SHORT STORY
“DIA
PIKIR DIA SIAPA?”
Semua yang kulakukan
selama ini sepertinya tak membuahkan hasil apa-apa, putus-asa
tidak,pantang-menyerah pun tidak. Yah… di tengah-tengah kedua-duanyalah, aku
benar-benar membenci dia karena dia semua yang ku mau dan ingin kumiliki telah
sirna. Memangnya dia pikir dia siapa?.
“woiii Sinta orang
sudah pada mau rapat pemilihan ketua Osis baru kok kamu malah bengong
sih”,”ahhh sudahlah aku mau pergi dulu buang-buang waktu saja di sini nungguin
presiden dan para menteri nggak muncul-muncul juga”,”looh kamu tidak bisa
seenaknya saja pergi begitu suara kamu juga dibutuhkan kita kan termasuk
anggota Osis lama yang harus milih mereka yang baru”,”Osis apalah aku nggak
peduli pokoknya kamu sendiri tahu prinsipku kalau orang yang terlambat dan
membiarkanku menunggu berjam-jam akan aku tinggalkan”,”kamu tidak boleh egois
Sinta kita harus melihat kepentingan bersama di sini dan bukan kepentingan
pribadi”. Tiba-tiba saja ada orang yang menyebalkan yang mencela dan yang ingin
mencampuri urusanku dengan sahabatku Santi.”Kakak sudahlah tidak perlu
ribut-ribut di sini aku dan teman-teman kelas XI minta maaf karena tadi kami
memang ada jam pelajaran” (sambil menyodorkan tangannya meminta maaf, saat aku
tengok aduh… malas sekali harus berjabat-tangan dengan musuhku…iya dia itu
musuhku namanya Rein atau yah nama panjangnya Reinhard. Adik kelas yang SKSD
alias sok kenal sok dekat). “Hei…Sinta adik Rein sudah minta maaf tuh”,”yah
sudahlah dimaafkan lain kali kalau ada jam pelajaran tolong sms ke siapalah ke
kak Santi dan kakak-kakak yang lainnya”,(sambil berbicara dengan Rein aku malas
memperhatikan wajahnya apalagi berjabat tangan dengannya,mungkin karena risih
dia langsung menarik tangannya kembali). Kali ini rapat Osisnya cukup lama
karena kita benar-benar memilih dan memutuskan siapa yang pantas menjadi
pemimpin setahun kedepan yang peduli akan sekolah dan terutama siswa-siswi yang
ada di dalamnya, sekolah kami sekarang mengalami perubahan karena kepala
sekolahnya telah diganti makanya agak ketat juga sih peraturan sekolah SMA N.1
Jayapura yang terletak di lingkaran Abepura. “Sinta ayo maju ke depan dan catat
nama-nama yang dicalonkan”,pinta Ronal ketua Osis lama (yah kan sebentar lagi
sudah diganti jadi pantaslah aku memanggilnya ketua Osis lama),”sip
bos”,jawabku santai sembari mengambil spidol di meja.” Ok yang pertama
Reinhard,yang kedua Hani dan yang ketiga Tirsa”,(apa aku nggak salah dengar nih
Reinhard lagi Reinhard lagi wuhhh menyebalkan,posisiku sekarang menjadi
Sekretaris Osis otomatis dia harus satu level di bawah aku paling nggak
bendahara mungkin lebih pantas). Setelah semua nama dituliskan seluruh anggota
Osis lama dibagikan kertas dan menuliskan siapa yang hendak mereka pilih karena
ternyata dipertemuan sebelumnya mereka bertiga sudah memperlihatkan program
kerja mereka masing-masing termasuk motto,visi,misi dan kawan-kawannya kedepan
dalam masa jabatan mereka nanti, aku saja yang tidak hadir waktu itu kalau
tidak salah hari Jumat karena aku sakit. Semua kertas yang telah dibagikan oleh
sahabatku Santi telah dikumpulkan kembali dan di bawa ke meja depan tempat aku
berdiri dan Ronal yang sementara duduk di situ,aku juga di beri kertas tapi aku
malas memilih setelah dipaksa oleh Santi yah sudah aku pilih Tirsa saja.
Nama-nama di kertas satu persatu di buka dan di baca oleh Santi sambil menulis
aku merasa ada yang memperhatikanku begitu aku balik ke arahnya dia langsung
tertunduk,(dasar ternyata si Reinhard dari tadi memperhatikanku sekali aku
kedapatan lagi akan aku hajar dia). Dan hasilnya pun keluar Reinhard adalah
ketua Osis yang baru,malas sekali dia setingkat di atas aku (susah sekali
mengalahkannya,gumamku dalam hati) semua orang memberi salam padanya hanya aku
yang tidak mau dan buru-buru pergi dari situ dengan alasan ibu menelpon dan
minta diantarkan ke toko.”Aduh kayaknya aku harus pulang deh Santi soalnya ini
sudah jam 14:30 apalagi ibuku minta antar ke toko”,”what? Tante Anisa
siang-siang begini mau ke toko”,”yaiyalah Santi emang kebutuhan itu harus pada
jam-jam tertentu kalau terdesak yah harus dipenuhi segera bagaimana sih
kamu”,”oh iya-iya maaf maklum sudah siang jadinya LOLA”,”hehehehe” kami berdua
tertawa dan kemudian aku meninggalkannya dan pulang dengan motor maticku yang
berwarna biru,warna favoritku.
