tidak berjumpa”, kami berdua berjabat tangan dan berpelukkan. Tak bisa kujelaskan dengan kata-kata Lisa teman SMA-ku dulu dia sudah secantik ini, dulu rambutnya pendek sekarang rambutnya panjang, ia memakai make-up dan tentu saja apa yang ia kenakkan? Pakaian dinas. Hebat sekali dia, tidak seperti diriku yang sekolahnya dapat predikat cum-laude tapi tidak ada guna sama sekali di dunia mencari pekerjaan dan bekerja. “Kamu dengan siapa ke pasar?” tanya Lisa mengagetkanku dari lamunanku yang mengharapkan bisa menjadi seperti dirinya, “dengan ibu, ibu lagi belanja ayam di dalam karena barang bawaan kami banyak aku milih duduk dipintu keluar pasar, kamu sendiri ngapain ke pasar dengan pakaian rapih gitu”,”oh ini aku mau belanja buah-buahan anakku sakit karena suamiku yang jaga di rumah sakit maka aku mutusin buat ke pasar beliin buah buat dia kata dokter buah bagus untuk kesehatannya”,”semoga cepat sembuh yah anakmu”,”terima kasih untuk dukungannya, oh iya kamu sekarang kerja dimana”, “tidak usah bertanya tentang pekerjaan deh, kalau yang punya kantoran itu keluargaku pasti aku diterima”,”jangan patah semangat mulai dari yang kecil aja sebagai honorer siapa tahu kalau ada pengangkatan kamu diangkat juga”,”iya ntar aku coba”,”atau antarkan saja lamaranmu ke restoran atau café dan lain-lain”, “terima kasih untuk saran dan jalan keluarnya”. “Dina ayo kita pulang” panggil ibuku dari jalan sebelah, “oke bu sebentar” balasku. “Lisa aku pamit dulu ibuku sudah panggil-panggil”,”oke sampai nanti yah”, aku dan Lisa berpisah disitu, aku pulang bersama ibu naik taksi dan Lisa berjalan masuk ke pasar ke tempat jualan buah segar. Dalam perjalanan pulang di taksi ada yang meninggalkan selebaran dari toko Pizza yang baru dibuka dan membutuhkan tenaga kerja tanpa berpikir panjang aku mengambil selebaran tersebut dan menyimpannya disaku. Sesampainya dirumah aku meletakkan semua barang belanjaan dan aku mencoba saran Lisa, lamaranku kuantarkan ke toko Pizza. Setelah  lamarannya diterima dan dibaca oleh bosnya, aku ditelepon oleh mereka dan aku kembali lagi ke toko Pizza tersebut keesokan harinya. Semuanya oke, aku diinterview, setelah interview hasilnya aku terima saat itu juga bahwa aku ditolak bekerja di toko tersebut dengan alasan karena pendidikanku tinggi dengan nilai akademik yang bagus tidak layak bagiku untuk bekerja di toko. Untuk keempat kalinya aku ditolak bekerja, dengan alasan yang menurutku tidak masuk akal. Aku hanya butuh pekerjaan dan nilaiku tak ku pedulikan selama aku bisa memberi uang untuk kedua orangtuaku, terlebih ayahku yang sebentar lagi pensiun dengan begitu hatiku puas. Akhirnya suatu hari aku diberitahu kakakku yang sudah bekerja sebagai guru bahwa ada lamaran menjadi honorer di kantor kementerian dan aku tertarik mendaftar walau aku tahu lagi-lagi akan ditolak tapi optimisme tetap ada dalam diriku karena semangat yang berasal dari ayah dan ibu.
***
Sementara aku dalam tahap mengurus lamaran untuk menjadi honorer kontrakan selama setahun di kantor kementerian tersebut. Ayahku menerima surat dan piagam pensiun dari kampus tempat ia mengabdi, di depan seluruh mahasiswa-mahasiswa yang ia didik ia berpamitan dan berterima kasih untuk kesempatan yang diberikan baginya menjadi tenaga dosen. Tak lama setelah menerima surat dan piagam itu ayahku jatuh sakit, dan sakitnya sebenarnya sudah lama namun ia menahannya sampai kali ini benar-benar parah sehingga aku dan ibuku menemani ayahku untuk berobat ke Jakarta. Akhirnya kesampaian juga aku ke Jakarta yang menurut cerita kedua orangtuaku aku lahir di kota tersebut sewaktu ayahku berkuliah menyelesaikan masternya disana. Kami kesana bukan untuk mengenang masa indah tersebut, bukan untuk kuliah lanjut seperti impianku yang ingin mendapat beasiswa setelah lulus atau mendapatkan pekerjaan agar bisa menolong keluargaku yang saat ini ayahku telah pensiun dan aku mati-matian ingin membahagian kedua orangtuaku dengan memberikan uang hasil keringatku, melainkan aku menemani ayah dan ibuku ke Jakarta untuk berobat ayah disana karena di tempat kami tinggal di Papua sekalipun di perkotaan Jayapura namun masih kekurangan dalam peralatan medis dan dokter-dokter yang baik yang bisa menangani sakit ayahku sehingga kami pergi kesana. Aku berpikir bahwa hampir sebulan kami disana dan ayahku telah mendapatkan penanganan medis terbaik dengan disedotnya cairan di paru-parunya serta dokter sudah memberi resep obat kami bisa pulang ke Papua dengan kesembuhan ayah. Tetapi ternyata harapanku sia-sia, aku harus menerima kenyataan yang menyakitkan bahwa ayahku meninggal. Disaat aku masih membutuhkannya karena banyak hal yang ingin kugapai terutama melanjutkan kuliah di Jakarta, mencari pekerjaan dimana-mana sampai hampir saja aku menjadi gila karena aku ingin memberikan uang hasil keringatku di tangannya, disaat itu dia harus meninggalkan kami berenam, ibu dan kami berlima anak-anaknya serta keempat cucunya. Memang ayahku adalah orang yang kuat pendiriannya, ia disiplin, berpendidikan tinggi walaupun dulunya ia dan kakek kami di kampung hanyalah nelayan namun keinginannya yang tinggi ia meninggalkan Serui kota kelahirannya dan menggeluti hidup yang sulit di pusat kota yaitu Jayapura. Tanpa bantuan siapapun dengan mencari ikan dan menjual ikan serta belajar dengan tekun, otaknya yang jenius itu membuat ia disekolahkan dan diangkat sebagai dosen. Seluruh mahasiswa binaannya hadir dalam upacara pemakamannya di kuburan tanah hitam Abepura. Aku belum bisa menerima kenyataan hidup ini, sebenarnya aku menyesal dengan kepergiannya yang teramat sangatlah cepat. Ketika dia pergi barulah lamaran pekerjaanku diterima di kantor kementerian setelah empat kali aku mencoba dan gagal akhirnya kali kelima aku berhasil diterima kerja dengan semangat yang selama ini kudapat darinya dan ibu. Namun bagiku, apalah arti aku bekerja di kantor tersebut bila orang yang ingin kubahagiakan dengan hasil keringatku ia telah pergi meninggalkan aku. Aku tersadar satu pesan yang sempat ayah ucapkan saat kami di Jakarta, ia berpesan “jangan lupa ibu kalau ada uang kamu harus berikan ke ibu”, waktu itu aku pikir perkataan ayah hanya perkataan biasa yang tapi ternyata itu adalah amanat, tugas yang harus kupegang dan laksanakan bersama keempat saudaraku yang lain setelah kepergiannya. Kami harus mengurus ibu, memberikannya uang jika kami punya kelebihan. Terima kasih untuk segala kebaikanmu ayah, engkaulah alasan kegigihanku mencari pekerjaan walaupun kali kelima baru aku diterima kerja, waktu mungkin berkata terlambat untukku membahagiakanmu.  Tapi aku mengucap syukur kepada TUHAN karena menganugerahiku ayah sepertimu dan 23 tahun hidupku, kuhabiskan bersamamu ayah, bersamamu ibu, bersama kalian keluargaku yang selalu ada untukku dalam naik turunnya putaran roda hidup ini. TUHAN besertamu diseberang sana ayah…kami mengasihimu.







