Saturday, July 25, 2020

Cerpen, Kue Pembawa Berkat".


SHORT STORY

KUE PEMBAWA BERKAT






Perkenalkan nama-ku Cindy aku adalah anak pertama dari 7 bersaudara. Orangtua-ku nggak kaya-kaya amat mereka hanyalah penjual kue doang membuat adik-adik-ku nggak bisa bersekolah. Yang bersekolah hanyalah aku dan harapan mereka cuman ada pada diri-ku supaya bisa menjadi orang hebat seperti yang mereka harapkan.Ini cerita-ku.

***
“Cin, Cin udah pagi ayo cepet bangun mandi lalu sarapan dan berangkat ke sekolah nanti kamu terlambat lagi”, suara ibu Cindy membuatnya segera bangun dan menuju ke kamar mandi untuk mandi. (Tok-tok-tok) “aduh siapa sih di kamar mandi cepetan dong nggak tahu apa aku bakalan terlambat kalau kayak gini caranya awas yah...kalau keluarnya kelamaan aku toki nih kepalanya pakai handuk”, bentak Cindy dari luar kamar mandi membuat adikknya Lidia segera keluar dari kamar mandi “maaf kak Lidia ke belet pipis jadinya menghalangi kakak buat mandi”, jawab Lidia dengan nada mendatar (sambil menundukkan kepalanya). “Iya...iya kali ini kakak maafin jangan ulangi lagi kalau sampe ulangi lagi awas kamu”. Begitulah sifat Cindy nggak di sekolah nggak di rumah sifatnya sama saja membuat ayah dan ibunya ingin sekali menyadarkannya supaya bisa mengubah sifatnya yang suka manja, mau serba ada, dan suka marah-marahin adik-adiknya.

***
“Teng...teng...teng lonceng sekolah Cindy berbunyi, Cindy bersekolah di salah satu sekolah yang lumayan mahal karena dia gengsi harus sekolah di kampus,takut di bilang ketinggalan jaman dan anak kampungan. Di sekolah Cindy termasuk anak yang nggak terlalu pintar dan nggak bodoh juga tapi dia bisa terkenal karena berteman dengan anak-anak kaya yang terbilang populer di sekolah itu, Cindy juga nggak mau ngaku pekerjaan orangtuanya apa dan rumahnya di mana. “Eh entar kita mau nonton film di bioskop loh mau ikutan nggak Cin”, tanya Lisa pada Cindy (Sambil menunggu pelajaran pertama di mulai). “Aku mau dong jam berapa kita pergi terus karcisnya bayar berapa sih?”, Tanya Cindy pada Lisa, “karcisnya Rp.100.000-an” jawab Lisa sinis, wah ada ngitung-ngitung nih jangan-jangan nggak mampu kali loh”, Lisa semakin menyindir Cindy. “Ha..ha..ha..ha emangnya loh pikir gue nggak bisa apa beli karcis gitu doang lagi pula kalian berdua bakal gue traktir makan deh entar kalau emang gue bohonga nggak punya duit gimana?”, jawab Cindy (dengan nada meyakinkan kedua temannya) “Iya deh kita berdua percaya”,jawab Christin dan Lisa serentak. “Kamu mau dijemput jam berapa Cin soalnya filmnya mulai jam 19.00 malam”, tanya Christin pada Cindy “Ah nggak usah dijemput nanti kita ketemuan aja di bioskop ok”, jawab Cindy pada kedua temannya. “Yah udah deh”,sahut Lisa. Tak lama kemudian guru Matematika mereka masuk dan mereka pun mengikuti pelajaran Matematika dengan pikiran yang tidak konsentrasi akibat terbayang-bayang akan keseruan jalan-jalan bareng ke biskop nanti malam. Satu demi satu pelajaran mereka lewati sampai waktunya jam pulang sekolah jam 1 siang. “Sampai jumpa ntar malam yah Cin”, sahut Lisa dan Christin, “ok sampai jumpa juga sebentar malam”,balas Cindy.