***
“Selamat pagi kak
Sinta boleh aku minta waktu sebentar? Tanya Reinhard (aduh makhluk ini kenapa
selalu menggangu kehidupanku aku kan sudah tidak mau berurusan dengan Osis aku
mau pensiuuuunn),”aduh kamu ada perlu apa sih mau sekarang atau nanti jam
istirahat soalnya kakak ada pelajaran Kimia dan gurunya yang kamu tahu suka
ngomel kalau masuk kelas terlambat”,”oh iya kalau begitu nanti istirahat saja
kak”,”ok kalau begitu”. Aku langsung meninggalkan dia tanpa memusingkan
kata-kata sampai nanti.” Sinta sinta
selalu saja terlambat”,”maaf bu aku tidak sengaja tadi aku di jalan
macet”,”kemarin macet hari ini macet besok lagi macet yah sudah kamu
duduk”,”makasih bu”. Mendengar penjelasan bu guru dengan wajahku yang geram dan
marah Santi jadi takut jangan-jangan dia jadi santapan siangku, begitu bu guru
Lisa keluar aku langsung memukul meja.”Kamu kenapa Sinta?”
,”gara-gara ketua
Osis baru sialan itu aku terlambat dan di tegur lagi sama bu Lisa tadi aku
sudah datang cepat tapi dia menghalagi jalanku sebentar kalau aku ketemu akan
aku pukul dia”,”apa-apaan sih kamu Sinta kamu ingat kamu itu perempuan tidak
boleh berkelahi nanti tidak ada cowok yang naksir sama kamu”,”biarin aku
sekolah buat belajar mengalahkan kepintarannya Reinhard bukan belajar cari
pacar”,”ya ampun Sinta segitu bencinya kamu sama dia yah”. Iya aku benci dan
akan terus benci sama dia”,”tapi kenapa harus dia? Kayaknya dia tidak punya
salah sama kamu”. Percakapanku dengan Santi terputus karena guru Bahasa Inggris
sudah masuk “nanti saja kita lanjutkan ceritanya”,”ok tapi kamu janji
yah”,”iya-iya”. (Teng…Teng…Teng bel berbunyi) “ok students see you next week
and don’t forget to finish your homework”,”ok ma’am…”(seru anak-anak sekelas)”.
“Aku pergi dulu yah Santi soalnya sih ketua Osis sialan itu pasti sudah
menungguku di kantin”,”pergi itu ajak-ajak dong jangan sendiri-sendiri biar ada
temannya nanti di kira orang…”ssshhh…(tanganku menutup mulutnya Santi) apaan
sih kamu mau meledek simpan sana karena tidak akan bermanfaat”,”oh iya aku lupa
kan musuh”. Sesampainya di kantin aku menyuruh Santi yang duduk di dekat
Reinhard dan aku disebelahnya jadi Santi berada di tengah- tengah aku dan
Reinhard. “Sekarang aku sudah di sini apa yang mau kamu bicarakan”,”begini kak
kami masih membutuhkan kakak dan juga senior yang lainnya untuk mempersiapkan
pensi sekolah”,”apa pensi sekolah kayaknya aku nggak bisa”,”aku mohon sama
kakak karena aku tahu keahlian kakak dalam menyanyi dan melatih adik-adik yang
ingin menunjukkan bakat mereka”,”sudahlah Sinta nggak ada salahnya kamu terima
kan semuanya untuk kemajuan sekolah kita,sanggah Santi. “yah sudah aku terima
tapi kayaknya aku hanya bisa latih mereka hari sabtu sore jam 16:00-17:30 selebihnya
aku sibuk untuk mempersiapkan ujian nasional”,jawabku “kakak terima kasih
banyak untuk kesediaannya”,”ok kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi
aku pamit yah,ayo Santi (sambil menarik Santi). Kami berdua (aku dan Santi)
membeli mie goreng dan teh kotak,tempat duduk kami berdua biasalah di pojok
yang tidak terlalu ribut oleh makhluk-makhluk aneh di seberang sana. “Sintaa
aku penasaran”,”penasaran apalagi sih”,”yang tadi kamu janji mau cerita”,”oh
yang itu”,”iya yang tentang Reinhard” (tanganku lagi-lagi menutup mulutnya yang
terlalu ribut). “Kamu ini bagaimana sih lihat si Reinhard mendengar namanya di sebut jadinya
balik ke sini”,”oh sorry sorry boss I didn’t mean”,”aaallllahh..didn’t
mean,didn’t mean apaan emang ini di luar negeri”,”biarin sambil belajar sambil
praktek”,”hehehehehe…”,”ketawa melulu kamu cepat ceritakan”,”jadi begini aku
itu sebal dan benci sama dia dari aku masih SMP kita sama-sama sekolah di SMP
Paulus yang kamu tahulah paling keren itu”,”nggak salah SMP-ku kali yang keren
SMP N.2 Jayapura”,”wuhhh (sambil mengaduk mie di piringku)…iya kamu dengarin
aku nih jadi ceritanya semua yang aku inginkan itu kayaknya berpihak sama dia sampai
aku heran jampi-jampi apa yang dia pakai”,”wahhhh…tidak mungkin dia pakai
jampi-jampi”,”mungkin saja soalnya semua guru-guru dia dekati,sok pintar di
kelas dan seluruh anak-anak di sekolah kami dulu kayaknya pada suka sama dia emang
dia pikir dia siapa ARTIS aja bukan,aku paling benci kalau dengar namanya di
mana-mana tuh dipanggil di minta tolong ini itu dari guru-guru dan
teman-temannya terus dia gabung juga di Osis SMP dan ada aku juga di situ siapa
yang merasa nggak tersaingi”,”terus…teruss” (Santi semakin penasaran),”padahal
aku lebih cantik,pintar,ikut organisasi dan pandai mendapatkan teman juga lebih
baik dari dia yang cakep juga nggak,pintar juga dibawah aku,gabung di Osis juga
cuma anggota biasa”,”Sinta…Sinta jadi hanya karena itu rasa benci kamu sama dia
bertambah merah seperti darah dan api”,”iya dong aku marah dan sebal soalnya
dia ikut-ikutan aku masuk di sekolah ini dan melakukan hal yang sama seperti di
SMP dulu sakit hatilah aku,awalnya semua jadi milikku tapi setelah itu
berpindah semenjak dia ada”,”perasaan kamu saja buktinya aku masih jadi sahabat
kamu dan tadi dia bilang dia masih membutuhkan kamu di Osis”,”itu hanya
akal-akalan dia saja nggak usah percaya”,”aku mengerti perasaanmu sahabatku
maka apapun yang terjadi aku memang dipihak kamu”,”terima kasih”(Santi dan aku
lalu berpelukan).