KARYA :
APRIANI PASKALIN AYOMI

Puisi "Matahari".




























Thursday, July 23, 2020

Cerpen, "High School Competition Who's The Best?".


SHORT STORY
HIGH SCHOOL COMPETITION
WHO’S  THE  BEST? 

Looking so hot down in hollywood you know they got,got the good, so let’s give it up for those L.A boys, ridin’ the waves up in Malibu they really get,get the good so let’s give it up for those L.A boys...give it up,give it up (you don’t have no choice,give it up,give it up for the L.A boys)...(Victoria Justice Ft Ariana Grande_L.A boys).

           

    
Begitulah terdengar suara musik pagi itu di dalam kamar tidurnya Melisa, dia sangat fans sama penyanyi perempuan satu ini yaitu Victoria Justice yang adalah satu artis hollywood terkenal yang bermain dalam serial film Victorious bersama Ariana Grande dan Avan Jogia. Semua poster,buku lirik lagu bahkan handphone-nya berisi lagu-lagu Victoria Justice. Hari itu Melisa ke sekolahnya yang tak terlalu jauh dari rumahnya,Melisa sekarang duduk di kelas XII jurusan Bahasa di SMA N.1 Jayapura.

***
“Tet...tet...tet” suara bel sekolah telah berbunyi memanggil seluruh siswa-siswi untuk segera masuk ke dalam kelas mereka untuk proses belajar-mengajar segera di mulai. “Hai Melisa kamu kelihatan ceria sekali hari ini” sapaan lembut dari sahabatnya Tina membuatnya segera melepaskan earphone dari telinganya. “Lagi dengerin lagu apa sih,pasti Victoria Justice lagi nih”, tanya sahabatnya Tina kepadanya. “Iya dong kok kamu tahu aja sih kalau aku dengerin lagunya Victoria Justice”,”Hello aku ini sahabat kamu yah tentu aku tahu dong artis siapa yang kamu idolaiin bahkan apapun yang kamu suka dan lakukan aku tahu kali kita kan selalu sama-sama”. “Oh yup bener banget sorry aku lupa”,jawab Melisa dengan senyuman khas diwajahnya.
                    