***
“Selamat siang, ayah dan ibu ada uang nggak aku pengen nonton ama temen-temen-ku ntar malem di bioskop”, (kedua orangtuanya heran melihat anak mereka Cindy) “kamu ini pulang sekolah langsung nanya duit emang ayah sama ibu kerjanya apaan sih sampai kamu pengen pergi kesana-sini hanya untuk bersenang-senang lebih baik kamu belajar bikin kue sama ibu kamu supaya kamu itu bisa membantu kami orangtua”, nasihat yang keluar dari mulut ayahnya membuat Cindy marah dan lari ke kamarnya lalu menutup pintu kamarnya (duk,bunyi yang kasar). “Biarkan saja bu nanti dia akan mengerti bahwa apa yang dia lakukan itu salah”, “Iya pa tapi bapa nggak boleh terlalu kasar sama Cindy”, “bapa nggak kasar bu bapa hanya menasihati dia supaya dia bisa menata masa depannya dan bisa lebih baik lagi dari kita berdua harus sukses dan memerhatikan adik-adiknya”, tiba-tiba Cindy keluar (bunyi pintu terbuka) bapa, ibu maafin Cindy yah emang apa yang bapa dan ibu bilang itu bener Cindy harusnya bersyukur bisa sekolah sekarang dan mendapat fasilitas yang baik dari bapa dan ibu. Cindy sadar Cindy memberatkan bapa dan ibu sekarang Cindy mau diajarin buat kue sama ibu, Cindy nggak akan pergi ikut temen-temen Cindy buat menghambur-hamburkan uang Cindy akan nelpon mereka batalin jalan-jalannya, kata Cindy. “Baiklah sayang sekarang kita pergi ke toko buat beli bahan-bahannya”, sahut ibunya Cindy “Iya bu ayo kita pergi tapi tunggu dulu Cindy ganti bajunya”,jawab Cindy. Cindy dan ibunya berjalan ke toko dan membeli bahan-bahan kue untuk membuat kue dan di jual di kios kecil milik mereka yang berada di dekat emperan toko-toko ternama di Jakarta.

***

Keesokan harinya Cindy ke sekolah dan temen-temennya Lisa dan Christin memarahinya. “Cin mana kata-kata loh yang sok-sok mau traktir kita makan”, suara cempreng Lisa menusuk telinga Cindy, “alah Lis kayak loh nggak tahu aja Cindy kan hanya mulut besar doang buktinya nggak ada gayanya aja sok mau gabung dengan kita berdua padahal janji kayak gini aja nggak ditepati”, sindir Christin “ayo kita pergi aja, kamu udah bukan lagi temen kita”, kata-kata Lisa menyayat jantung Cindy. Sekarang Cindy hanyalah sebatang kara di sekolah nggak ada satupun yang mau deket dengan dia, tapi dia tetep senang karena masih ada ayah,ibu dan adik-adiknya dan yang paling penting sekarang dia fokus untuk membantu kedua orangtuanya. Sepulang sekolah Cindy membantu ibunya membuat kue dan Cindy serta adik-adiknya dengan semangat pergi mengantarkan kue-kue itu ke kios mereka dan adik-adiknya membantu Cindy menjaga kios kue mereka. Tak lama mereka menjaga kue itu tiba-tiba temen-temen Cindy yaitu Lisa dan Christin tak sengaja memarkirkan mobil mereka di dekat kios kuenya. “Eh ada penjual kue yah di sini, pentesan aja kemaren nggak berani ikut kita ke bioskop karena ternyata miskin toh”, sindir Christin “ha...ha...ha yaiyalah emangnya ada yah penjual kue bisa nge-shooping ke toko-toko mewah dan nonton di bioskop”, sambung Lisa. “Emang aku bukan orang kaya seperti kalian berdua tapi aku juga punya harga diri,aku bangga bisa bekerja seperti ini yang penting aku dapetin uang halal buat hidupin keluarga-ku nggak kayak kalian berdua yang hanya menghabiskan uang orang tua kalian”, kata-kata kasar yang keluar dari mulut Cindy membuat Lisa dan Christin tak dapat berkata-kata lagi, “ayo kita pergi yuk males lama-lama di tempat kumuh kayak gini” kata Lisa pada Christin “Yuk aku juga males di sini” jawab Christin.

