Friday, July 24, 2020

Cerpen, "Lima Kali Kucoba".


SHORT STORY
BERDASARKAN KISAH NYATA HIDUPKU
“LIMA KALI KUCOBA”




Lima tahun berlalu dengan cepat aku sudah sarjana rupanya. Berkuliah dengan tekun bersusah-susah selama lima tahun akhirnya saat yang kunantikan tiba juga, aku wisuda. Dan aku bahagia sekali karena dinobatkan sebagai mahasiswa dengan predikat cum laude pada bidang yang kutempuh yaitu pendidikan agama. “Selamat yah Dina, Ayah dan Ibu bangga sekali padamu” kata Ibu,”iya Dina tapi ingat tetap rendah hati” sambung Ayah. “Selamat adik bungsu kita” kedua kakakku yang ikut pada waktu aku yudisium dan wisuda memberi selamat padaku. Setelah kami sampai dirumah ayah dan ibu mengatakan bahwa tidak ada acara untuk wisudaku tapi akan ada ibadah keluarga dirumah sesuai jadwal ibadah dalam lingkungan gereja kami, jadi pengucapan syukur wisudaku disatukan dengan ibadah keluarga tersebut. “tidak apa-apa bu, yang penting aku boleh yah undang ketiga sahabat SMA-ku”, kataku,”tentu saja boleh sayang”, jawab ibu. Akhirnya semua kebahagiaan waktu aku yudisium dan wisuda segera berlalu seiring berjalannya waktu yang begitu cepat.
***
Dengan perjuangan keras setelah yudisium dan wisuda aku kembali ke kampusku dan bersama teman-teman lainnya kami mengecek ijasah kami dibagian Akademik. Meskipun kami agak kelelahan bulak-balik kampus untuk mengecek ijasah kami tapi akhirnya kami bisa memegangnya juga di hari terakhir pendaftaran CPNS 2018. Karena kami semua terburu-buru ingin mendaftar CPNS. “Kakak tolong kami, kami mau daftar CPNS hari ini ditutup pendaftarannya”, kata Denis, “iya kak tolong aku sudah isi semua persyaratan tinggal nomor seri ijasah”, timpal Ria. “Baik-baik tinggu sebentar yah sedikit lagi ibu wakil ketua bagian akademik menandatangani ijasah kalian baru boleh diambil”, kata kakak Roni yang bekerja di bagian Akademik kepada kami. “Teman-teman bagaimana kalau kita jalan-jalan ke toko Saga abe setelah itu baru kita balik lagi ke kampus”, ajak Fina, “boleh…boleh ayo nanti setelah ini kita pasti tidak sering bertemu lagi karena masing-masing pulang ke daerah asal”, seru Kezia, “oke deh kalau begitu” kataku, serempak teman-teman lain mengiyakan. Kelas kami hanya terdiri dari 12 orang jadi tidak banyak seperti teman-teman kami yang dijurusan lain sehingga kami terlihat kompak. Jalan-jalan pun sukses ada makan bakso bersama juga, lalu kami berjalan kaki kembali ke kampus dan akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Ijasah kami diberikan hampir jam 18:00 WIT. Dengan bergegas aku meminta tolong temanku Denis, “Den bantu aku mendaftar CPNS 2018 dong kamu kan sudah”, “tapi kamu ada internet tidak? Di rumah”, tanya Denis, “tentu saja aku ada kami pasang Wi-Fi, ada laptopku dan semua persyaratan CPNS siap sedia, hanya ini pertama kali untukku dan aku masih bingung”, kataku. “Oke nanti aku bantuin”, kata Denis. Teman-teman yang lain sudah pada pulang dan aku mengajak Denis “ayo kita ke rumahku sekarang nanti pendaftarannya keburu tutup”, cetusku. Akhirnya malam itu dengan hujan, kilat dan guntur aku mengurus semua persyaratanku dan namaku terdaftar dalam seleksi CPNS 2018, aku berterima kasih kepada temanku Denis yang sudah membantuku. Karena kehujanan dan rumahnya jauh di Polimak temanku Denis berpamitan pulang. Setelah hari itu aku berdoa dengan tekun menanti hasil tes, hingga saat yang dinantikan tiba. Aku berdoa dan membuka laptopku, sangat disayangkan melihat hasil tesku. “Ayah, Ibu aku tidak lolos” dengan setengah suara aku menyahut dari kamar tidurku memberi tahu ayah dan ibuku. “tidak apa-apa jangan patah semangat coba lagi yang lain” kata ayah menyemangatiku, “iya benar masih banyak tempat lain yang menunggumu mendaftar pekerjaan” sambung ibu. Dengan kecewa aku mematikan laptopku dan tidak mengambil bagian dalam makan malam tetapi langsung tidur. Ayah, ibu seandainya kalian tahu betapa aku berjuang gigih demi membanggakan hati kalian karena telah memiliki aku sebagai anak kalian yang berguna dalam keluarga.
