Tuesday, September 17, 2024

Nostalgia "Dies Natalis Kampus"

       Ini aku dan kisah nyataku yang tersimpan rapih dalam memori ingatan yang sengaja kubuka kembali setelah sekian lama berhubung tahun ini adalah dies natalis kampus biru yang ke 70 tahun. 10 tahun yang lalu kisahku ini menjadi coretan manis dan pahit di kampus biru.

      Perjalanan membawaku kembali ke kampus biru begitulah sebutan untuk kampus yang mana 11 tahun lalu pada tahun 2013 kuinjakkan kedua kakiku untuk menempuh pendidikan sebagai seorang calon guru Agama Kristen sebab program studi yang kuambil untuk S1-ku adalah Pendidikan Agama Kristen (PAK). Goresan warna silver dan merah pada dinding-dinding kampus yang mengingatkanku saat momen P32K (Proses Percepatan Pengenalan Kehidupan Kampus) sepertinya bekas ciumanku masih tertempel di tembok kenangan itu 😁 kakak-kakak tingkat yang pada waktu itu menjabat sebagai senat masa bakti 2013/2014 menyuruh kami semua mencium dinding kampus sebagai bentuk cinta kami kepada tempat yang akan mendidik kami selama 5 tahun untuk menjadi pelayan TUHAN di gereja maupun di sekolah. 

     Tahun pertama berkuliah tahun ajaran 2013/2014 tak ada yang spesial dan semuanya terasa biasa saja seperti mahasiswa pada umumnya yang menjalani kehidupan perkuliahan itulah yang ku alami. Banyaknya tugas yang diberikan adalah makanan sehari-hari kami kecuali mata kuliah yang diajarkan (Alm) ayahku, dia adalah sosok yang tidak pernah memberikan tugas yang banyak kepada kami. Sebab, yang dia mau adalah kami pertemuan tatap muka, ujian tatap muka. Dalam perkulihan aku rasa tak memiliki masalah yang cukup serius karena diriku selalu meraih hasil yang terbaik tapi soal kasmaran alias kisah percintaan rasanya aku adalah orang yang gagal. Saat teman-teman seangkatanku yang lain berkuliah dan punya kekasih di tahun pertama masuk kuliah. Aku malah sibuk memikirkan bagaimana mendapat nilai bagus dan IPK ku harus selalu bagus setiap semester. Karena ayahku seorang tenaga pendidik yang pandai di kampus tempatku berkuliah dan untuk menjaga nama baiknya, kusingkirkan drama  percintaan dari hidupku.

     Tahun kedua berada di kampus biru, tahun ajaran 2014/2015. Suatu siang yang sejuk walau terik matahari membakar kulit tak sengaja aku berpapasan dengan seseorang yang manis parasnya dan ramah. Setelah dia memberi sapa kepadaku dan salah seorang temanku dari jurusan Teologi bernama Lia. Aku pun mencari tahu segala sesuatu tentang dia dan Lia pun memberitahuku bahwa dia adalah ketua angkatan 2014, berasal dari Klasis Manokwari, jurusan Teologi, dia berasal dari suku Biak dan sebut saja namanya Aldo. Hari-hari perkuliahanku makin indah dan berwarna sejak ada Aldo di kampus. Dalam perhitungan tahun memang dia adik satu tingkat dibawahku tetapi dia 1 tahun lahir denganku tahun 1996  hanya berbeda bulan, aku April dan dia September. 😊 