***
Setahun kemudian ayah Cindy meninggal membuat dia terpukul dan harus berpikir menjalani hidupnya kedepan bersama ibu dan adik-adiknya apalagi ibunya sakit parah karena kesedihan yang berkepanjangan membuat penyakit-penyakit muncul dalam tubuh ibunya. Sekarang Cindy fokus membuat kue demi menghasilkan uang bagi keluarganya dia berhenti dari sekolahnya dan memilih meneruskan usaha keluarga. Hari itu cuaca sangat baik sekali bagi anak-anak yang mau kesekolah, orang-orang yang berpergian ke tempat kerja dan adik Cindy yang menjaga ruko sembari menunggu Cindy mengantarkan sebagian kue yang dibuat dari rumah ke ruko. Tiba-tiba ada suara dari jauh makin mendekat menyapa selamat pagi dek”, sapa seorang pemuda bernama Andi pada adik Cindy bernama Dinda yang saat itu menjaga kios kue. “Iya pagi kak,ada perlu apa yah”, sahut Dinda “adik pemilik ruko kue ini?” Tanya Andi pada Dinda,”iya benar kak ini ruko milik keluarga kami”, jawab Dinda, “begini ada salah satu karyawan perusahaan kakak yang suka membeli kue di sini dan kakak pernah mencobanya,kuenya enak sekali maka kakak ingin menawarkan pada adik” (belum lama berbicara Cindy datang) “Kak ini ada yang perlu kakak”, kata Dinda “Siapa Din?” tanya Cindy “Tuh orangnya kakak yang layani deh biar kakak yang lebih tahu”. “Pagi mba,mba pemilik ruko kue ini?”, tanya Andy pemuda yang sedari tadi berbicara dengan Dinda, “Iya benar,emangnya ada apa yah?” Cindy menjawab dengan wajah penasaran, “perkenalkan nama aku Andi, sambil menyodorkan tangannya, Cindy juga menyodorkan tangannya dan berkat, ”nama aku Cindy”. ”Enggak mba jadi gini aku sudah beberapa hari ini ngerasa ada yang berbeda dari kue-kue yang disajikan di kantorku waktu aku tanya sama OB-ku dimana mereka membeli dan mereka bilang kuenya dari rukonya mba yang di beli dan rasanya enak banget jadi aku mau nawarin mba gimana kalau kita bekerja sama jadi mba menyediakan sarapan kue-kue dari ruko ini ke kantorku setiap hari bagaimana?”, tawar Andy kepada Cindy. Cindy terharu sampai air mata keluar dari matanya dan dia menjawab Andy, “saya menerima tawarannya terima kasih banyak atas kebaikan hati bapak”,”nggak usah panggil bapak panggil Andy saja”,”eh…iya terima kasih Andy”.

***

Akhir yang bahagia, Cindy mampu bekerja menyediakan sarapan kue setiap pagi ke kantor Andy dan Cindy bisa membantu biaya berobat ibunya serta menyekolahkan ke-6 adiknya. Setiap Sabtu dan Minggu ruko kuenya tutup dan biasanya Cindy menikmati hari liburnya itu di halaman rumahnya. Ibu yang melihat Cindy duduk di belakang halaman rumah mereka, datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya serta berkata “Cindy ibu bangga sekali melihat apa yang sudah kamu lakukan kesalahanmu di masa lalu telah mengubahmu menjadi anak yang bertanggung jawab itu semua berkat nasihat keras dari almarhum bapamu, pasti bapamu di Surga sana tersenyum melihat kerja keras-mu, nak”, “ibu ini memang sudah menjadi tanggung-jawab Cindy sebagai anak dan sebagai kakak tertua yang harus mengurus ibu dan adik-adik, Cindy minta maaf karena selalu menyusahkan ibu dan bapa”, Cindy menunduk dan menendang-nendang rumput yang ada dibawah kursi tempat ia dan ibunya duduk, ibunya berkata lagi, ”kamu harus lanjutkan sekolahmu yah nak”, “tapi ibu aku kan sudah umuran tidak bisa masuk SMA lagi”,”kamu ikut ujian paket saja sayang nggak ada yang nggak mungkin selama kita mau berusaha seperti kamu membantu mengembangkan usaha keluarga ini, ibu yakin kamu pasti mampu menyelesaikan sekolahmu yang tertunda juga”,”baik bu”, “maafkan ibu karena kesakitan ibu membuatmu repot,”nggak papa bu Cindy sayang ibu dan adik-adik apapun akan ibu lakukan untuk keluarga kita," Cindy dan ibunya berhadapan lalu berpelukan.

Inilah kisah hidupku yang kubagikan bahwa kita harus siap sedia menghadapi hidup ini baik atau nggak baik tetep harus berusaha. Kepergian salah satu orang tua kita entah itu bapa atau ibu akan buat kita jadi orang yang lebih dewasa lagi. Jadi nggak boleh patah semangat yakinlah bahwa ada orang-orang yang setia dukung kita terlebih Tuhan. 💙


KARYA : APRIANI PASKALIN AYOMI

No comments:

Post a Comment

Nostalgia "Dies Natalis Kampus"

       Ini aku dan kisah nyataku yang tersimpan rapih dalam memori ingatan yang sengaja kubuka kembali setelah sekian lama berhubung tahun i...