Tuesday, September 17, 2024

Nostalgia "Dies Natalis Kampus"

       Ini aku dan kisah nyataku yang tersimpan rapih dalam memori ingatan yang sengaja kubuka kembali setelah sekian lama berhubung tahun ini adalah dies natalis kampus biru yang ke 70 tahun. 10 tahun yang lalu kisahku ini menjadi coretan manis dan pahit di kampus biru.

      Perjalanan membawaku kembali ke kampus biru begitulah sebutan untuk kampus yang mana 11 tahun lalu pada tahun 2013 kuinjakkan kedua kakiku untuk menempuh pendidikan sebagai seorang calon guru Agama Kristen sebab program studi yang kuambil untuk S1-ku adalah Pendidikan Agama Kristen (PAK). Goresan warna silver dan merah pada dinding-dinding kampus yang mengingatkanku saat momen P32K (Proses Percepatan Pengenalan Kehidupan Kampus) sepertinya bekas ciumanku masih tertempel di tembok kenangan itu 😁 kakak-kakak tingkat yang pada waktu itu menjabat sebagai senat masa bakti 2013/2014 menyuruh kami semua mencium dinding kampus sebagai bentuk cinta kami kepada tempat yang akan mendidik kami selama 5 tahun untuk menjadi pelayan TUHAN di gereja maupun di sekolah. 

     Tahun pertama berkuliah tahun ajaran 2013/2014 tak ada yang spesial dan semuanya terasa biasa saja seperti mahasiswa pada umumnya yang menjalani kehidupan perkuliahan itulah yang ku alami. Banyaknya tugas yang diberikan adalah makanan sehari-hari kami kecuali mata kuliah yang diajarkan (Alm) ayahku, dia adalah sosok yang tidak pernah memberikan tugas yang banyak kepada kami. Sebab, yang dia mau adalah kami pertemuan tatap muka, ujian tatap muka. Dalam perkulihan aku rasa tak memiliki masalah yang cukup serius karena diriku selalu meraih hasil yang terbaik tapi soal kasmaran alias kisah percintaan rasanya aku adalah orang yang gagal. Saat teman-teman seangkatanku yang lain berkuliah dan punya kekasih di tahun pertama masuk kuliah. Aku malah sibuk memikirkan bagaimana mendapat nilai bagus dan IPK ku harus selalu bagus setiap semester. Karena ayahku seorang tenaga pendidik yang pandai di kampus tempatku berkuliah dan untuk menjaga nama baiknya, kusingkirkan drama  percintaan dari hidupku.

     Tahun kedua berada di kampus biru, tahun ajaran 2014/2015. Suatu siang yang sejuk walau terik matahari membakar kulit tak sengaja aku berpapasan dengan seseorang yang manis parasnya dan ramah. Setelah dia memberi sapa kepadaku dan salah seorang temanku dari jurusan Teologi bernama Lia. Aku pun mencari tahu segala sesuatu tentang dia dan Lia pun memberitahuku bahwa dia adalah ketua angkatan 2014, berasal dari Klasis Manokwari, jurusan Teologi, dia berasal dari suku Biak dan sebut saja namanya Aldo. Hari-hari perkuliahanku makin indah dan berwarna sejak ada Aldo di kampus. Dalam perhitungan tahun memang dia adik satu tingkat dibawahku tetapi dia 1 tahun lahir denganku tahun 1996  hanya berbeda bulan, aku April dan dia September. 😊 

    Rasa kagumku pada Aldo bukan hanya karena soal fisik (tampan, manis, dll) secara lahiria seperti kebanyakan orang yang menyukai seseorang karena tampang. Cara menyukaiku terlalu beda karena aku menyukai  cara dia berdiri, cara dia berpakaian, cara dia berbicara di depan orang banyak yang notabane adalah teman-teman seangkatannya dan dia didengarkan oleh mereka, saat berada di lingkungan kakak tingkat pun dia sangat menghormati. Sebegitu berwibawanya dia di mataku. Dan dalam hatiku pernah terbesit kalimat, "wanita siapa yang kelak beruntung kan mendampingi dia di altar?". Oh terlalu jauh khayalanku karena waktu itu aku baru semester 3 dan dia semester 1. Usai pertemuan pertama kami di depan ruang paduan suara kampus pada bulan Agustus. Di bulan berikutnya bulan September 2014 akupun semakin menunjukkan rasa sukaku kepadanya secara terang-terangan dengan memberikan hadiah kue ulang tahun yang kubeli dengan hasil tabungan uang jajanku selama bukan Agustus. Kue yang kubeli tak ku letakkan di lemari es (kulkas) karena aku takut ada orang rumah yang melihat dan mengetahui kado kue ulang tahunku pada orang yang paling ku suka. Apalagi di atas kue tersebut tertulis nama dan marganya secara lengkap. Maka kuputuskan menaruh kue itu di kamar tidurku sambil menjaga supaya tidak ada semut.