***
Hari-hari berlalu aku menjalani aktivitas yang menurutku sangat membosankan yaitu membantu ibuku mengerjakan pekerjaan sehari-hari dirumah. Setelah membantu ibu memasak aku berusaha membuka internet di akun Facebook dan Instagramku, aku berusaha mencari pekerjaan lagi. Kutemukan satu akun menulis dibutuhkan customer service di salah satu tempat kursus bahasa Inggris, “mau coba ah”, “coba apan” sapa kakak sepupuku yang dari tadi sudah ada di depan pintu kamarku dan memerhatikanku mengotak atik handphoneku, “eh kak Kia sudah datang dari tadi?” tanyaku, “baru saja nih”, “kak temenin aku urusin lamaran kerjaan di Entrop”,”boleh…boleh kapan?” tanya kak Kia,”sekaranglah kak masa 20 tahun lagi kan ketuaan”, candaku, “hahahaha…” serempak kami tertawa. Dengan semangat aku dan kakak sepupuku mengurus lamaran kerja hari itu juga selepas makan siang bersama lamaranku aku berikan kepada ayahku untuk didoakan. “semoga berhasil, nak” kata ayah, “terima kasih ayah”. Sesudah berpamitan, aku dan kakak sepupuku mengantarnya ke tempat kursus tersebut yang terletak di Entrop. Sayang dan sangat disayangkan sesampainya disana aku ditolak karena posisi yang mau kulamar sudah ada yang menempatinya. Lamaran keduaku ditolak, tetapi ayah dan ibuku terus menyemangatiku dengan berbagai kata-kata bijak. Aku harus bisa move on sekarang dan mencari pekerjaan lain. Kebetulan saja ada lowongan di salah satu organisasi keagamaan yang berada di Jerman karena mereka bekerja sama dengan gereja tempat aku beribadah. Lamaranku aku kirim lewat e-mail karena aku punya basic English yang bagus karena pernah mengikuti kursus bahasa Inggris di Australia salah satu program yang kakak-kakakku ikut juga sewaktu mereka kuliah, jadi aku optimis bakalan lolos. Seperti biasa kamaranku, aku berikan ke ayahku untuk didoakan dan setelah itu baru aku kirimkan lamaran tersebut melalui e-mail. Hampir sebulan aku menanti dengan harap dan cemas, tiap selesai melakukan aktivitas di dalam rumah aku mengecek e-mail masuk di laptopku. Akhirnya jawaban datang e-mail baru di kotak masuk. “Wuhuuuuhhuu…akhirnya aku diterima” ucapku bahagia, “anak ibu diterima”, sahut ibu dari luar kamar yang mendengarku bergembira mendapat e-mail.”Huffftthh…lagi-lagi kejadian” kataku dengan air mata dipipi sambil melihat isi e-mail tersebut yang bertuliskan sorry we already chose another person to take the position that you would like to apply for. Ibu yang dari tadi mendengarku bersorak dikamar lalu tiba-tiba suasana menjadi hening, ia penasaran dan mengetuk pintu kamarku tapi aku tidak menghiraukannya, ibuku terdiam di depan pintu kamarku karena ia tahu bahwa lagi-lagi aku tidak diterima kerja.