                                                                         Tak lama mereka mengobrol guru mereka langsung masuk “Good Morning students,today our material is very fun because I want you guys to sing a song from your favorite singers who’s your favorite singer? Semua anak-anak heboh ada yang Britney Spears,Green Day,Celinedion,Oasis,Red Hot Chili Peppers dan masih banyak lagi.”Ok quiet please” seru Sir Doni mengisyaratkan supaya siswanya bisa tenang dan pelajaran bisa dilanjutkan. Sir Doni adalah guru yang menyenangkan di sela-sela materi pelajaran ia menambahkan sesuatu yang berbeda dalam kelasnya seperti bernyanyi lagu bahasa Inggris maupun bermain permaianan dengan menggunakan kalimat bahasa Inggris.”Alright all of you can write the songs of your favorite singers in the whiteboard and then you can sing it infront of the class ok,are you ready (begitulah guru Bahasa Inggris mereka suka ceplas-ceplos dan to the point) “Ready sir” jawab para siswa-siswi dengan sangat bersemangat. “Hmmhh aku tahu pasti kamu bakalan nyanyiin lagunya Victoria Justice kan”,tanya Tina kepada Melisa. “Iya dong kamu kan udah tahu apa yang aku suka jadi nggak usah nanya lagi,aku bakalan jadi yang pertama nyanyi di depan kelas karena aku emang suka nyanyi”,mereka berdua saling menatap dan tertawa.”Hello Melisa and Tina are you guys ready to sing?”,tanya guru mereka,”I always ready sir” jawab Melisa. “Ok do it now”. Melisa langsung bergerak ke depan dan menulis lirik lagu Victoria Justice yang berjudul You’re The Reason Why dan menyanyikannya You might be crazy have i told you lately that i love you you’re the only reason that i’m not afraid to fly and it’s crazy that someone could change me now no matter what it is i have to do,i’m not afraid to try and you need to know that you’re the reason why. Begitulah sepenggal lirik bagian reef yang dinyanyikan oleh Melisa membuat banyak yang terkejut ternyata selama ini dibalik dia pendiam,hanya memiliki satu sahabat tapi juga pintar berbahasa Inggris dan beberapa pelajaran lainnya ternyata dia memliki bakat juga. “Wow amazing aku nggak nyangka Melisa bisa nyanyi lagu seindah itu dengan suaranya yang merdu,”,”Bener banget baru kali ini kita denger Melisa nyanyi di depan”, Rio dan Chandra sedang ngobrol tentang pertunjukkan memukau yang baru saja mereka nonton.Tapi ada juga yang tidak menyukai Melisa yaitu Andien siswi pindahan SMA Diaspora karena dia tahu kemampuannya dalam bernyanyi lebih bagus daripada Melisa apalagi artis favoritnya berada jauhlah di atas Melisa siapa lagi kalau bukan Britney Spears.”Aku bisa ngalahin si Melisa itu emang dia pikir cuma dia saja yang bisa nyanyi’,”emangnya kamu bisa Andien? (ejekan teman sebangkunya Vira membuatnya semakin mendidih).Akhirnya  satu persatu teman-teman Melisa juga menyanyi di depan dan yang terakhir adalah Andien,dia menyanyikan lagunya Britney Spears yang berjudul Sometimes dengan gaya khasnya setiap nyanyi lagu ini di kamarnya.”Wah Andien juga keren yah sekarang kita punya 2 orang penyanyi di kelas yang keren dan cantik pula”,”itu sudah pasti Rio”,(Rio dan Chandra terus tercengang-cengang) dan akhirnya bel berbunyi menandakan pelajaran Bahasa Inggris segera berakhir. “Everyone please clap your hands for Andien she’s a great singer today and I was forget Melisa too, (tak-tak-tak-tak,suara tepukan tangan yang membuat Melisa dan Andien menjadi senang) see you next week,bye bye”,Sir Doni menutup pelajaran pagi itu sebab mereka masih mempunyai dua jadwal pelajaran lagi selain Bahasa Inggris. Kebetulan ada lomba bernyanyi yang di adakan di sekolah Tina menyarankan Melisa untuk ikut lomba tersebut Tina jagonya bukan bidang musik yang nyanyi-nyanyi namun Melisa sahabatnya  tidak terlalu terobsesi untuk memenangkan lomba mewakili SMA mereka. “Eh Melisa ternyata kamu nggak sebagus-bagus aku yah,”loh Andien apa maksudnya?,”aku tantang kamu siapa yang terbaik yang lolos untuk mewakili sekolah kita aku atau kamu,”aku tak pernah berharap bisa memenangkannya aku hanya menganggap menyanyi adalah seni dan talenta yang aku kembangkan aku nggak mau terlalu sombong”,”ohh jadi kamu kira aku ini sombong begitu”. Tiba-tiba guru bahasa Indonesia masuk,sontak saja Andien kaget dan kembali ke tempat duduknya.“Selamat pagi anak-anak pagi ini kita akan belajar menulis puisi,dan dari puisi-puisi ini ibu akan memilih satu puisi yang paling terbaik untuk ibu ikut sertakan dalam lomba menulis puisi tingkat nasional”.”Puisi tingkat nasional mau banget itu kan impian-ku”,kata Tina pada Melisa “Bener banget kayaknya kamu harus nulis karangan puisi terbaik supaya kamu bisa mewakili sekolah kita ke Jakarta. “Sekarang ibu bagikan kertasnya dan segera kerjakan seperti contoh dari materi minggu lalu yang sudah ibu ajarkan”,pinta ibu Grace. Setelah semua puisi selesai di buat mereka satu per satu maju ke depan untuk membacakannya dan tiba giliran Tina untuk maju dia agak gugup tapi karena dorongan dan semangat dari Melisa akhirnya Tina berani maju saat Tina membaca puisinya suara anak-anak dalam kelas menjadi hening. Ibu guru Grace dan teman-teman Tina benar-benar menikmati dan terhanyut dalam puisi yang dibawakannya berjudul "Matahari"