***
Hari Sabtu saatnya
bersantai,(ke pantai dulu aahhh…pikirku). “Ayah,Ibu kita ke pantai yuk
sepertinya sudah lama kita tidak ke pantai”,”yah sudah Ayah juga sementara
tidak sibuk”,”ok Ibu masak dulu makanan yang perlu di bawa”,jawab Ibu-ku
kegirangan “kamu bereskan barang-barang yang mau di bawa Sinta”,”iya Ayah pasti
akan selesai dalam 10 menit”,”kamu ini ada-ada saja”. Dari dulu aku merasa
kesepian tidak punya kakak atau adik karena aku anak tunggal dan di rumah Ayah
selalu sibuk ke kantor dan Ibu sibuk memasak dan membereskan rumah,keluarga
kecilku adalah kehidupan dan sumber kebahagiaanku. Kami berekreasi menggunakan
mobil Ayah yang baru di beli sebulan yang lalu mobil Inova namanya dan warna
mobilnya aku yang pilih so berwarna biru. Setelah sampai di pantai Ibu menjaga
barang-barang kami di pondok,aku dan Ayah berenang di pantai,kami pergi ke
pantai Base-G pantai ini salah satu pantai kesukaanku karena banyak orang yang
mengunjunginya dan ramai sehingga tindak kriminal tidak akan terjadi. Kami
bersantai dan menikmati momen-momen indah itu dengan canda-tawa dan
kegirangan,Ayah meledekku dan Ibu hanya menertawakanku. “Anak Ayah sudah SMA
kelas XII pasti sudah punya kekasih yah”,”Ayah…kekasih? apa itu kekasih..? aku
ini masih kecil masih pengen di sayang Ayah sama Ibu”,”sayang suatu ketika
kalau Ayah sama Ibu tidak ada kan pasti ada orang yang mengganti kami untuk
menjaga,melindungi dan menyayangimu seperti kami” jelas Ibu “pokoknya aku tidak
mau rasa sayangku hanya untuk Ayah dan Ibu”,”suatu saat kamu pasti akan
mengerti nak” kata Ayah. Setelah selesai berekreasi dengan keluarga dan hendak
naik mobil barulah aku memegang handphone-ku sebab aku tidak mau handphone
menghalangi momen bahagia kami.
“Sinta kamu kemana aja, Rein dan adik-adik kelas kita udah
nunggu kamu di sekolah aku juga udah di sekolah nih buruan kamu datang”.
Pesan singkat itu
mengagetkan aku dan setelah aku tengok jam dipojok kanan handphone-ku ya…ampun
ini sudah jam 16:15 harus buru-buru nih (gumamku). Karena melihat aku terdiam
dan gelisah Ibu memegang kepalaku dari kursi depan ke kursi belakang tempat aku
duduk. “Ada apa nak?”,”ini bu sahabatku Santi mengirimkan pesan menyuruh aku
datang ke sekolah karena aku sudah janji akan melatih adik-adik kelasku yang
hendak menyanyi di acara pensi sekolah”,”oh kamu kenapa tidak bilang supaya
kita pulangnya tadi lebih awal”,kata Ibu. “Iya nak Ayah mengira kamu tidak ada
kesibukan maka kamu mengajak ke pantai”,”memang benar Ayah ini kesalahanku
karena aku tidak sempat menaruh pengingat di handphone-ku”,”kalau begitu Ayah
bawa mobilnya agak cepat yah supaya kamu tidak telat”,”tidak apa-apa Ayah
jangan karena terdesak Ayah membuat kita semua bisa celaka”,”benar kata anak
kita bawa mobilnya dalam kecepatan normal saja yah Ayah”,”iya kesayangan
Ayah”.Pada saat kami mau pulang aku meminta untuk Ayah dan Ibu menurunkan aku
di sekolahku dan aku langsung turun dari mobil karena sudah diberikan uang
taksi Ayah dan Ibuku pulang meninggalkan aku disekolah,atas permintaanku
sendiri.
“Santi masih ada anak-anak di sekolah kan aku sudah di
pagar depan mau ke ruang tempat latihan tapi aku tidak tahu di ruangan berapa?”
Sms-ku sama sekali
tidak dibalas oleh Santi. “Tidak seperti biasanya dia tidak membalas
sms-ku,biasanya juga sudah cepat dibalas (ada apa yah,pikiranku tidak tenang)”.
