SHORT STORY
BERDASARKAN KISAH NYATA HIDUPKU
“LIMA KALI KUCOBA”
Lima tahun berlalu dengan cepat aku sudah sarjana
rupanya. Berkuliah dengan tekun bersusah-susah selama lima tahun akhirnya saat
yang kunantikan tiba juga, aku wisuda. Dan aku bahagia sekali karena dinobatkan
sebagai mahasiswa dengan predikat cum laude pada bidang yang kutempuh yaitu
pendidikan agama. “Selamat yah Dina, Ayah dan Ibu bangga sekali padamu” kata
Ibu,”iya Dina tapi ingat tetap rendah hati” sambung Ayah. “Selamat adik bungsu
kita” kedua kakakku yang ikut pada waktu aku yudisium dan wisuda memberi
selamat padaku. Setelah kami sampai dirumah ayah dan ibu mengatakan bahwa tidak
ada acara untuk wisudaku tapi akan ada ibadah keluarga dirumah sesuai jadwal
ibadah dalam lingkungan gereja kami, jadi pengucapan syukur wisudaku disatukan
dengan ibadah keluarga tersebut. “tidak apa-apa bu, yang penting aku boleh yah
undang ketiga sahabat SMA-ku”, kataku,”tentu saja boleh sayang”, jawab ibu.
Akhirnya semua kebahagiaan waktu aku yudisium dan wisuda segera berlalu seiring
berjalannya waktu yang begitu cepat.
***
Dengan perjuangan keras setelah yudisium dan wisuda
aku kembali ke kampusku dan bersama teman-teman lainnya kami mengecek ijasah
kami dibagian Akademik. Meskipun kami agak kelelahan bulak-balik kampus untuk
mengecek ijasah kami tapi akhirnya kami bisa memegangnya juga di hari terakhir
pendaftaran CPNS 2018. Karena kami semua terburu-buru ingin mendaftar CPNS.
“Kakak tolong kami, kami mau daftar CPNS hari ini ditutup pendaftarannya”, kata
Denis, “iya kak tolong aku sudah isi semua persyaratan tinggal nomor seri
ijasah”, timpal Ria. “Baik-baik tinggu sebentar yah sedikit lagi ibu wakil
ketua bagian akademik menandatangani ijasah kalian baru boleh diambil”, kata
kakak Roni yang bekerja di bagian Akademik kepada kami. “Teman-teman bagaimana
kalau kita jalan-jalan ke toko Saga abe setelah itu baru kita balik lagi ke
kampus”, ajak Fina, “boleh…boleh ayo nanti setelah ini kita pasti tidak sering
bertemu lagi karena masing-masing pulang ke daerah asal”, seru Kezia, “oke deh
kalau begitu” kataku, serempak teman-teman lain mengiyakan. Kelas kami hanya
terdiri dari 12 orang jadi tidak banyak seperti teman-teman kami yang dijurusan
lain sehingga kami terlihat kompak. Jalan-jalan pun sukses ada makan bakso
bersama juga, lalu kami berjalan kaki kembali ke kampus dan akhirnya yang
ditunggu-tunggu tiba. Ijasah kami diberikan hampir jam 18:00 WIT. Dengan
bergegas aku meminta tolong temanku Denis, “Den bantu aku mendaftar CPNS 2018
dong kamu kan sudah”, “tapi kamu ada internet tidak? Di rumah”, tanya Denis,
“tentu saja aku ada kami pasang Wi-Fi, ada laptopku dan semua persyaratan CPNS
siap sedia, hanya ini pertama kali untukku dan aku masih bingung”, kataku. “Oke
nanti aku bantuin”, kata Denis. Teman-teman yang lain sudah pada pulang dan aku
mengajak Denis “ayo kita ke rumahku sekarang nanti pendaftarannya keburu
tutup”, cetusku. Akhirnya malam itu dengan hujan, kilat dan guntur aku mengurus
semua persyaratanku dan namaku terdaftar dalam seleksi CPNS 2018, aku berterima
kasih kepada temanku Denis yang sudah membantuku. Karena kehujanan dan rumahnya
jauh di Polimak temanku Denis berpamitan pulang. Setelah hari itu aku berdoa
dengan tekun menanti hasil tes, hingga saat yang dinantikan tiba. Aku berdoa
dan membuka laptopku, sangat disayangkan melihat hasil tesku. “Ayah, Ibu aku
tidak lolos” dengan setengah suara aku menyahut dari kamar tidurku memberi tahu
ayah dan ibuku. “tidak apa-apa jangan patah semangat coba lagi yang lain” kata
ayah menyemangatiku, “iya benar masih banyak tempat lain yang menunggumu mendaftar
pekerjaan” sambung ibu. Dengan kecewa aku mematikan laptopku dan tidak
mengambil bagian dalam makan malam tetapi langsung tidur. Ayah, ibu seandainya
kalian tahu betapa aku berjuang gigih demi membanggakan hati kalian karena
telah memiliki aku sebagai anak kalian yang berguna dalam keluarga.