***
Keesokan harinya pagi-pagi, aku menemani ibu ke pasar karena belanjaan kami sudah banyak aku memutuskan untuk menunggu ibu dipintu pagar keluar dari pasar. “Hei Dina”, sapa seseorang dibelakangku yang mengagetkan aku yang sedang duduk bengong menunggu ibu. “oh…hai Lisa”, sapaku, “lama sekali kita tidak berjumpa”, kami berdua berjabat tangan dan berpelukkan. Tak bisa kujelaskan dengan kata-kata Lisa teman SMA-ku dulu dia sudah secantik ini, dulu rambutnya pendek sekarang rambutnya panjang, ia memakai make-up dan tentu saja apa yang ia kenakkan? Pakaian dinas. Hebat sekali dia, tidak seperti diriku yang sekolahnya dapat predikat cum-laude tapi tidak ada guna sama sekali di dunia mencari pekerjaan dan bekerja. “Kamu dengan siapa ke pasar?” tanya Lisa mengagetkanku dari lamunanku yang mengharapkan bisa menjadi seperti dirinya, “dengan ibu, ibu lagi belanja ayam di dalam karena barang bawaan kami banyak aku milih duduk dipintu keluar pasar, kamu sendiri ngapain ke pasar dengan pakaian rapih gitu”,”oh ini aku mau belanja buah-buahan anakku sakit karena suamiku yang jaga di rumah sakit maka aku mutusin buat ke pasar beliin buah buat dia kata dokter buah bagus untuk kesehatannya”,”semoga cepat sembuh yah anakmu”,”terima kasih untuk dukungannya, oh iya kamu sekarang kerja dimana”, “tidak usah bertanya tentang pekerjaan deh, kalau yang punya kantoran itu keluargaku pasti aku diterima”,”jangan patah semangat mulai dari yang kecil aja sebagai honorer siapa tahu kalau ada pengangkatan kamu diangkat juga”,”iya ntar aku coba”,”atau antarkan saja lamaranmu ke restoran atau café dan lain-lain”, “terima kasih untuk saran dan jalan keluarnya”. “Dina ayo kita pulang” panggil ibuku dari jalan sebelah, “oke bu sebentar” balasku. “Lisa aku pamit dulu ibuku sudah panggil-panggil”,”oke sampai nanti yah”, aku dan Lisa berpisah disitu, aku pulang bersama ibu naik taksi dan Lisa berjalan masuk ke pasar ke tempat jualan buah segar. Dalam perjalanan pulang di taksi ada yang meninggalkan selebaran dari toko Pizza yang baru dibuka dan membutuhkan tenaga kerja tanpa berpikir panjang aku mengambil selebaran tersebut dan menyimpannya disaku. Sesampainya dirumah aku meletakkan semua barang belanjaan dan aku mencoba saran Lisa, lamaranku kuantarkan ke toko Pizza. Setelah  lamarannya diterima dan dibaca oleh bosnya, aku ditelepon oleh mereka dan aku kembali lagi ke toko Pizza tersebut keesokan harinya. Semuanya oke, aku diinterview, setelah interview hasilnya aku terima saat itu juga bahwa aku ditolak bekerja di toko tersebut dengan alasan karena pendidikanku tinggi dengan nilai akademik yang bagus tidak layak bagiku untuk bekerja di toko. Untuk keempat kalinya aku ditolak bekerja, dengan alasan yang menurutku tidak masuk akal. Aku hanya butuh pekerjaan dan nilaiku tak ku pedulikan selama aku bisa memberi uang untuk kedua orangtuaku, terlebih ayahku yang sebentar lagi pensiun dengan begitu hatiku puas. Akhirnya suatu hari aku diberitahu kakakku yang sudah bekerja sebagai guru bahwa ada lamaran menjadi honorer di kantor kementerian dan aku tertarik mendaftar walau aku tahu lagi-lagi akan ditolak tapi optimisme tetap ada dalam diriku karena semangat yang berasal dari ayah dan ibu.
***
Sementara aku dalam tahap mengurus lamaran untuk menjadi honorer kontrakan selama setahun di kantor kementerian tersebut. Ayahku menerima surat dan piagam pensiun dari kampus tempat ia mengabdi, di depan seluruh mahasiswa-mahasiswa yang ia didik ia berpamitan dan berterima kasih untuk kesempatan yang diberikan baginya menjadi tenaga dosen. Tak lama setelah menerima surat dan piagam itu ayahku jatuh sakit, dan sakitnya sebenarnya sudah lama namun ia menahannya sampai kali ini benar-benar parah sehingga aku dan ibuku menemani ayahku untuk berobat ke Jakarta. Akhirnya kesampaian juga aku ke Jakarta yang menurut cerita kedua orangtuaku aku lahir di kota tersebut