SHORT
STORY
“KUE PEMBAWA BERKAT”
Perkenalkan
nama-ku Cindy aku adalah anak pertama dari 7 bersaudara. Orangtua-ku nggak
kaya-kaya amat mereka hanyalah penjual kue doang membuat adik-adik-ku nggak
bisa bersekolah. Yang bersekolah hanyalah aku dan harapan mereka cuman ada pada
diri-ku supaya bisa menjadi orang hebat seperti yang mereka harapkan.Ini
cerita-ku.
***
“Cin, Cin udah pagi ayo cepet
bangun mandi lalu sarapan dan berangkat ke sekolah nanti kamu terlambat lagi”,
suara ibu Cindy membuatnya segera bangun dan menuju ke kamar mandi untuk mandi.
(Tok-tok-tok) “aduh siapa sih di kamar mandi cepetan dong nggak tahu apa aku
bakalan terlambat kalau kayak gini caranya awas yah...kalau keluarnya kelamaan
aku toki nih kepalanya pakai handuk”, bentak Cindy dari luar kamar mandi
membuat adikknya Lidia segera keluar dari kamar mandi “maaf kak Lidia ke belet
pipis jadinya menghalangi kakak buat mandi”, jawab Lidia dengan nada
mendatar (sambil menundukkan kepalanya). “Iya...iya kali ini kakak maafin
jangan ulangi lagi kalau sampe ulangi lagi awas kamu”. Begitulah sifat Cindy
nggak di sekolah nggak di rumah sifatnya sama saja membuat ayah dan ibunya
ingin sekali menyadarkannya supaya bisa mengubah
sifatnya yang suka manja,
mau
serba ada, dan
suka marah-marahin adik-adiknya.
***
“Teng...teng...teng
lonceng sekolah Cindy berbunyi,
Cindy
bersekolah di salah satu sekolah yang lumayan mahal karena dia gengsi harus
sekolah di kampus,takut di bilang ketinggalan jaman dan anak kampungan. Di
sekolah Cindy termasuk anak yang nggak terlalu pintar dan nggak bodoh juga tapi
dia bisa terkenal karena berteman dengan anak-anak kaya yang terbilang populer
di sekolah itu, Cindy
juga nggak mau ngaku pekerjaan orangtuanya apa dan rumahnya di mana. “Eh entar
kita mau nonton film di bioskop loh mau ikutan nggak Cin”, tanya Lisa pada
Cindy (Sambil menunggu pelajaran pertama di mulai). “Aku mau dong jam berapa
kita pergi terus karcisnya bayar berapa sih?”, Tanya Cindy pada Lisa, “karcisnya Rp.100.000-an” jawab Lisa sinis, “wah ada ngitung-ngitung
nih jangan-jangan nggak mampu kali loh”, Lisa semakin menyindir Cindy. “Ha..ha..ha..ha
emangnya loh pikir gue nggak bisa apa beli karcis gitu doang lagi pula kalian
berdua bakal gue traktir makan deh entar
kalau emang gue bohonga nggak punya duit gimana?”,
jawab Cindy (dengan nada meyakinkan kedua temannya) “Iya deh kita berdua
percaya”,jawab Christin dan Lisa serentak. “Kamu mau dijemput jam berapa Cin
soalnya filmnya mulai jam 19.00 malam”, tanya Christin pada Cindy “Ah nggak
usah dijemput nanti kita ketemuan aja di bioskop ok”, jawab Cindy pada kedua
temannya. “Yah udah deh”,sahut Lisa. Tak lama kemudian guru Matematika mereka
masuk dan mereka pun mengikuti pelajaran Matematika dengan pikiran yang tidak
konsentrasi akibat
terbayang-bayang akan keseruan jalan-jalan bareng ke biskop
nanti malam. Satu demi satu pelajaran mereka lewati sampai waktunya
jam pulang sekolah jam 1 siang. “Sampai jumpa ntar malam yah Cin”, sahut Lisa dan Christin, “ok sampai jumpa juga
sebentar malam”,balas Cindy.
***
“Selamat
siang, ayah
dan ibu ada uang nggak aku pengen nonton ama temen-temen-ku ntar malem di
bioskop”, (kedua orangtuanya heran melihat anak mereka Cindy) “kamu ini pulang sekolah langsung nanya duit
emang ayah sama ibu kerjanya apaan sih sampai kamu pengen pergi kesana-sini
hanya untuk bersenang-senang lebih baik kamu belajar bikin kue sama ibu kamu
supaya kamu itu bisa membantu kami orangtua”, nasihat yang keluar dari mulut
ayahnya membuat Cindy marah dan lari ke kamarnya lalu menutup pintu kamarnya (duk,bunyi yang kasar).