***
Hari-hari berlalu aku menjalani aktivitas yang
menurutku sangat membosankan yaitu membantu ibuku mengerjakan pekerjaan
sehari-hari dirumah. Setelah membantu ibu memasak aku berusaha membuka internet
di akun Facebook dan Instagramku, aku berusaha mencari pekerjaan lagi. Kutemukan
satu akun menulis dibutuhkan customer
service di salah satu tempat kursus bahasa Inggris, “mau coba ah”, “coba apan” sapa kakak sepupuku yang dari
tadi sudah ada di depan pintu kamarku dan memerhatikanku mengotak atik
handphoneku, “eh kak Kia sudah datang dari tadi?” tanyaku, “baru saja nih”,
“kak temenin aku urusin lamaran kerjaan di Entrop”,”boleh…boleh kapan?” tanya
kak Kia,”sekaranglah kak masa 20 tahun lagi kan ketuaan”, candaku, “hahahaha…”
serempak kami tertawa. Dengan semangat aku dan kakak sepupuku mengurus lamaran
kerja hari itu juga selepas makan siang bersama lamaranku aku berikan kepada
ayahku untuk didoakan. “semoga berhasil, nak” kata ayah, “terima kasih ayah”.
Sesudah berpamitan, aku dan kakak sepupuku mengantarnya ke tempat kursus
tersebut yang terletak di Entrop. Sayang dan sangat disayangkan sesampainya
disana aku ditolak karena posisi yang mau kulamar sudah ada yang menempatinya.
Lamaran keduaku ditolak, tetapi ayah dan ibuku terus menyemangatiku dengan
berbagai kata-kata bijak. Aku harus bisa move on sekarang dan mencari pekerjaan
lain. Kebetulan saja ada lowongan di salah satu organisasi keagamaan yang
berada di Jerman karena mereka bekerja sama dengan gereja tempat aku beribadah.
Lamaranku aku kirim lewat e-mail karena aku punya basic English yang bagus
karena pernah mengikuti kursus bahasa Inggris di Australia salah satu program
yang kakak-kakakku ikut juga sewaktu mereka kuliah, jadi aku optimis bakalan
lolos. Seperti biasa kamaranku, aku berikan ke ayahku untuk didoakan dan
setelah itu baru aku kirimkan lamaran tersebut melalui e-mail. Hampir sebulan
aku menanti dengan harap dan cemas, tiap selesai melakukan aktivitas di dalam
rumah aku mengecek e-mail masuk di laptopku. Akhirnya jawaban datang e-mail
baru di kotak masuk. “Wuhuuuuhhuu…akhirnya aku diterima” ucapku bahagia, “anak
ibu diterima”, sahut ibu dari luar kamar yang mendengarku bergembira mendapat
e-mail.”Huffftthh…lagi-lagi kejadian” kataku dengan air mata dipipi sambil
melihat isi e-mail tersebut yang bertuliskan sorry we already chose another person to take the position that you would like to apply for. Ibu yang dari tadi
mendengarku bersorak dikamar lalu tiba-tiba suasana menjadi hening, ia penasaran
dan mengetuk pintu kamarku tapi aku tidak menghiraukannya, ibuku terdiam di
depan pintu kamarku karena ia tahu bahwa lagi-lagi aku tidak diterima kerja.
***
Keesokan harinya pagi-pagi, aku menemani ibu ke
pasar karena belanjaan kami sudah banyak aku memutuskan untuk menunggu ibu
dipintu pagar keluar dari pasar. “Hei Dina”, sapa seseorang dibelakangku yang
mengagetkan aku yang sedang duduk bengong menunggu ibu. “oh…hai Lisa”, sapaku,
“lama sekali kita tidak berjumpa”, kami berdua berjabat tangan dan berpelukkan.