Setelah mencari-cari ruangan tempat latihan akhirnya aku temukan namun tidak
ada anak-anak atau lebih tepatnya adik-adik kelas kita yang mau ikut pensi
khusus bagi yang mau menyanyi. Di situ hanya ada Santi dan Reinhard,tanpa
merasa bersalah aku lalu masuk dan tersenyum dengan memberi salam kepada mereka
berdua. “Selamat sore (sapa-ku)”,”kamu apa-apaan sih Sinta ini sudah jam
berapa?”,”baru mau jam 17:00 sore”,”apa kamu bilang baru mau jam 17:00 sore
kamu itu sadar nggak sih”,”apa yang harus aku sadari”,”kamu baru saja
melunturkan harapan adik-adik kelas kita yang mau ikut pensi sekolah mereka
sudah tidak mau menyanyi lagi padahal kamu tahu mereka udah datang dari jam
15:00 sore hanya karena semangat mereka”,”loh kenapa aku yang harus disalahkan
Santi?”,”alllahhh…kamu nggak usah pura-pura deh aku tahu itu pasti karena rasa
benci kamu sama Reinhard makanya kamu mengorbankan adik-adik kita”,(Santi
langsung pergi meninggalkan ruangan tempat latihan itu tepatnya di ruang Osis
dekat dengan ruang Guru kami). Sekarang hanya tinggal aku dan Reinhard dan aku
benar-benar tidak tahu harus ngomong apa ke Rein yang bisa aku lakukan hanya
tertunduk dan berbalik kearah yang berlawanan dengannya. “Aku permisi dulu yah
Kak Sinta selamat sore”,”iiii…iya selamat sore”. Perasaan bersalahku menghantui
aku sepanjang tidur di malam minggu ini sampai-sampai ajakkan Ayah dan Ibu
untuk makan malam tidak aku hiraukan dan aku langsung ke kamar dan tidur.
***
Pagi ini lain dari
pagi-pagi selama ini yang telah aku jalani bersama dengan Santi,dia tidak
berkata-kata sepanjang kami mengikuti pelajaran pertama hingga selesai dan ke
kantin juga dia pergi sama teman-teman yang lain. Aku memilih tidak jajan hari
ini dan membaca novel di kelas, sepanjang membaca novel itu teman-ku Randy
memperhatikanku dan sengaja menabrakku supaya buku yang ku baca itu jatuh.
“Apaan sih kamu Randy sengaja yah”,”iya emang aku sengaja habisnya kamu serius
sih baca bukunya”,(sambil menarik buku yang ku baca). “Kamu ada masalah sama
Santi certain dong dari pada dipendam sendiri siapa tahu aku bisa bantu”,”orang
kayak kamu mana bisa bantu kesulitan aku”,”weitttsss…jangan salah begini-begini
aku juga bisa jadi superhero dadakan”,”hahahaha…kamu ada-ada aja”,”yah udah
makanya certain”,”ok-lah jadi kan begini aku sudah janji sama Reinhard ketua
Osis yang baru itu kalau aku bakal melatih adik-adik kelas kita yang mau ikut
pensi tapi karena aku lupa jadi aku ngajak keluarga Ayah dan Ibuku untuk
berekreasi ke pantai Base-G dan kita pulangnya itu sudah jam 16:15 sedangkan
janjiku pada si ketua Osis itu jam 16:00 otomatislah tiba dari pantai ke
sekolah kita itu sudah hampir mau jam 17:00 sore dan adik-adik sudah pulang
terus aku dimarahi sama Santi karena telah melunturkan semangat adik-adik kita
yang mau ikut pensi”,”ohh…begitu ceritanya aku bisa bantuin kamu”,”tapi aku
takut Randy kalau-kalau adik-adik kita sudah tidak mau mengikuti kelas
bernyanyi bersamaku”,”serahkan semuanya padaku dan kamu harus yakin kalau aku
bisa bantu kamu”,”ok kalau begitu aku minta tolong yah dan sebelumnya terima
kasih”,”yoi princess” jawab Randy santai seakan semuanya sudah beres
(Teng…Teng…Teng bel masuk kelas). Pelajaran terakhir aku berusaha fokus karena
ini pelajaran yang termasuk susah yaitu Fisika. Karena melamun pak guru
menyuruhku mengerjakan soal di depan kelas,”Sinta coba kamu maju dan
mengerjakan soal yang baru saja bapak jelaskan contohnya”,”saya pak?”,”iya
kamu-lah memangnya siapa lagi yang bernama Sinta dalam ruang kelas
ini”,”hahahaha (Santi tertawa kecil disampingku). Aku maju dan menyelesaikan
soal itu dengan baik kebetulan aku pernah mengerjakan soal yang mirip seperti
soal yang di berikan pak Harun di rumah pas belajar malam sebelum tidur. “Bagus
sekali Sinta tapi lain kali bapak tidak mau lihat kamu melamun”,”iya
pak”,”kalau ada masalah langsung diselesaikan supaya tidak menggangu
konsentrasi belajar-mu”,”baik pak” (mataku terarah pada Santi namun dia tidak
melihat wajahku,aku sedih sekali). Seusai pelajaran Fisika Santi sudah pulang
lebih dulu dariku karena ingin menghindar, dan suara Randy mengangetkan aku
“Sinta kamu jangan pulang dulu tadi aku sms pacarku dan dia bakal tolongin
kamu”,”apa kamu yakin?”,”yaiyalah secara pacarku itu termasuk yang berpengaruh
di kelas X dari sekarang saja mereka sudah mencalonkan dia sebagai ketua Osis
periode mereka nanti”,”wah hebat kamu nggak nyangka aku kamu bisa dapatkan
cinta dari adik secantik,sebaik dan sepintar Juita “,”loh kok kamu tahu
namanya”,”tahu-lah emang dia anggota Osis juga kali”,”oh iya benar-benar kalian
kan anak-anak unggulan”,”nggak gitu juga sih Randy buktinya dia memilih kamu
yang biasa-biasa saja namun bisa membuat dia merasa luar biasa senang”,”aahhh
kamu ini bisa saja…ayo kita pergi”. Berkenalan dan dekat dengan Juita itu
menyenangkan dia enak di ajak ngobrol dan bertukar-pikiran semua ide-idenya
digabung dengan ide-ideku akhirnya kami telah mendapatkan solusi terbaik untuk
pensi nanti tanpa sepengetahuannya Reinhard. “Juita kakak mau bilang terima
kasih banyak kamu sudah mau membantu kakak”,”sama-sama kak aku senang juga bisa
dekat sama kakak apalagi kakak orangnya asyik dan suka bercanda”,”hehehe…kamu
bisa saja”,”ok kak aku dan kak Randy pulang dulu yah kak”,”iya deh kasihan juga
Randy udah nungguin kita ngobrol lama di depan taman ruang guru
ini”,”hehehe…iya kak aku duluan yah kak”,”dah..dah hati-hati di jalan”,”terima
kasih kak…dah…dah”.