    Rasa kagumku pada Aldo bukan hanya karena soal fisik (tampan, manis, dll) secara lahiria seperti kebanyakan orang yang menyukai seseorang karena tampang. Cara menyukaiku terlalu beda karena aku menyukai  cara dia berdiri, cara dia berpakaian, cara dia berbicara di depan orang banyak yang notabane adalah teman-teman seangkatannya dan dia didengarkan oleh mereka, saat berada di lingkungan kakak tingkat pun dia sangat menghormati. Sebegitu berwibawanya dia di mataku. Dan dalam hatiku pernah terbesit kalimat, "wanita siapa yang kelak beruntung kan mendampingi dia di altar?". Oh terlalu jauh khayalanku karena waktu itu aku baru semester 3 dan dia semester 1. Usai pertemuan pertama kami di depan ruang paduan suara kampus pada bulan Agustus. Di bulan berikutnya bulan September 2014 akupun semakin menunjukkan rasa sukaku kepadanya secara terang-terangan dengan memberikan hadiah kue ulang tahun yang kubeli dengan hasil tabungan uang jajanku selama bukan Agustus. Kue yang kubeli tak ku letakkan di lemari es (kulkas) karena aku takut ada orang rumah yang melihat dan mengetahui kado kue ulang tahunku pada orang yang paling ku suka. Apalagi di atas kue tersebut tertulis nama dan marganya secara lengkap. Maka kuputuskan menaruh kue itu di kamar tidurku sambil menjaga supaya tidak ada semut.

    Keesokkan harinya, Jumat 5 September 2014. Setelah aku menyelesaikan kuliah di jam pertama, dengan mengumpulkan segenap nyaliku akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya di ruang kuliah yang tepat berada di atas ruang paduan suara (lt.2 atas). Dengan langkah yang pasti, aku masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan teman-teman seangkatannya, aku memberikan hadiah kue itu dan memberikan ucapan ulang tahun kepadanya. Sontak seluruh ruangan itu heboh dan ricuh menyorakki-ku, dengan malu aku pun undur diri dari ruang kuliah mereka dan aku memutuskan bergegas kembali ke ruang kuliahku. Sejak hari itu, semua temannya mengetahui bahwa aku menyukai si Aldo ketua angkatan mereka. 

    Tahun ketiga pun datang, tahun ajaran 2015/2016. Segala usaha telah kulakukan supaya bisa dekat dengan Aldo tetapi kata salah seorang sahabatnya bernama Veri, Aldo orangnya pemalu dan dia mau fokus kuliah dan tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun juga. Aku pun mengerti, dan tahu diri. Batasan pun mulai ku lakukan dimana saat dia yang juga adalah asisten pendamping ayahku saat ayahku memberikan kuliah kepada angkatan mereka. Aku adalah orang yang paling malas membuka pintu rumah kami untuk menerimanya membawa barang-barang mengajar seperti buku, spidol dan Alkitab milik ayahku. Tapi aku kadang terpaksa karena tak ada orang di rumah. Bukan aku membencinya, tetapi semakin aku melihatnya, semakin perasaanku tak bisa ku kendalikan. Dan yang kulakukan ini adalah usaha untuk bisa move on. Kadang aku merenung dan sedih sebab caraku menunjukkan ketidaksukaan berada didekatnya rasanya agak kasar. 

    Tak terasa tahun keempat menghampiri, tahun ajaran 2016/2017. Tahun baru tepat pada bulan Januari 2016,  entah angin apa yang membawa Aldo datang ke rumah kami. Dia mengantarkan oleh-oleh abon gulung khas Manokwari untuk kami sekeluarga, lebih tepatnya untuk dosennya (ayahku). Hari-hari pun berlalu dan teman angkatanku Roy turun dari jabatannya sebagai ketua senat karena angkatan kami masuk persiapan untuk turun KKL. Dan ternyata orang yang menggantikan temanku menjadi ketua senat selanjutnya adalah dia... dia dan dia "Aldo". Walau ku tahu dia memilih fokus pada studinya dan tak menghiraukan sedikitpun perasaanku, tapi aku masih saja berharap dengan menjadikan ruang seminar sebagai tongkrongan wajibku untuk bisa memantaunya dari lantai 2 atas ke ruang senat di bawah, sangat sering aku lakukan ketika sedang menunggu dosen ataupun saat tak ada jam kuliah, aku suka memandangnya dari atas ruang seminar. Tetapi aku pun diingatkan oleh waktu yang berjalan cepat membuatku ditempatkan di salah satu sekolah negeri di Buper Waena untuk melakukan proses KKLK (sebutan bagi kami yang jurusan PAK) itu tandanya aku tak bisa berjumpa dengannya, pujaan hatiku untuk di semester ini.