 Segera setelah Tina menyelesaikan puisinya ibu Grace tidak tahan ingin memberitahukan bahwa puisi terbaik yang akan diiukut sertakan dalam lomba puisi tingkat nasional adalah puisi hasil karya dari Tina. “A...apa puisi aku diterima ibu Grace untuk pergi ikutin lomba di Jakarta”,”benar sekali Melisa di Jakarta kamu akan bertemu teman-teman dari berbagai daerah yang telah terpilih dari SMA masing-masing agar mengikuti kompetisi lagi. Maka persiapkan dirimu sebaik mungkin “ jelas Ibu Grace”baik ibu terima kasih banyak” seru Melisa penuh semangat ia kembali ke kursi duduknya sambil menggeleng kepala tak percaya. “aku mewakili sekolah? Seru Melisa dengan suara pelan” sahabatnya langsung mengagetkannya “Iya bener kamu mewakili sekolah kita,aku sebagai sahabat-mu bangga sekali atas kerja keras-mu Tin” kata Melisa pada Tina (mereka berpelukan). “Baik anak-anak materi pelajaran kita tentang puisi hari ini berakhir jangan berkecil hati karena tidak terpilih tetaplah belajar dengan segiat-giatnya yah,ibu permisi selamat siang” Ibu Grace menutup pelajaran bahasa Indonesia. Teeett…teeet… (bel berbunyi)  waktunya ke kantin mengisi perut yang keroncongan. “Ayo Tin kita ke kantin”,”bentar yah aku ambil uang dalam tas dulu,kata Tina. “Eh penyanyi professional dan menajernya mau ke kantin yah kirain makan di resto mahal ternyata sama dengan kita di kantin sekolahan”,ejek Andien,”udah Mel nggak usah diladenin ayo kita pergi dari sini, (mereka berdua langsung menuju kantin dan memesan dua mangkok mi rebus dan 2 es teh). Sambil menunggu pesanan mereka datang mereka berdua ngobrol, “Mel aku nggak ngerti maksudnya si anak baru di kelas kita apa sih,”yah itu aku juga nggak tahu yang aku tahu aku hanya menyalurkan bakatku di menyanyi kalau dia juga bisa menyanyi yah udah bersaing sehat aja  kan,”bener banget harusnya positif thinking-lah masa udah SMA kelas 3 masih aja bertengkar hal-hal nggak penting,”bener banget”,sambung Melisa. “Non berdua ini pesanannya selamat menikmati ingat yah untuk non berdua nggak usah piringnya diantar ke bang joko taruh aja di meja”,”loh bang kan yang lain habis makan kembaliin” sahut Melisa. “iya bener tapi mereka itu nggak tahu diri makan angkat kaki ceritanya juga besar sampe se-RT dengerin”,”hahahaha (Tina dan Melisa tertawa) ok deh bang makasih”,”sama-sama non permisi bang layani meja yang lain lagi”,”ok bang (jawab mereka berdua kompak). Bel berbunyi tak terasa ini adalah pelajaran terakhir yang akan mereka pelajari hari ini yaitu pelajaran kesenian. Di pelajaran kesenian ini ada di bagi kesenian melukis dan bernyanyi,Tina mengikuti kesenian melukis sedangkan Melisa mengikuti kesenian menyanyi jadi mereka berada di kelas yang berbeda sekarang  di kelas menyanyi ibu guru Sonia ingin menyeleksi siswa atau siswi yang pandai bernyanyi untuk mengikuti lomba menyanyi antar sekolah-sekolah dalam hal ini SMA se-Papua dan Papua Barat karena ibu Sonia diberi tanggung-jawab oleh sekolah lombanya juga berhadia uang sebesar sepuluh juta rupiah dan piala.Melisa sangat senang sekali sebab inilah impiannya selama ini bernyanyi di depan banyak penonton seperti idolanya Victoria Justice di sisi lain ada Andien yang memperhatikannya dari jauh dengan mata yang tajam seperti segera ingin menyingkirkannya. Ibu Sonia lalu berkata”ok anak-anak silahkan pilih lagu-lagu yang kalian suka dan bernyanyilah di depan kelas sebab ibu akan menilainya dan siapa yang bagus ibu akan memilihnya mengikuti lomba level tinggi antar sekolah-sekolah yang ada di provinsi Papua dan Papua Barat”. Seperti biasa lagu andalannya Melisa adalah Victoria Justice,semua teman-temannya sudah maju dan sekarang tiba saatnya Melisa bernyanyi di depan kelas “ i wanna taste the sun cause baby i’m born to run i gotta feeling that i’m not the only one i.i wanna show some skin yeah...baby i need the ocean and you can’t stop me now i’ve got my heart in motion i want to make it in america,make it in america”

.Lagunya Victoria Justice-Make It In America membuat ibu Sonia terkagum-kagum ingin mendengar Melisa menyanyikan lagu itu terus dan tak ada komentar apapun yang dilontarkan kepadanya selanjutnya giliran Andien karena ia siswa baru maka namanya tercatat paling terakhir di buku absen. Ketika melangkah maju Andien  sengaja menendang kaki Melisa yang hendak duduk di kursinya sehingga hampir saja Melisa jatuh namun ada temannya Eko yang menahan tangannya.”Oh sorry sorry I did’t see you”, kata Andien dengan santai lalu jalan ke depan kelas dan mulai bernyanyi lagu dari artis favoritnya juga Britney Spears judulnya Lucky. Dan ibu Sonia di buat semakin bingung karena sekarang dia memiliki 2 orang gadis cantik yang harus dipilihnya mengikuti lomba menyanyi antar sekolah. “Ok anak-anak besok pengumuman akan ditempel di depan ruang guru ibu menempelkan 3 terbaik dari kelas ini yang tadi ibu nilai tapi jangan senang dulu karena kalian harus bernyanyi sekali lagi di depan dewan guru dan hasilnya 1 saja yang keluar mewakili sekolah,mengerti?...”mengerti bu guru” jawab anak-anak sekelas.