***
Hari baru aku mulai
merasa lega walaupun aku sama sekali tidak berkomunikasi lagi dengan Reinhard
maupun Santi sahabatku ada yang membuatku merasa kurang tapi aku tetap berusaha
membuat suasana seakan semuanya baik-baik saja. Reinhard dengan resmi mau
meniadakan pensi tahun 2013 ini menurut informasi yang aku dengar dari
adik-adik kelas kami. Aku langsung bergegas menemuinya di ruang Osis .“Kamu apa-apaan
sih Rein menghentikan pensi dengan cara sepihak itu tidak adil namanya”,”maaf
kakak tapi kakak tidak punya hak di sini untuk mencampuri urusan Osis”,”tapi
kamu kan sudah berikan kepercayaan kepada kakak untuk menangani acara
pensi”,”iya memang benar tapi waktu itu sebelum aku mengetahui bahwa sebenarnya
kakak nggak suka sama aku dan hendak mengorbankan aku dan adik-adik terlebih
mengecewakan hati semua orang dengan tindakan kakak yang tidak hadir tepat
waktu untuk melatih mereka”,”kalian jangan berperasangka buruk terhadap aku
memang aku nggak suka sama kamu Rein tapi aku benar-benar lupa kalau hari itu
ada latihan makanya aku sama keluargaku pergi ke pantai Base-G dengan dan tanpa
meninggalkan pesan karena aku nggak punya nomor handphone-mu”,”kalau begitu
terserah kakak sekarang semua tanggung-jawab aku serahkan pada kakak dan dalam
waktu sesingkat ini apakah kakak mampu mempersiapkan semuanya?”,”terima kasih
untuk kepercayaannya kakak permisi”. Dengan tertunduk aku keluar dari ruangan
Osis dan Santi yang sementara berada di ruang guru menengok keluar jendela
karena penasaran dia menghampiri Rein dan menanyakan apa yang terjadi denganku.
Rein menjelaskan semuanya kepada Santi. Aku,Juita dan Randy mulai mempromosikan
kegiatan dengan menunjukkan selebaran yang berisikan kegiatan pentas seni yang
di dalamnya ada drama musikal bahasa Inggris,tarian modern,latihan lagu-lagu
barat maupun lagu Indonesia sekuler yang terkenal untuk dipentaskan. Adik-adik
semakin menyukainya apalagi di dalamnya disertakan membaca puisi,dan ada band
yang kami undang yaitu band Indonesia bernama Volts. Oleh persetujuan sekolah
kami diperbolehkan mengundang band tersebut dan memulai latihan setiap hari
Sabtu dengan bersemangat Randy dan Juita membantuku, Randy yang jago dance mengajarkan
adik-adik beberapa gerakan tarian modern untuk ditampilkan tapi juga ada
adik-adik yang sudah mahir dan punya grup
dance mereka langsung mendaftar dengan pendaftaran Rp.100.000,- begitu
juga dengan yang mau menyanyi entah solo,duet,trio,kwartet ataupun vocal
grup,membaca puisi serta memainkan drama musikal mereka membayar Rp.50.000,-.
Tiket masuk bagi siswa-siswi sekolahan seharga Rp.20.000,- dan yang dari luar
sekolah seharga Rp.50.000,-. Biasanya setelah selesai latihan kami semua
membersihkan lapangan sekolah dan menata sedikit demi sedikit menjelang hari
pensi yang tidak terasa tinggal seminggu lagi. “Kak kapan mau pesan tenda dan
kursi-kursi serta panggung?” Tanya Juita,”kakak juga lagi mikirin tapi tidak
apa-apa kamu jangan khawatir jalan-jalan Tuhan pasti ajaib dan ada yang
menolong kita”,kataku menguatkan Juita yang kelihatan ragu-ragu. “Aku akan
menolong kalian”,sambung Santi suara yang tak asing bagiku aku lalu membalikkan
tubuhku ke arahnya “kamu benar-benar Santi?”tanyaku terheran-heran “yaiyalah
aku Santi sahabatmu sekarang dan selamanya”,”tapi kenapa kamu mau membantuku
aku pikir kamu membenciku dan tidak mau lagi bersahabat denganku karena melihat
keegoisanku”,”Sinta sayang sebenarnya aku berbuat demikian supaya kamu itu
sadar dan jangan mementingkan diri sendiri”,”tapi…”,”sudahlah ayo kita bekerja
tak ada waktu untuk basa-basi”, (aku mengangguk dan kami berpelukkan lalu
bekerja). Karena Om-nya Santi kebetulan adalah pengusaha bagian peminjaman
tenda dan kursi-kursi maka Santi yang mengurusnya (acara pensi kami diadakan Sabtu
malam jam 18:00). Adik-adik kelas kami sangat bersemangat karena hanya
menghitung jam untuk hari esoknya pertunjukkan dan sebelum pertunjukkan itu
kami gladi bersih khususnya uji coba panggung,mike dan tempat untuk dance
nanti. “Sinta kamu kelihatan lelah ayo kita duduk dulu”,”Tapi San tak ada waktu
bagiku untuk bersantai-santai”,”sudahlah kan ada Juita sama Randy”,benarkan
(sambil memalingkan wajah ke Juita dan Randy). “Iya kak Sinta nggak perlu
khawatir kakak kayaknya butuh istirahat deh duduk dulu-lah sama kak Santi”,kata
Juita ”iya Sin bener tuh” sambung Randy (aku menagangguk tanda setuju). Santi
menarik tanganku lalu kami duduk di depan halaman dekat lapangan tempat pensi.