“Biarkan saja bu nanti dia akan mengerti bahwa apa yang dia lakukan itu salah”,
“Iya pa tapi bapa nggak boleh terlalu kasar sama Cindy”, “bapa nggak kasar bu
bapa hanya menasihati dia supaya dia bisa menata masa depannya dan bisa lebih
baik lagi dari kita berdua harus
sukses dan memerhatikan adik-adiknya”, tiba-tiba Cindy keluar
(bunyi pintu terbuka) bapa,
ibu
maafin Cindy yah emang apa yang bapa dan ibu bilang itu bener Cindy harusnya
bersyukur bisa sekolah sekarang dan mendapat fasilitas yang baik dari bapa dan
ibu. Cindy sadar Cindy memberatkan bapa dan ibu sekarang Cindy mau diajarin
buat kue sama ibu, Cindy
nggak akan pergi ikut temen-temen Cindy buat menghambur-hamburkan uang Cindy akan nelpon mereka batalin jalan-jalannya, kata
Cindy. “Baiklah sayang sekarang kita pergi ke toko buat
beli bahan-bahannya”, sahut ibunya Cindy “Iya bu ayo kita pergi tapi tunggu
dulu Cindy ganti bajunya”,jawab Cindy. Cindy
dan ibunya berjalan ke toko dan membeli
bahan-bahan kue untuk membuat kue dan di jual di kios kecil milik mereka yang
berada di dekat emperan toko-toko ternama di Jakarta.
***
Keesokan
harinya Cindy ke sekolah dan temen-temennya Lisa dan Christin memarahinya. “Cin
mana kata-kata loh yang sok-sok mau traktir kita makan”, suara cempreng Lisa menusuk telinga
Cindy, “alah Lis kayak loh
nggak tahu aja Cindy kan hanya mulut besar
doang buktinya nggak ada
gayanya
aja sok mau gabung dengan kita berdua padahal janji kayak gini aja nggak
ditepati”, sindir Christin “ayo kita pergi aja, kamu udah bukan lagi
temen kita”, kata-kata
Lisa menyayat jantung Cindy. Sekarang Cindy hanyalah sebatang kara di sekolah
nggak ada satupun yang mau deket dengan dia, tapi dia tetep senang
karena masih ada ayah,ibu dan adik-adiknya dan yang paling penting sekarang dia
fokus untuk membantu kedua orangtuanya. Sepulang sekolah Cindy membantu ibunya
membuat kue dan Cindy serta adik-adiknya dengan semangat pergi mengantarkan
kue-kue itu ke kios mereka dan adik-adiknya membantu Cindy menjaga kios kue
mereka. Tak lama mereka menjaga kue itu tiba-tiba temen-temen Cindy yaitu Lisa
dan Christin tak sengaja memarkirkan
mobil mereka di dekat kios kuenya. “Eh ada
penjual kue yah di sini,
pentesan
aja kemaren nggak berani ikut kita ke bioskop karena ternyata miskin toh”,
sindir Christin “ha...ha...ha yaiyalah emangnya ada yah penjual kue bisa
nge-shooping ke toko-toko mewah dan nonton
di bioskop”, sambung Lisa. “Emang aku bukan orang
kaya seperti kalian berdua tapi aku juga punya harga diri,aku bangga bisa
bekerja seperti ini yang penting aku dapetin uang halal buat hidupin
keluarga-ku nggak kayak kalian berdua yang hanya menghabiskan uang orang tua kalian”, kata-kata
kasar yang keluar dari mulut Cindy membuat Lisa dan Christin tak dapat
berkata-kata lagi, “ayo kita pergi yuk males lama-lama di tempat kumuh kayak
gini” kata Lisa pada Christin “Yuk aku juga males di sini” jawab Christin.
***
Setahun
kemudian ayah Cindy meninggal membuat dia terpukul
dan harus berpikir menjalani hidupnya kedepan bersama ibu dan adik-adiknya apalagi
ibunya sakit parah karena kesedihan
yang berkepanjangan membuat penyakit-penyakit muncul dalam tubuh ibunya.
Sekarang Cindy fokus membuat kue demi menghasilkan uang bagi keluarganya dia berhenti dari sekolahnya dan memilih meneruskan
usaha keluarga.