***
Keesokan harinya nama-nama mereka ditempel Melisa takut melihatnya maka Tina mewakilinya melihat. “Kamu berhasil sahabatku ada namamu nomor 1,nomor  2 Andien of course dan nomor 3 Eko apa aku bilang sahabatku memang jago nyanyi,”kamu bisa saja tapi kita masih harus menyanyi lagi di depan guru-guru dan guru-guru akan melihat siapa yang pantas mewakili sekolah”,”iya sih tadi aku baca besok kalian nyanyi setelah semua jam pelajaran selesai tapi besok aku juga ikut lomba puisi gimana nih?,”kamu udah buat puisinya?”,”loohh kan katanya tinggal tunggu berangkat saja,”enggak aku harus terus berlatih bersama ibu Grace agar penampilannya nanti tidak kaku ini aku mau buat puisinya hanya saja aku kekurangan ide”,”oh aku kira kompetisi beneran kalau hanya latihan saja berarti kamu ada waktu buat lihat aku besok siang nyanyi dan aku juga bakal bantuin kamu, aku tahu tempat yang bagus buat tulis puisi nanti sore aku jemput kamu terus kita pergi ke suatu tempat yang bisa ngasih banyak inspirasi buat kamu”,ok”. Melisa dan Tina ke kantin Andien yang berdiri tak jauh dari mereka di balik dinding mendengar percakapan mereka dan dia punya rencana untuk menghancurkan mereka. Sore pun tiba Andien dan rombongannya ada Vira dan dayang-dayang baruya dari kelas lain yang ikut bergabung Jessica mengikuti Tina dan Melisa dengan mobil. Ternyata tempat yang Melisa maksudkan adalah pantai dok II depan kantor Gubernur. “Kenapa kita ke sini?” Tanya Tina kepada Melisa. “Aku punya alasan ketika kamu duduk di sini kamu akan dapat banyak inspirasi bisa saja kamu menulis puisi tentang pedagang yang sedang berjualan di sini mencari nafkah atau sepasang kekasih yang menghabiskan waktu mereka duduk-duduk di sini atau kamu lihat ke sebelah sana ada kapal yang lewat banyak yang harus berpisah satu sama lain dengan sanak-saudaranya,kamu juga bisa lihat burung-burung di udara,ada Salib di tengah laut sana pokoknya banyak deh. “Wah kamu benar-benar brilliant di satu tempat ini saja aku bisa menghasilkan 5 puisi di tambah ada nelayan yang memancing,anak-anak kecil yang berenang semuanya menginspirasi”,”ok kalau begitu selamat menulis aku pesan makanan dan minuman di sana yah kamu mau apa?”,”bakso saja sama air mineral”ok”,”uangnya?,”udah aku yang traktir” jawab Melisa. Andien sudah melihat dari kejauhan ia langsung mengempeskan ban motor Melisa dan mereka pergi sambil bersenang hati. Melisa dan Tina tak menyadari hal itu setelah selesai membuat puisi dan makan mereka hendak pulang tapi apa yang terjadi ban motor Melisa kempes akhirnya mereka mendorongnya masuk ke ruko di APO kebetulan ada bengkel di situ jadi Melisa meminta mereka memperbaiki motornya karena ternyata ada bagian lain dari motornya yang dirusakkan juga oleh Andien.”Ya ampun Mel kita sudah di sini sampai jam 8 malam aku takut kita tidak bisa balik ke abe aku juga udah nyusahin kamu”,”udah tenang aja dan berdoa bentar lagi selesai dan kamu nggak boleh ngomong begitu kita ini sahabat dan sahabat harus selalu saling menolong” (senyuman kecil muncul di wajah Tina), tak lama kemudian motor Melisa pun jadi bisa jalan kembali tapi sayangnya uang mereka habis buat bayar perbaikan itu. “Maaf yah Tin aku udah buat kamu ngeluarin uang banyak besok aku ganti yah”,”tidak apa-apa Mel kamu udah baik sama aku ,ngasih bantuan yang berarti sekali buat aku,yuk kita pulang”. Melisa dan Tina langsung bergegas pulang ke rumah setelah sampai di rumah mereka diomelin oleh orangtua masing-masing karena pulangya larut malam jam 22:00.