    Keesokkan harinya, Jumat 5 September 2014. Setelah aku menyelesaikan kuliah di jam pertama, dengan mengumpulkan segenap nyaliku akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya di ruang kuliah yang tepat berada di atas ruang paduan suara (lt.2 atas). Dengan langkah yang pasti, aku masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan teman-teman seangkatannya, aku memberikan hadiah kue itu dan memberikan ucapan ulang tahun kepadanya. Sontak seluruh ruangan itu heboh dan ricuh menyorakki-ku, dengan malu aku pun undur diri dari ruang kuliah mereka dan aku memutuskan bergegas kembali ke ruang kuliahku. Sejak hari itu, semua temannya mengetahui bahwa aku menyukai si Aldo ketua angkatan mereka. 

    Tahun ketiga pun datang, tahun ajaran 2015/2016. Segala usaha telah kulakukan supaya bisa dekat dengan Aldo tetapi kata salah seorang sahabatnya bernama Veri, Aldo orangnya pemalu dan dia mau fokus kuliah dan tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun juga. Aku pun mengerti, dan tahu diri. Batasan pun mulai ku lakukan dimana saat dia yang juga adalah asisten pendamping ayahku saat ayahku memberikan kuliah kepada angkatan mereka. Aku adalah orang yang paling malas membuka pintu rumah kami untuk menerimanya membawa barang-barang mengajar seperti buku, spidol dan Alkitab milik ayahku. Tapi aku kadang terpaksa karena tak ada orang di rumah. Bukan aku membencinya, tetapi semakin aku melihatnya, semakin perasaanku tak bisa ku kendalikan. Dan yang kulakukan ini adalah usaha untuk bisa move on. Kadang aku merenung dan sedih sebab caraku menunjukkan ketidaksukaan berada didekatnya rasanya agak kasar. 

    Tak terasa tahun keempat menghampiri, tahun ajaran 2016/2017. Tahun baru tepat pada bulan Januari 2016,  entah angin apa yang membawa Aldo datang ke rumah kami. Dia mengantarkan oleh-oleh abon gulung khas Manokwari untuk kami sekeluarga, lebih tepatnya untuk dosennya (ayahku). Hari-hari pun berlalu dan teman angkatanku Roy turun dari jabatannya sebagai ketua senat karena angkatan kami masuk persiapan untuk turun KKL. Dan ternyata orang yang menggantikan temanku menjadi ketua senat selanjutnya adalah dia... dia dan dia "Aldo". Walau ku tahu dia memilih fokus pada studinya dan tak menghiraukan sedikitpun perasaanku, tapi aku masih saja berharap dengan menjadikan ruang seminar sebagai tongkrongan wajibku untuk bisa memantaunya dari lantai 2 atas ke ruang senat di bawah, sangat sering aku lakukan ketika sedang menunggu dosen ataupun saat tak ada jam kuliah, aku suka memandangnya dari atas ruang seminar. Tetapi aku pun diingatkan oleh waktu yang berjalan cepat membuatku ditempatkan di salah satu sekolah negeri di Buper Waena untuk melakukan proses KKLK (sebutan bagi kami yang jurusan PAK) itu tandanya aku tak bisa berjumpa dengannya, pujaan hatiku untuk di semester ini.

    Tahun Kelima, tahun ajaran 2017/2018 pun akhirnya menyadarkanku bahwa Aldo ternyata menaruh hati pada yang lain yaitu pada seorang adik tingkat kami angkatan 2015. Tanpa ada yang memberitahuku, jiwa intel seorang Aries sangat tidak bisa diragukan. Karena aku tahu dia sudah menyukai orang lain, aku pun sadar diri ternyata aku kalah di penampilan. Orang yang dia sukai itu kulit putih dan rambut lurus, bukan sepertiku yang rambut keriting dan kulit hitam. Tapi tunggu, bukankah alasannya waktu itu dia ingin fokus kuliah bukan pacaran? Kenapa dia melanggar kata-katanya sendiri. Bagaimanapun aku tetap mengahargai pilihan hatinya.