“Sinta boleh nggak aku minta sesuatu padamu”,”minta apaan emang? kalau aku bisa pasti aku bakal ngasih”,”aku
pengen besok kamu nyanyi di paling akhir setelah pertunjukkan semua adik-adik
kelas kita”,”whatttt…nggak mungkinlah emang aku pantas nyanyi depan publik kamu
kan tahu aku nggak berani dan aku belum pernah nyanyi solo sendirian?”,”Sinta…Sinta
yaiyalah kamu pantas kalau nggak demikian kenapa kamu dipilih Rein buat ngatur
adik-adik latihan nyanyi?”,”tapi…kan aku ngasih kesempatan mereka bukan aku
yang menguasai panggung” (Santi tertunduk dan kelihatan bersedih,aku mengelus
pundaknya) “yah sudah demi sahabatku besok aku akan nyanyi”,”terima kasih yah
Sinta” (kami berdua berpelukkan lalu menghabiskan minuman coca-cola beserta
oreo vanilla). Setelah selesai gladibersih semua adik-adik pulang termasuk
Santi,Juita dan Randy, aku memilih tinggal sejenak di lapangan sekolah. Dengan
menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskannya aku memberanikan diri untuk naik
ke panggung pensi dan bernyanyi kali ini aku menyanyikan lagu dari Michelle
Branch yang judulnya All You Wanted
If you want to I can save you, I can take you away from
here so lonely inside so busy out there and all you wanted was somebody who
cares…
Begitulah sepintas
lirik yang kunyanyikan tapi aku rasa ada yang memperhatikanku dari kejauhan namun
aku tak dapat melihat siapa gerangan di balik pagar sekolah itu. Tanpa kusadari
Ayah sudah menungguku sekitar 15 menit di luar gerbang sekolah,aku lalu
bergegas menuju halaman parkir sekolah dan berjumpa dengan Ayah. “Nak bagaimana
sudah selesai?” Tanya Ayah “sudah ayah dari 15 menit yang lalu tapi Sinta
keasyikkan menyanyi jadi lupa kalau Ayah sudah menunggu Sinta di luar”,”tidak
apa-apa suaramu memang sudah lama tidak didengar oleh Ayah boleh kamu menyanyi
sekarang sepanjang Ayah membawa mobil”,”aah…Ayah aku malu tahu dan aku juga
lelah pengen istirahat”,”ok kalau begitu tapi besok di acara pensi kamu harus
menyanyi Ayah tidak mau tahu”,”hhhmmm…Ayah” (Aku tertidur di dalam mobil dan
Ayah menggendongku ke kamar tidurku karena badanku juga tidak berat-berat
amat).
***
Tet…tet…tet…tet bunyi
alarm membangunkanku dan aku terkaget mendengar suara berisik itu dan segera
aku bangkit dari tempat tidurku dan menuju ke kamar mandi untuk mandi.
Bersiap-siap rapih kemudian menuju ke ruang makan dan di sana aku kaget
ternyata tidak ada orang. “Yah ampuunn …ternyata ini masih jam 6 pagi siapa
yang tega mengatur alarm di kamarku dan mengerjaiku seperti ini”,”Ayah yang
melakukannya supaya kamu bangun pagi sarapan dan latihan bernyanyi untuk
sebentar malam”,”iya Ayah tapi aku ada kelas pagi bersama guru Kimia-ku dan aku
pasti dihukum kalau tidak mengikuti pelajarannya”,”loh…Ayah sempat baca di meja
belajarmu ada tempelan pengingat kalau hari ini tidak ada jam pelajaran oleh
karena pensi sekolah”,”oohhh…iya bener banget Ayah aku kok bisa lupa
gini?”,”jelaslah itu akibat dari kamu kerjanya terlalu banyak sampai lupa
istirahat”,”iiihhh…Ayah”. “Sudah-sudah berhenti beradu mulut karena Ibu pusing
mendengarnya lagi pula Ibu senang kalian bangun pagi supaya bantu Ibu memasak nasi
goreng sebagai sarapan pagi kita” kata Ibu “aaahh Ibu” kataku. Aku,Ayah dan Ibu
mempersiapkan bumbu-bumbu untuk memasak nasi goreng,kerja yang baik pagi ini
tak seperti biasanya aku senang sekali setiap melihat kebersamaan kami ini. “Sinta
selesai sarapan kamu langsung ke ruangan musik kita dan latihan-lah di sana”
kata Ayah (melihatku telah selesai makan),”baik Ayah tapi nggak apa-apa kan
Sinta menyanyi lagu barat”,”justru itu yang bagus sayang,kamu tahu Ayah ini
dulu bukan hanya pemain musik tapi juga bernyanyi dan yang belum kamu tahu Ibu
kamu dan Ayahmu dulu ini bertemu karena musik”,”iya benar kata Ayahmu Ibu jatuh
hati pada Ayah karena dia lihai memainkan musik terutama gitar dan piano dan
Ibu juga suka bernyanyi sehingga kalau mampir ke Cafe tempat Ayahmu bekerja
dulu di Entrop kami selalu mengisi lagu bersama”,”ooh jadi Ibu bernyanyi lalu
Ayah bermain musik’,”iya Ayah dan teman-teman Ayah bermain musik pada saat
Ibumu mau bernyanyi”,”jadi begitu ceritanya”,”iya sayang maka tak heran kamu
mewarisi suara merdu Ibu”,”dan Ayah juga yah jangan lupa itu”,”iya..iya” kataku
(sambil tersenyum geli melihat tingkah kedua orangtuaku yang semakin ABG saja).