***
“Ok anak-anak siang ini ibu minta kaian bersiap untuk bernyanyi di depan dewan guru”. Tina berlari-lari kebingungan mencari keberadaan Melisa. “Mel aku butuh bantuanmu ini darurat puisi-puisiku hilang dari tasku setelah jam pelajaran pak Doni aku cari-cari udah nggak ada”,”wah kayaknya ada yang sengaja kemarin motorku yang rusak sekarang puisimu hilang”,”habis sudah aku” Tina gelisah karena di saat bersamaan dia juga harus menunjukkan puisinya untuk ikut lomba. Melisa menyempatkan waktu membantu temannya mencari. “Ok anak-anak ayo kita mulai dengan seleksinya nomor 1 Melisa silahkan maju menyanyi” kata ibu Sonia,”Melisa tidak ada ibu dan aku yakin dia tidak akan datang”,”loh mengapa begitu Andien?”,”tak tahu juga ibu”,”baiklah daripada membuang waktu kelamaan kamu yang maju duluan saja Andien”. Andien merasa senang karena kelicikannya ia bisa menggeserkan Melisa,setelah Andien menyanyi Eko juga diberikan kesempatan bernyanyi. Ibu Sonia sangat menantikan kedatangan Melisa tetapi sia-sia saja Melisa tidak datang itu berarti dia akan di coret dari nama yang lolos untuk mewakili sekolah,(guru-guru yang lain juga sudah gelisah menunggu lama). Di samping itu Melisa dan Tina berusaha mencari puisi Tina di dalam semua kelas baik kelas X,XI maupun XII dan ternyata puisi itu ditemukan telah basah di injak oleh sepatu seorang teman mereka kelas XII IPS 2. “Kenapa kamu lakukan itu,itu sangat berarti buat aku”,kata Tina sambil menangis.”Ia kamu tidak tahu diri kenapa bisa melakukan hal itu”,”aku tidak punya masalah atau buat kesalahan sama kamu tapi kenapa kamu tega melakukan ini?” Tanya Tina. Melisa yang tidak terima langsung menendang kaki dari lelaki tinggi berbadan besar itu dan berkata “apa kamu punya bakat dan berusaha mewujudkan itu semuanya memang perlu perjuangan dan kalau ada yang melukaimu dalam mencapai impianmu bagaimana perasaanmu?”. “Maaf kalian berdua aku hanya melakukan perintah daaaAri… Andien”,”tapi kenapa Andien melakukan ini”,”karena dia tidak suka pada kalian berdua terutama kamu Melisa yang akan merebut posisinya mewakili sekolah dalam bernyanyi”,aa..apaa?” mulut Melisa menganga,”ok aku pergi dulu sekali lagi maaf aku akan mengeringkan puisi Tina di lapangan basket kebetulan cuacanya panas,”baiklah siapa namamu? Tanya Melisa,”aku Yanto”. Sambil menunggu puisi Tina kering dan siap untuk disalin ke kertas yang baru Tina menyuruh Melisa pergi ke ruangan guru untuk mengikuti perlombaan itu. “Aku tidak apa-apa Tin kalau dengan cara licik dia ingin menang biarkanlah dia melakukan itu”,”tapi…”,”sudahlah yang penting aku tetap bisa bernyanyi di mana saja dan kapan saja tanpa harus mengikuti lomba”,(Tina memeluk Melisa),”kamu adalah sahabat terbaik meninggalkan kompetisimu untuk menolong aku”,”that’s what friend supposed to do” mereka berdua tersenyum. Sekarang Tina sudah bisa menyalin puisinya dan memberikannya pada ibu Grace. Ibu Grace senang sekali melihat karya Tina dan langsung menyuruhnya mulai menghafal di rumah  menggunakan gerakan dan esoknya mempraktekkannya di depan ibu Grace. Si Andien yang telah merasa di udara berjalan layaknya seorang putri dilindungi dayang-dayangnya Vira dan Jessica masuk ke kelas sambil menyombongkan diri bahwa dia akan mewakili sekolah dalam perlombaan menyanyi. Bingung karena sudah tidak ada jam pelajaran di sekolah Melisa menuju kelas mengambil tas dan menunggu temannya yang bertemu ibu Grace namun tanpa di sadari Tina sudah kabur meninggalkan Melisa untuk bertemu dengan ibu Sonia meminta satu kesempatan untuk Melisa bernyanyi dan menunjukkan bukti bahwa Andien jahat telah menyuruh salah seorang anak jurusan IPS menginjak dan membasahi puisinya. Ibu Sonia tak menyangka perbuatan Andien apalagi buktinya telah nyata dengan hadirnya si Yanto. “Iya ibu, Andien itu jahat kemarin dia menyuruhku untuk memberitahunya cara merusakkan motor Melisa tapi juga mencuri puisi Tina supaya Melisa pergi membantu sahabatnya dan tidak mengikuti proses seleksi menyanyi,”jelas Yanto. “Tapi kenapa kamu membantu Andien?,” Tanya Ibu Sonia,”aku benar-benar butuh uang tambahan karena ibuku sakit dan ayah sementara mencari pekerjaan baru dengan tawaran Andien aku tak sadar telah menghancurkan impian dari Tina dan Melisa mereka berdua orang yang baik”. “Baiklah kalau begitu besok ibu akan berikan kesempatan kepada Melisa bernyanyi di lapangan sekolah”,”kenapa di lapangan sekolah bu?,”supaya anak-anak sekolah yang menentukan sendiri wakil sekolah kita siapa?”,”apa Andien juga ikut? Tanya Melisa,” dia dinilai oleh guru beberapa orang saja kalau kamu dinilai banyak orang,dari awal ibu lebih menyukaimu Melisa karena cara kamu bernyanyi dan sifat kamu yang rendah diri sebab itulah yang dibutuhkan seorang bintang terkenal seperti para artis yang kamu lihat diluar sana,”terima kasih banyak ibu” (Tina senang sekali usahanya berhasil,kali ini Tina dan Melisa kembali berpelukan)