sewaktu ayahku berkuliah menyelesaikan masternya disana. Kami kesana bukan untuk mengenang masa indah tersebut, bukan untuk kuliah lanjut seperti impianku yang ingin mendapat beasiswa setelah lulus atau mendapatkan pekerjaan agar bisa menolong keluargaku yang saat ini ayahku telah pensiun dan aku mati-matian ingin membahagian kedua orangtuaku dengan memberikan uang hasil keringatku, melainkan aku menemani ayah dan ibuku ke Jakarta untuk berobat ayah disana karena di tempat kami tinggal di Papua sekalipun di perkotaan Jayapura namun masih kekurangan dalam peralatan medis dan dokter-dokter yang baik yang bisa menangani sakit ayahku sehingga kami pergi kesana. Aku berpikir bahwa hampir sebulan kami disana dan ayahku telah mendapatkan penanganan medis terbaik dengan disedotnya cairan di paru-parunya serta dokter sudah memberi resep obat kami bisa pulang ke Papua dengan kesembuhan ayah. Tetapi ternyata harapanku sia-sia, aku harus menerima kenyataan yang menyakitkan bahwa ayahku meninggal. Disaat aku masih membutuhkannya karena banyak hal yang ingin kugapai terutama melanjutkan kuliah di Jakarta, mencari pekerjaan dimana-mana sampai hampir saja aku menjadi gila karena aku ingin memberikan uang hasil keringatku di tangannya, disaat itu dia harus meninggalkan kami berenam, ibu dan kami berlima anak-anaknya serta keempat cucunya. Memang ayahku adalah orang yang kuat pendiriannya, ia disiplin, berpendidikan tinggi walaupun dulunya ia dan kakek kami di kampung hanyalah nelayan namun keinginannya yang tinggi ia meninggalkan Serui kota kelahirannya dan menggeluti hidup yang sulit di pusat kota yaitu Jayapura. Tanpa bantuan siapapun dengan mencari ikan dan menjual ikan serta belajar dengan tekun, otaknya yang jenius itu membuat ia disekolahkan dan diangkat sebagai dosen. Seluruh mahasiswa binaannya hadir dalam upacara pemakamannya di kuburan tanah hitam Abepura. Aku belum bisa menerima kenyataan hidup ini, sebenarnya aku menyesal dengan kepergiannya yang teramat sangatlah cepat. Ketika dia pergi barulah lamaran pekerjaanku diterima di kantor kementerian setelah empat kali aku mencoba dan gagal akhirnya kali kelima aku berhasil diterima kerja dengan semangat yang selama ini kudapat darinya dan ibu. Namun bagiku, apalah arti aku bekerja di kantor tersebut bila orang yang ingin kubahagiakan dengan hasil keringatku ia telah pergi meninggalkan aku. Aku tersadar satu pesan yang sempat ayah ucapkan saat kami di Jakarta, ia berpesan “jangan lupa ibu kalau ada uang kamu harus berikan ke ibu”, waktu itu aku pikir perkataan ayah hanya perkataan biasa yang tapi ternyata itu adalah amanat, tugas yang harus kupegang dan laksanakan bersama keempat saudaraku yang lain setelah kepergiannya. Kami harus mengurus ibu, memberikannya uang jika kami punya kelebihan. Terima kasih untuk segala kebaikanmu ayah, engkaulah alasan kegigihanku mencari pekerjaan walaupun kali kelima baru aku diterima kerja, waktu mungkin berkata terlambat untukku membahagiakanmu.  Tapi aku mengucap syukur kepada TUHAN karena menganugerahiku ayah sepertimu dan 23 tahun hidupku, kuhabiskan bersamamu ayah, bersamamu ibu, bersama kalian keluargaku yang selalu ada untukku dalam naik turunnya putaran roda hidup ini. TUHAN besertamu diseberang sana ayah…kami mengasihimu.







KARYA :
APRIANI PASKALIN AYOMI

No comments:

Post a Comment

Nostalgia "Dies Natalis Kampus"

       Ini aku dan kisah nyataku yang tersimpan rapih dalam memori ingatan yang sengaja kubuka kembali setelah sekian lama berhubung tahun i...