Hari itu cuaca sangat baik sekali bagi anak-anak yang mau kesekolah,
orang-orang yang berpergian ke tempat kerja dan adik Cindy yang menjaga ruko
sembari menunggu Cindy mengantarkan sebagian kue yang dibuat dari rumah ke
ruko. Tiba-tiba ada suara dari jauh makin mendekat menyapa ”selamat pagi dek”, sapa seorang
pemuda bernama Andi pada adik Cindy bernama Dinda yang saat itu menjaga kios
kue. “Iya pagi kak,ada perlu apa
yah”, sahut
Dinda “adik pemilik ruko
kue ini?” Tanya Andi pada Dinda,”iya benar
kak ini ruko milik keluarga kami”, jawab Dinda,
“begini ada salah satu karyawan perusahaan kakak yang suka membeli kue di sini
dan kakak pernah mencobanya,kuenya enak sekali maka kakak ingin menawarkan pada
adik” (belum lama berbicara Cindy datang) “Kak ini ada yang perlu kakak”, kata Dinda “Siapa Din?”
tanya Cindy “Tuh orangnya kakak yang layani deh biar kakak yang lebih tahu”. “Pagi mba,mba pemilik ruko kue ini?”, tanya Andy pemuda yang sedari tadi berbicara dengan
Dinda, “Iya benar,emangnya ada apa yah?” Cindy menjawab dengan wajah penasaran,
“perkenalkan nama aku Andi, sambil
menyodorkan tangannya, Cindy juga menyodorkan tangannya dan berkat, ”nama
aku Cindy”. ”Enggak
mba jadi gini aku sudah beberapa
hari ini ngerasa ada yang berbeda dari kue-kue yang disajikan di kantorku waktu aku
tanya sama OB-ku dimana mereka membeli dan mereka bilang
kuenya dari rukonya mba yang
di beli dan
rasanya enak banget jadi aku mau nawarin mba gimana kalau kita bekerja sama jadi
mba menyediakan sarapan kue-kue dari ruko ini ke kantorku
setiap hari bagaimana?”, tawar Andy kepada Cindy. Cindy terharu sampai air
mata keluar dari matanya dan dia menjawab Andy, “saya menerima tawarannya
terima kasih banyak atas kebaikan hati bapak”,”nggak usah panggil bapak panggil
Andy saja”,”eh…iya terima kasih Andy”.
***
Akhir yang bahagia, Cindy mampu bekerja menyediakan
sarapan kue setiap pagi ke kantor Andy dan Cindy bisa membantu biaya berobat
ibunya serta menyekolahkan ke-6 adiknya. Setiap Sabtu dan Minggu ruko kuenya tutup dan biasanya Cindy menikmati hari liburnya itu di halaman rumahnya. Ibu yang melihat Cindy duduk di belakang halaman rumah mereka, datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya serta berkata “Cindy ibu bangga
sekali melihat apa yang sudah kamu lakukan
kesalahanmu di masa lalu telah mengubahmu menjadi anak yang bertanggung jawab
itu semua berkat nasihat keras dari almarhum bapamu, pasti bapamu di Surga sana
tersenyum melihat kerja keras-mu,
nak”, “ibu ini memang sudah
menjadi tanggung-jawab Cindy sebagai anak dan sebagai kakak tertua yang harus
mengurus ibu dan adik-adik, Cindy minta maaf karena selalu menyusahkan ibu dan
bapa”, Cindy menunduk dan menendang-nendang rumput yang ada dibawah kursi tempat ia dan ibunya duduk, ibunya berkata lagi, ”kamu harus lanjutkan sekolahmu yah nak”, “tapi ibu aku kan sudah umuran
tidak bisa masuk SMA lagi”,”kamu ikut ujian paket saja sayang nggak ada yang
nggak mungkin selama kita mau berusaha seperti kamu membantu mengembangkan
usaha keluarga ini, ibu yakin kamu pasti mampu menyelesaikan sekolahmu yang
tertunda juga”,”baik bu”, “maafkan ibu karena kesakitan ibu membuatmu
repot,”nggak papa bu Cindy sayang ibu dan adik-adik apapun akan ibu lakukan untuk keluarga kita," Cindy dan ibunya berhadapan lalu berpelukan.
Inilah kisah hidupku yang kubagikan bahwa kita harus siap sedia menghadapi hidup ini baik atau nggak baik tetep harus berusaha. Kepergian salah satu orang tua kita entah itu bapa atau ibu akan buat kita jadi orang yang lebih dewasa lagi. Jadi nggak boleh patah semangat yakinlah bahwa ada orang-orang yang setia dukung kita terlebih Tuhan. 💙
KARYA : APRIANI PASKALIN AYOMI



No comments:
Post a Comment