***
“Sahabatku kamu harus bersiap-siap besok kamu akan bernyanyi di depan seluruh anak-anak sekolah”, seru Tina bergirang menuju Melisa dan memeluknya. “Oh iya Yanto terima kasih banyak atas bantuanmu”,kata Tina,”tak masalah selamat berjuang teman-teman”,kata Yanto yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua. “Menyanyi? Di depan banyak orang oh no?,”iya kata ibu Sonia supaya kamu bisa menunjukkan bahwa kamu atau Andien yang layak mewakili sekolah kita”,bagaimana dengan Eko?,”ibu bilang Eko musiknya terlalu metal dan suaranya masih perlu dilatih bagian nada-nada tinggi”,”tapi dia tetap bagus kok”,”iya emang bagus sih tapi kan sekolah yang milih”,”bener-bener,”kalau gitu aku temenin kamu ke rumah yah sekalian ingin lihat kamu latihan nyanyi”,”ok deh tapi telpon ibu kamu dulu”,”sip”. Di rumah Melisa giat berlatih namun juga ia gugup untuk tampil esok hari sahabatnya Tina selalu ada untuk memberikannya dukungan seperti yang telah ia lakukan pada Tina. Waktu berjalan begitu cepat akhirnya Andien dan Melisa dapat tampil dengan kemampuan mereka masing-masing. Niat liciknya Andien tetap ada ia sengaja membawa 2 gelas air putih salah satunya sudah ditaruh obat yang bikin perut sakit. Tapi ia lupa taruh di gelas yang mana sambil meyodorkan kepada Melisa “ini aku bawakan air kita kan gugup tapi tetap harus ada air di leher kita yang bisa menyegarkan”,”terima kasih Andien buat minumnya”,”’mereka berdua minum bersama-sama ketika dipanggil pertama ke atas panggung Andien merasa perutnya sakit akhirnya dia kena jeratnya sendiri karena tadi gelas yang ditaruh obat dia yang minum dia terus mondar-mandir ke toilet. “Biar tahu rasa dia tadi aku udah perhatikan gelas yang dia taruh obat makanya aku putar posisi gelasnya”,”apa?”,”kamu ini gimana sih Mel dia itu masih tetap jahat jangan kira dia akan baik sama kamu”,”terima kasih Tin kamu yang terbaik”,”sekarang tampilkan yang terbaik ok”,”ok”,(salam persahabatan dan mereka berpelukan sebelum Melisa ke panggung). Akhirnya Melisa berhasil menunjukkan yang terbaik di panggung kecil yang di buat di tengah lapangan sekolah bahwa dia yang pantas mewakili SMA N.1 Jayapura untuk mengikuti lomba bernyanyi tersebut. Banyak guru-guru mereka yang belum pernah mendengarnya bernyanyi karena yang mereka tahu Melisa siswa yang pandai namun pendiam di kelas.Setelah hari itu semua guru takkan melupakan bahwa ada bakat-bakat tersembunyi yang dimiliki para siswa asal menunjukkan dan mengikuti dengan kompetisi yang wajar  akan terlihat sisi baik dari  masing-masing orang. Dan yang terpenting apapun yang terjadi asah terus bakat yang ada pada kita. Siapa tahu bisa jadi the next Victoria Justice who knows? 😍 


                           KARYA : APRIANI PASKALIN AYOMI

Cerpen, "Kekuatan Doa".


SHORT STORY


"KEKUATAN DOA"

Doa adalah sebuah rangkaian kata-kata yang memiliki nuansa berbeda ketika kita mengucapkannya...yah benar! Karena hanya dengan doa-lah kita dapat berkomunikasi dan menjalin relasi yang kuat dengan Pencipta kita...


***
Hari itu hujan deras turun meliputi kota Jayapura aku dengan penuh keyakinan terus melangkahkan kaki berjalan ke sekolah tapi ada saja yang selalu menghambat aku untuk pergi ke sekolah.“Jessica sarapan pagi dulu sebelum ke sekolah kamu tidak mau kan kalau sampai banyak angin yang masuk ke dalam perut kamu dan kemudian kamu sakit dan tidak bisa ke sekolah”. Wajah-ku cemberut tetapi langsung saja aku berdoa lalu mengambil roti dan teh yang sudah dibuatkan ibu. “Jessica kalau sudah selesai belajar di sekolah langsung pulang yah jangan kemana-mana”. “Mmmhhhh ibu memang selalu begitu aku tak diijinkan kemana-mana selain sekolah dan rumah”. “Iya ibu bos pasti aku laksanakan.Pergi dulu yah bu aku sudah terlambat...Dah”. Aku segera bergegas ke sekolah sesampainya di sekolah aku merasa ada sesuatu yang lain.

***
“Teng-teng-teng”. Pelajaran segera di mulai ibu guru memasuki ruangan kelas dengan diikuti seorang siswi baru. “Good morning students we have a new student transfer from SMA N.2 Serui”. Kata ibu guru bahasa Inggris kami kepada kami semua yang ada dalam ruang kelas XII Bahasa SMA N.1 Jayapura aku tak terlalu memerhatikan ke depan karena pr bahasa Inggris-ku belum aku selesaikan. “Please introduce youself for everybody” kata ibu guru kepada siswa baru itu. “My name is Ike Sineri,i am from Serui (Waropen) and i live in kampkey thank you”. Singkat perkenalannya di depan kelas,banyak teman-teman-ku yang menyukainya mungkin karena dia terlalu cantik. “Ike can i get your mobile phone number” kata teman-ku Daniel kepadanya membuat kelas kami riuh dengan suara anak-anak yang menertawakan Daniel. “Ha-ha-ha Daniel mana mau dia pacar sama cowok berwajah pas-pasan seperti diri-mu” Kata Brian. “Everybody please calm down,Ike have a seat”,kata ibu guru padanya dan Ike pun duduk dengan aku karena tempat duduk di sebelah-ku kosong. “Hai perkenalkan nama-ku Ike” (sambil mengulurkan tangannya), Aku tak menghiraukan kata-katanya karena aku memangnya cuek agak membuatnya kecewa juga tapi apa boleh buat setiap anak baru memang harus diperlakukan seperti itu. Pelajaran pertama sukses terlewati tugas bahasa Inggris-ku telah dikumpulkan,pindah ke pelajaran berikutnya yaitu bahasa Jerman. Aku kurang menyukai bahasa Jerman mungkin karena kesulitan dalam kasus Nominativ,Genetiv,Dativ serta Akkusativ dan apalah itu “whatever i don’t think so” gumam-ku dalam hati. Sampai pelajaran bahasa Jerman selesai aku tak berbicara sedikitpun dengan Ike. “Teng-teng-teng” bel istirahat berbunyi aku langsung pergi ke kantin membeli makanan dan minuman kesukaan-ku yaitu nasi kuning dan pop-ice setelah itu aku pergi duduk di pojok kanan kantin sekolah sebab disitulah aku biasa duduk karena di-dindingnya ada jam  jadi aku sekalian bisa sesuaikan makan-minumnya sebelum bel berbunyi lagi. Ike hendak melangkahkan kakinya ke meja tempat aku duduk tapi aku langsung segera menyelesaikan makan-minumku dan segera pergi kembali ke kelas aku juga bingung mengapa aku terus menghindarinya,Ike menanyakan nama-ku pada teman-teman kelas yang ada di kantin sontak saja mereka menyebutkan nama lengkap-ku dan sifat serta kharakteristik-ku yang mereka ketahui kepada Ike. “Teng-teng-teng” bel masuk kelas telah berbunyi pelajaran terakhir kami adalah Agama kami semua siswa-siswi XII Bahasa SMA N.1 Jayapura mayoritas beragama Kristen Protestan jadi tidak perlu gabung dengan kelas lain. Pak guru Agama langsung masuk ke kelas. “Syalom anak-anak apa kabar kalian hari ini”,”baik pak guru” jawab semua siswa-siswi dan kami mulai menyanyikan beberapa lagu sekolah minggu setelah itu pak guru memulai pelajaran yang bertemakan perlindungan TUHAN Yesus kepada kita umat-Nya. Apa ada yang mengalami perlindungan dari TUHAN Yesus sepanjang minggu kemarin. “Ada pak guru minggu lalu aku hampir saja kecelakaan di depan toko sumber makmur aku tahu bahwa aku juga tidak berhati-hati namun TUHAN Yesus masih sayang kepada-ku maka aku ingin melayani Dia” kata Daniel. “Sungguh luar biasa perbuatan tangan TUHAN kita,anak-anak kita harus mengucap syukur karena teman kalian Daniel diberi kemurahan oleh TUHAN sehingga masih bisa ada sampai hari ini. Pelajaran siang itu membuat Ike tak banyak berkosentrasi ke depan aku mau bertanya apakah dia sedang dalam masalah namun aku memendam pertanyaan-ku ini.