    Tahun Kelima, tahun ajaran 2017/2018 pun akhirnya menyadarkanku bahwa Aldo ternyata menaruh hati pada yang lain yaitu pada seorang adik tingkat kami angkatan 2015. Tanpa ada yang memberitahuku, jiwa intel seorang Aries sangat tidak bisa diragukan. Karena aku tahu dia sudah menyukai orang lain, aku pun sadar diri ternyata aku kalah di penampilan. Orang yang dia sukai itu kulit putih dan rambut lurus, bukan sepertiku yang rambut keriting dan kulit hitam. Tapi tunggu, bukankah alasannya waktu itu dia ingin fokus kuliah bukan pacaran? Kenapa dia melanggar kata-katanya sendiri. Bagaimanapun aku tetap mengahargai pilihan hatinya.

      P.ada suatu siang aku berdiri di depan pintu masuk kampus dan sepintas aku lihat Aldo dengan kumpulan teman-temannya sedang duduk di taman kampus yang tak jauh dariku dan tempat duduk mereka itu berhadap-hadapan langsung denganku yang sedang berdiri depan pintu masuk utama di kampus. Aku bercerita dengan seorang lelaki tampan yang tak mau kusebutkan namanya dia berkuliah juga di kampus biru. Kami bercerita dengan serius dan penuh canda tawa, aku sengaja melakukan itu untuk melihat reaksinya. Dan benar saja, Aldo menghampiri kami berdua dan menyela pembicaraanku dengan sosok tampan ini. Apakah dia cemburu?". Apapun alasan dia, aku tak peduli sebab lama-kelamaan perasaanku seperti dipermainkan. Dan yang aku tahu kekasihnya adalah adik tingkat kami dan aku tak mau tahu soal hubungannya dengan siapapun itu karena aku tak mau terluka.

    Di tahun terakhirku di kampus, aku dengar ternyata angkatan kami kena kurikulum lama yang membuat kami wisuda di bulan Agustus 2018. Dan yang membuatku semakin tak percaya adalah angkatan Aldo dan teman-temannya adalah angkatan pertama yang dapat kurikulum baru yakni kuliahnya hanya 4 tahun setara dengan perguruan tinggi lain. Hal ini membuat pada wisuda Agustus 2018 yang diwisudakan bukan hanya angkatan kami yaitu angkatan 2013 tetapi sebagian dari angkatan mereka juga ikut diwisudakan dengan kami. Termasuk si Aldo. Wisuda kami dilangsungkan di gereja GKI Pengharapan Jayapura. 

     Sudah pernah belum kamu yang baca ini ngalamin seperti yang kualami... apakah itu??? Crush kamu jadi juara 1 di jurusannya (prodinya) dan kamu jadi juara 1 di jurusanmu (prodimu). Itu kenangan terakhirku yang paling indah dengan Aldo yang pernah ada dalam ingatanku. Wisuda bersama-sama dan menjadi juara 1 di program studi masing-masing dengan hasil Cum Laude. Dia membawakan pidato dan aku membawakan janji mahasiswa/i pada hari wisuda kami. Bahkan dia sempat menjabat tanganku dengan wajah kegirangan setelah mendengarkan pengumuman hasil kelulusan IPK-ku yang lebih tinggi darinya. Sayangnya, aku tak pernah memiliki kenangan foto berdua dengannya. Yang ada hanyalah kusimpan semua kenangan indah ini dalam hati dan pikiranku.

     Plotwist nya adalah setelah kami selesai dari kampus, dia rencana studi lanjut S2 di luar Papua. Tapi karena 1 dan lain hal akhirnya dia beralih profesi untuk menjadi abdi negara dan bukan hamba TUHAN (Pendeta).


~Lanjut Part 2 atau Tidak? Beritahu aku 😊 ~



Nostalgia "Dies Natalis Kampus"

       Ini aku dan kisah nyataku yang tersimpan rapih dalam memori ingatan yang sengaja kubuka kembali setelah sekian lama berhubung tahun i...