Kini aku melangkah masuk ke ruang musik kami dan menyetel lagu yang akan aku
nyanyikan dan aku berlatih sebaik mungkin dari jam 7 sampai jam 9 pagi itu hari
Sabtu yang adalah hari pensi.
Selamat siang Sinta kamu nggak usah ke sekolah kamu datang
pas sore aja jam 4 sore saja…
Tapi gimana dengan artis yang kita undang???
Kamu tenang aja ada Ronal dan teman-teman kita yang lainnya
mereka sedang beradadi bandara menjemput mereka dan langsung ke hotel muspaco
Oh ok kalau begitu nanti aku datang jam 4 sip…sip…
Ok sip…
Pesan singkat antara
aku dan Santi membawaku lebih hanyut lagi ke dalam lirik lagu yang akan aku nyanyikan
nanti karena sms kami terjadi pada saat aku berlatih. Aku tak menyadari bahwa
sudah jam 14:00 siang di dinding ruang musik kami itu tandanya…”Sinta ayo cepat
keluar Ibu dan Ayah sudah nungguin kamu makan siang”,”iya Ibu”,sahutku
perlahan. Ayah dan Ibu memantapkan diri untuk ke sekolahku dan melihat aku
mengikuti pensi itu padahal sebenarnya aku hanya ditugaskan buat bantu-bantu
tapi karena permintaan sahabatku yang tak bisa ku tolak jadinya yah…begini deh
(ayo kita selidiki acara pensi yang telah dikerjakan oleh Aku,Juita,Randy dan
juga Santi). Aku mengenakan gaun biru selutut,Juita mengenakan gaun berwarna
oranye dan Santi mengenakkan gaun berwarna silver.
Sudah pukul 18:00
tepat,kepala sekolah kami membuka acara dengan sambutan yang meriah lalu kami
melanjutkan dengan menghadirkan band Volts yang membawakan lagu “Fatamorgana” lagu yang cukup menguras
energy karena musiknya kencang setelah itu Juita dan Randy membacakan nama-nama
grup yang akan tampil dengan bakat mereka masing-masing jadi itu selang-seling
ada dance,solo,duet,trio,kwartet,membaca puisi,drama musikal lalu kembali lagi
(berputar-putar hingga selesai). “Sinta habis ini giliran-mu” kata Santi,”apa?”
(aku kaget mendengarnya),”iya kak aku pikir sudah dengar tadi aku sama Randy
bacakan peserta terakhir yang akan tampil dari kelas XII yaitu kakak”,kata
Juita. “Aku yakin kamu bisa Sinta berikanlah yang terbaik untuk kita semua yang
hadir di sini,”baiklah sahabatku”. “Hadirin yang terkasih kita sambut
penampilan terakhir dari kakak Sinta siswi kelas XII IPA 5”,”selamat
menyaksikan” (begitulah kata-kata penyambutan bagiku yang dilontarkan oleh
Juita dan Randy). Semua lampu di samping panggung dipadamkan dan hanya lampu
sorotan berwarna-warni yang diarahkan kepadaku,aku langsung bernyanyi dengan
meyakinkan lagu yang kubawakan dari Joe Jonas “Gotta Find You yang
dinyanyikannya di film Camp Rock 1
Everytime I think I’m closer to the heart of what it means
to know just who I am I think I’ve finally found a better place to start but no
one ever seems to understand, I need to try to get the where you are could it
be your not that far
Chorus :You’re the voice I hear
inside my head the reason that I’m singing I need to find you I gotta find
you…oh yeah
You’re the remedy I’m searching hard to find to fix the
puzzle that I see inside painting all my dreams the color of your smile when I
find you I’ll be alright I need to try to get the where you are,could it be
your not that far… (back to Chorus)
Been feeling lost,can’t find the words to say spending all
my times stuck in yesterday where you are is where I want to be…ohhh…NEXT TO
YOU and YOU NEXT TO ME…ohhh I need to find you..yeahhhh (whoooahh sorak orang-orang yang berada disitu).
“Wow pertunjukkan yang
mengangumkan terima kasih sudah mau menyanyi untukku sahabatku”,(Santi
menyambutku dengan pelukan hangat),”terima kasih Santi”. Ayah dan Ibuku
benar-benar kaget melihat aksiku membawakan lagu itu dengan sangat menghatinya,”Sinta anak Ayah kamu benar-benar luar biasa”,”iya sayang Ibu dan Ayah
bangga sekali padamu”,”tetaplah bernyanyi nak,Ayah akan terus support
kamu”,”Ibu juga demikian nak”,”kamu mau Ayah dan Ibu menunggumu?” Tanya
Ayah.”Om dan Tante pulang aja nanti Sinta bareng sama aku”,”iya Ayah dan Ibu
maaf yah acara belum selesai kami harus menyimpan dulu baru pulang”,”ok Ayah
dan Ibu pulang dulu yah sayang” kata Ayah (sambil aku dipeluk kedua hartaku
yang berharga itu). Santi langsung pergi meninggalkanku entah kemana dia tanpa
berpikir panjang aku pergi mencari meja tempat persediaan minuman bagi para
siswa-siswi dan penonton ketika aku sepintas melihat penontonnya lumayan banyak
yang datang sampai-sampai kayaknya yang
duduk dibelakang tidak kebagian lihat peserta yang manggung ataupun dance tadi.”