Tak bisa kujelaskan dengan kata-kata Lisa teman SMA-ku dulu dia sudah secantik
ini, dulu rambutnya pendek sekarang rambutnya panjang, ia memakai make-up dan
tentu saja apa yang ia kenakkan? Pakaian dinas. Hebat sekali dia, tidak seperti
diriku yang sekolahnya dapat predikat cum-laude tapi tidak ada guna sama sekali
di dunia mencari pekerjaan dan bekerja. “Kamu dengan siapa ke pasar?” tanya
Lisa mengagetkanku dari lamunanku yang mengharapkan bisa menjadi seperti
dirinya, “dengan ibu, ibu lagi belanja ayam di dalam karena barang bawaan kami
banyak aku milih duduk dipintu keluar pasar, kamu sendiri ngapain ke pasar
dengan pakaian rapih gitu”,”oh ini aku mau belanja buah-buahan anakku sakit
karena suamiku yang jaga di rumah sakit maka aku mutusin buat ke pasar beliin
buah buat dia kata dokter buah bagus untuk kesehatannya”,”semoga cepat sembuh
yah anakmu”,”terima kasih untuk dukungannya, oh iya kamu sekarang kerja
dimana”, “tidak usah bertanya tentang pekerjaan deh, kalau yang punya kantoran
itu keluargaku pasti aku diterima”,”jangan patah semangat mulai dari yang kecil
aja sebagai honorer siapa tahu kalau ada pengangkatan kamu diangkat juga”,”iya
ntar aku coba”,”atau antarkan saja lamaranmu ke restoran atau café dan
lain-lain”, “terima kasih untuk saran dan jalan keluarnya”. “Dina ayo kita
pulang” panggil ibuku dari jalan sebelah, “oke bu sebentar” balasku. “Lisa aku
pamit dulu ibuku sudah panggil-panggil”,”oke sampai nanti yah”, aku dan Lisa
berpisah disitu, aku pulang bersama ibu naik taksi dan Lisa berjalan masuk ke
pasar ke tempat jualan buah segar. Dalam perjalanan pulang di taksi ada yang
meninggalkan selebaran dari toko Pizza yang baru dibuka dan membutuhkan tenaga
kerja tanpa berpikir panjang aku mengambil selebaran tersebut dan menyimpannya
disaku. Sesampainya dirumah aku meletakkan semua barang belanjaan dan aku
mencoba saran Lisa, lamaranku kuantarkan ke toko Pizza. Setelah lamarannya diterima dan dibaca oleh bosnya,
aku ditelepon oleh mereka dan aku kembali lagi ke toko Pizza tersebut keesokan
harinya. Semuanya oke, aku diinterview, setelah interview hasilnya aku terima
saat itu juga bahwa aku ditolak bekerja di toko tersebut dengan alasan karena
pendidikanku tinggi dengan nilai akademik yang bagus tidak layak bagiku untuk
bekerja di toko. Untuk keempat kalinya aku ditolak bekerja, dengan alasan yang
menurutku tidak masuk akal. Aku hanya butuh pekerjaan dan nilaiku tak ku
pedulikan selama aku bisa memberi uang untuk kedua orangtuaku, terlebih ayahku yang
sebentar lagi pensiun dengan begitu hatiku puas. Akhirnya suatu hari aku
diberitahu kakakku yang sudah bekerja sebagai guru bahwa ada lamaran menjadi
honorer di kantor kementerian dan aku tertarik mendaftar walau aku tahu
lagi-lagi akan ditolak tapi optimisme tetap ada dalam diriku karena semangat
yang berasal dari ayah dan ibu.