***
Keesokan harinya Ike tidak masuk aku mulai merasa bersalah dan ingin segera mendatangi rumahnya untuk meminta maaf atas kelakuan-ku kemarin terhadap dirinya. Aku mengikuti pelajaran-pelajaran hari ini dengan baik sampai selesai setelah itu aku mulai melangkahkan kaki-ku menuju taksi dan pergi ke rumah Ike. “Tok-tok-tok Ike ini dengan teman-mu Jessica”, Pintu segera di buka oleh mama-nya. “Selamat siang tante,Ike-nya ada” tanyaku kepada mama-nya. “Oh...mari silahkan masuk Ikenya ada tunggu sebentar yah tante panggilkan”. Ike lalu menghampiriku yang saat itu sedang duduk di ruang tamu mereka. “Ada apa kamu kemari” sahutnya mengagetkan diriku yang sedang melamun “Ike aku minta maaf aku tidak bermaksud untuk tidak berteman dengan-mu ataupun tidak mau berbicara dengan-mu sifat dan kharakteristik-ku memang seperti ini adanya,aku orangnya cuek dan tak memperdulikan orang lain namun setelah melihat hari ini kamu tidak masuk sekolah aku khawatir, kata diri-ku dengan wajah menyesal. “Tidak apa-apa aku mengerti”,”lalu mengapa hari ini kamu tidak pergi ke sekolah,sambung-ku. “Aku sebenarnya sakit,ada batu ginjal yang menempel di dalam perut-ku sudah dua kali aku operasi di Serui namun tak berhasil itu yang membuat mama membawa-ku pindah ke Jayapura supaya aku dapat dioperasi disini karena katanya dokter-dokter disini memberikan pelayanan yang baik bukan hanya itu karena penyakit-ku ini membuang banyak biaya dan selalu menimbulkan pertengkaran antara bapa dan mama-ku membuat mereka berdua harus bercerai,bapa-ku tak mampu lagi membiayai operasi-ku (Ike langsung tertunduk dan menangis aku langsung merangkulnya) “kamu yang sabar Ike pasti ada maksud TUHAN dalam hidup-mu, kapan kamu akan mengikuti operasi selanjutnya di Jayapura?” tanyaku. “Besok hari Jumat pagi di R.S Bhayangkara”,”aku pasti akan datang setelah selesai pelajaran”. Kami berdua saling berpelukan dan aku mendoakannya di siang hari itu seperti kata kedua orangtua-ku ketika kita menyerahkan segala permohonan kita dalam doa dengan iman yang sungguh maka TUHAN pasti akan menjawabnya,kata-kata itu membuat aku meyakini dengan pasti bahwa operasi batu ginjal serta kedua orangtuanya Ike yang telah bercerai itu akan kembali bersatu lagi dalam rencana TUHAN yang selalu indah.

***
Keesokan harinya aku menghampiri Ike di rumah sakit dan di sana aku melihat pemandangan yang sungguh indah. Ada bapanya dan mamanya serta saudara-saudaranya mendampinginya sampai operasi itu selesai. Aku sungguh-sungguh berterima-kasih kepada TUHAN Yesus karena Ia telah menjawab doa-ku bersama Ike yang telah kami naikkan kepada-Nya. TUHAN Yesus baik kekuatan doa telah membuat sahabat baru-ku Ike menjalani operasi-nya dengan baik serta kedua orangtuanya telah kembali bersama lagi menjadi keluarga yang utuh di dalam kasih karunia Yesus Kristus.


Berdoalah karena mujizat selalu datang menghampiri orang-orang yang berharap dan percaya kepada TUHAN Yesus Kristus. 💗

KARYA : APRIANI PASKALIN AYOMI

Nostalgia "Dies Natalis Kampus"

       Ini aku dan kisah nyataku yang tersimpan rapih dalam memori ingatan yang sengaja kubuka kembali setelah sekian lama berhubung tahun i...