Hei Sinta”,sapa seoarang lelaki yang sepertinya aku kenal (saat aku hendak
berbalik hampir saja minuman yang kupegang jatuh mengenai gaun-ku tapi untung
dia menolongku..waittss sabar…apa? Dia ini musuhku itu Rein ngapain dia disini
(pikirku). “Ngapain kamu disini oh iya makasih yah sudah mau pegang minuman-ku
yang hampir jatuh”,”oh iya..iya tidak apa-apa”,”aku permisi dulu yah”,”hhhmmhh
bisa aku bicara sebentar dengan kakak”,(apa…sejak kapan nih orang mau ngobrol
sama aku). “Aku mau bilang makasih ke kakak karena sudah bersedia mengurus
semua acara ini walaupun sempat ada konflik diantara kita yang buat aku nggak
berani menyapa atau bertemu dengan kakak sampai sekarang”,”oh…ya ya nggak
apa-apalah aku bisa tangani kayak begini sendiri”,”aku tahu kak Sinta benci
banget sama aku tapi aku mohon kali ini di hari ulang tahunku kakak jangan lagi
membenci aku karena aku sangat kagum sama kakak”,”kagum sama aku memangnya aku
artis?”(jawabanku terus saja cuek) “bukan begitu maksudku aku kagum kakak pitar
nyanyi,pintar berorganisasi,pintar di pelajaran maka dari itu sewaktu kita
ketemu di SMP dulu kesan pertama melihat kakak di Osis aku menjadikan kakak
teladan bagiku untuk melakukan segala sesuatu intinya karena kakak aku juga
berhasil soalnya dulu di SD aku orangnya nggak pintar seperti yang kakak lihat
sekarang tapi ketika melihat kakak-lah aku jadi rajin buat belajar aku nggak
pernah bermaksud merebut semua yang kakak punya tapi semua itu datang padaku
secara kebetulan dan aku mensyukurinya”, (aku terdiam dan berpikir yah ampun
jadi selama ini rasa iri-ku padanya tidak membuahkan hasil apa-apa karena
ternyata dia mengagumiku sampai-sampai menjadikanku teladan segala
lagi).”Kesuksesanku sekarang ini salah satunya karena kak Sinta terima kasih
yah dan aku berharap kakak tidak menganggapku musuh atau lawan tapi kita bekerja
sama dengan ide-ide yang kita punya dalam organisasi sekolah”,”hhhmmh…iiiya
Rein maa…maafff yah atas sikap kakak selama ini sama kamu oh iya kakak minta
maaf nggak punya kado apa-apa untukmu”,”iya nggak apa-apa kak aku juga salah
seandainya aku ngomong dari dulu mungkin kakak nggak bakal menaruh kebencian
padaku dan lagu kakak tadi sudah cukup sebagai kado di hari ulang tahunku ini”,”aahhh
kamu ini oklah kalau kado lagu kakak tadi sudah cukup buatmu dan tak usah
dibahas lagi yang penting acara yang diselenggarakan Osis telah berjalan dengan
baik dan kakak bersedia kalau Osis masih membutuhkan kakak tapi bila kakak
tidak sibuk yah…” kataku. “Ok kakak siap”,”hehehehe…” (kami berdua tertawa)
“ada apa sih aku ketinggalan cerita bagus nih” potong Sinta “yeehh telat dari
mana aja sih kamu”,”aku dari toilet”,”ya udah bye aku mau nyanyi bareng
anak-anak lainnya dengan band Volts sekalian minta foto”.”aku ikut kak” sahut
Rein,”ok let’s go” kataku. “Tungguin dong aku benci kamu Sinta”,”ayo princess
jangan marah dong aku hanya bercanda doang” (kami berdua langsung menuju
keramaian dan menonton lagu terakhir yang dibawakan band Volts judulnya INDAH)
Indah kaulah hidupku,indah aku milikmu ku akan slalu
menjagamu…ku rela mati untukmu…
TUHAN menciptakanku untuk mencintaimu hanya dirimu yang
mampu menghidupkanku…
Indah kaulah nyawaku…indah kaulah nafasku jangan pernah
tinggalkan aku,jangan pernah pergi dariku…oh…
TUHAN menciptakanku untuk mencintaimu hanya dirimu yang
mampu menghidupkanku…oohhh…ohhh
Jangan pernah tinggalkan aku..ku rela mati untukmu…ohhhh
TUHAN menciptakanku untuk mencintaimu hanya dirimu yang
mampu menghidupkanku separuh nafasku ada karenamu hanya dirimu yang mampu
menghidupkanku…hanya dirimu yang mampu menghidupkanku…hanya dirimu yang mampu
menghidupkanku.
Semua orang yang hadir
disitu bersorak gembira dan mereka yang masih ingin disekolah untuk
berfoto-foto dengan grup band ini mereka tetap bertahan dan yang sudah mau
pulang mereka langsung pulang.Guru-guru pun langsung meninggalkan sekolah hanya
satpam dan kami para anggota Osis yang senantiasa berada di sekolah untuk
membersihkan sekolah lalu kemudian baru bisa melangkahkan kaki untuk pulang.
***
Malam itu akhirnya
perselisihan nggak jelas antara aku dan Reinhard berakhir di malam pensi
sekolah . Aku benar-benar tak menyangka bahwa ternyata ada yang diam-diam
mengangumiku menjadikanku teladan dalam proses belajarnya sampai menjadi siswa
berprestasi sekarang dan dia itu adalah adik kelasku ketua Osis sekolah kami
yang baru. Semenjak hari pensi itu kalau dia minta bantuan padaku dan Santi
kami pasti mengiyakan dan adik-adik kelas kami sangat senang karena
program-program yang diselenggarakan Osis dibawah kepemimpinan Reinhard Semuanya
itu bermanfaat karena adanya kesatuan ide-ide kami (aku,Santi,Rein,Juita dan
tak lupa Randy juga ikut membantu didalamnya walaupun dia bukan anggota
organisasi sekolah tapi bakatnya sangat bagus untuk dibudidayakan dalam
acara-acara yang Osis selenggarakan) 😄.


No comments:
Post a Comment