***
Sementara aku dalam tahap mengurus lamaran untuk
menjadi honorer kontrakan selama setahun di kantor kementerian tersebut. Ayahku
menerima surat dan piagam pensiun dari kampus tempat ia mengabdi, di depan
seluruh mahasiswa-mahasiswa yang ia didik ia berpamitan dan berterima kasih
untuk kesempatan yang diberikan baginya menjadi tenaga dosen. Tak lama setelah
menerima surat dan piagam itu ayahku jatuh sakit, dan sakitnya sebenarnya sudah
lama namun ia menahannya sampai kali ini benar-benar parah sehingga aku dan
ibuku menemani ayahku untuk berobat ke Jakarta. Akhirnya kesampaian juga aku ke
Jakarta yang menurut cerita kedua orangtuaku aku lahir di kota tersebut sewaktu
ayahku berkuliah menyelesaikan masternya disana. Kami kesana bukan untuk
mengenang masa indah tersebut, bukan untuk kuliah lanjut seperti impianku yang
ingin mendapat beasiswa setelah lulus atau mendapatkan pekerjaan agar bisa
menolong keluargaku yang saat ini ayahku telah pensiun dan aku mati-matian
ingin membahagian kedua orangtuaku dengan memberikan uang hasil keringatku,
melainkan aku menemani ayah dan ibuku ke Jakarta untuk berobat ayah disana
karena di tempat kami tinggal di Papua sekalipun di perkotaan Jayapura namun
masih kekurangan dalam peralatan medis dan dokter-dokter yang baik yang bisa
menangani sakit ayahku sehingga kami pergi kesana. Aku berpikir bahwa hampir
sebulan kami disana dan ayahku telah mendapatkan penanganan medis terbaik
dengan disedotnya cairan di paru-parunya serta dokter sudah memberi resep obat
kami bisa pulang ke Papua dengan kesembuhan ayah. Tetapi ternyata harapanku
sia-sia, aku harus menerima kenyataan yang menyakitkan bahwa ayahku meninggal.
Disaat aku masih membutuhkannya karena banyak hal yang ingin kugapai terutama
melanjutkan kuliah di Jakarta, mencari pekerjaan dimana-mana sampai hampir saja
aku menjadi gila karena aku ingin memberikan uang hasil keringatku di
tangannya, disaat itu dia harus meninggalkan kami berenam, ibu dan kami berlima
anak-anaknya serta keempat cucunya. Memang ayahku adalah orang yang kuat
pendiriannya, ia disiplin, berpendidikan tinggi walaupun dulunya ia dan kakek
kami di kampung hanyalah nelayan namun keinginannya yang tinggi ia meninggalkan
Serui kota kelahirannya dan menggeluti hidup yang sulit di pusat kota yaitu
Jayapura. Tanpa bantuan siapapun dengan mencari ikan dan menjual ikan serta
belajar dengan tekun, otaknya yang jenius itu membuat ia disekolahkan dan
diangkat sebagai dosen. Seluruh mahasiswa binaannya hadir dalam upacara
pemakamannya di kuburan tanah hitam Abepura. Aku belum bisa menerima kenyataan
hidup ini, sebenarnya aku menyesal dengan kepergiannya yang teramat sangatlah
cepat. Ketika dia pergi barulah lamaran pekerjaanku diterima di kantor
kementerian setelah empat kali aku mencoba dan gagal akhirnya kali kelima aku
berhasil diterima kerja dengan semangat yang selama ini kudapat darinya dan ibu.
Namun bagiku, apalah arti aku bekerja di kantor tersebut bila orang yang ingin
kubahagiakan dengan hasil keringatku ia telah pergi meninggalkan aku. Aku
tersadar satu pesan yang sempat ayah ucapkan saat kami di Jakarta, ia berpesan
“jangan lupa ibu kalau ada uang kamu harus berikan ke ibu”, waktu itu aku pikir
perkataan ayah hanya perkataan biasa yang tapi ternyata itu adalah amanat,
tugas yang harus kupegang dan laksanakan bersama keempat saudaraku yang lain
setelah kepergiannya. Kami harus mengurus ibu, memberikannya uang jika kami
punya kelebihan. Terima kasih untuk segala kebaikanmu ayah, engkaulah alasan
kegigihanku mencari pekerjaan walaupun kali kelima baru aku diterima kerja,
waktu mungkin berkata terlambat untukku membahagiakanmu. Tapi aku mengucap syukur kepada TUHAN karena
menganugerahiku ayah sepertimu dan 23 tahun hidupku, kuhabiskan bersamamu ayah,
bersamamu ibu, bersama kalian keluargaku yang selalu ada untukku dalam naik
turunnya putaran roda hidup ini. TUHAN besertamu diseberang sana ayah…kami mengasihimu.
KARYA :
APRIANI PASKALIN AYOMI


No comments:
Post a Comment