      P.ada suatu siang aku berdiri di depan pintu masuk kampus dan sepintas aku lihat Aldo dengan kumpulan teman-temannya sedang duduk di taman kampus yang tak jauh dariku dan tempat duduk mereka itu berhadap-hadapan langsung denganku yang sedang berdiri depan pintu masuk utama di kampus. Aku bercerita dengan seorang lelaki tampan yang tak mau kusebutkan namanya dia berkuliah juga di kampus biru. Kami bercerita dengan serius dan penuh canda tawa, aku sengaja melakukan itu untuk melihat reaksinya. Dan benar saja, Aldo menghampiri kami berdua dan menyela pembicaraanku dengan sosok tampan ini. Apakah dia cemburu?". Apapun alasan dia, aku tak peduli sebab lama-kelamaan perasaanku seperti dipermainkan. Dan yang aku tahu kekasihnya adalah adik tingkat kami dan aku tak mau tahu soal hubungannya dengan siapapun itu karena aku tak mau terluka.

    Di tahun terakhirku di kampus, aku dengar ternyata angkatan kami kena kurikulum lama yang membuat kami wisuda di bulan Agustus 2018. Dan yang membuatku semakin tak percaya adalah angkatan Aldo dan teman-temannya adalah angkatan pertama yang dapat kurikulum baru yakni kuliahnya hanya 4 tahun setara dengan perguruan tinggi lain. Hal ini membuat pada wisuda Agustus 2018 yang diwisudakan bukan hanya angkatan kami yaitu angkatan 2013 tetapi sebagian dari angkatan mereka juga ikut diwisudakan dengan kami. Termasuk si Aldo. Wisuda kami dilangsungkan di gereja GKI Pengharapan Jayapura. 

     Sudah pernah belum kamu yang baca ini ngalamin seperti yang kualami... apakah itu??? Crush kamu jadi juara 1 di jurusannya (prodinya) dan kamu jadi juara 1 di jurusanmu (prodimu). Itu kenangan terakhirku yang paling indah dengan Aldo yang pernah ada dalam ingatanku. Wisuda bersama-sama dan menjadi juara 1 di program studi masing-masing dengan hasil Cum Laude. Dia membawakan pidato dan aku membawakan janji mahasiswa/i pada hari wisuda kami. Bahkan dia sempat menjabat tanganku dengan wajah kegirangan setelah mendengarkan pengumuman hasil kelulusan IPK-ku yang lebih tinggi darinya. Sayangnya, aku tak pernah memiliki kenangan foto berdua dengannya. Yang ada hanyalah kusimpan semua kenangan indah ini dalam hati dan pikiranku.

     Plotwist nya adalah setelah kami selesai dari kampus, dia rencana studi lanjut S2 di luar Papua. Tapi karena 1 dan lain hal akhirnya dia beralih profesi untuk menjadi abdi negara dan bukan hamba TUHAN (Pendeta).


~Lanjut Part 2 atau Tidak? Beritahu aku 😊 ~



Friday, April 21, 2023

HATI YANG PATAH DAN HANCUR (PART 2)

 Sosok Ani yang telah ditolak sebanyak 4 kali itu membuat dirinya semakin tangguh dan memutuskan untuk tidak akan pernah jatuh cinta atau menyatakan cinta duluan ke laki-laki. Trauma penolakan terus bergentangan di dalam relung hatinya. Setiap melihat laki-laki atau ada pasangan yang berjalan di sekelilingnya sebisa mungkin dia menjauh. INGIN MENJAUH SEJAUH-JAUH MUNGKIN DARI PERASAAN CINTA KEPADA SIAPAPUN. Hanya saja, seiring berjalannya waktu di tahun 2021 ada sosok lelaki yang menarik perhatiannya setelah di cek lebih mendalam lelaki ini suka memposting segala sesuatu yang berbau pendidikan, kesehatan dan politik tak pernah Ani dapati dia memposting sesuatu tentang orang yang dia cintai. Pertama kali Ani melihatnya di facebook dan mencoba membangun relasi hanya saja orangnya cuek. Namun cueknya itu membuat Ani semakin jatuh cinta dan perasaannya tidak bisa tertolong lagi. Setelah dari facebook, Ani mencarinya di instagram lagi demi bisa terhubung terus dengannya lewat berbagai macam sosmed yang ada. Kecuali, WA (ya kali orangnya mau kasih nomornya 🤧). Lanjut setelah hampir 2 tahun rasa ini bergejolak dalam dada dan sudah tidak bisa ditahan lagi. Akhirnya 16 April 2023, Ani kembali menyatakan perasaannya sehari sesudah ulang tahunnya yang ke-27 tahun. Mensyukurinya, Ani pergi ke gereja dan bernyanyi memuji TUHAN. Hanya saja di dalam relung hatinya ada kecemasan yang tinggi karena menanti jawaban dari sang pujaan hati yang dikenal ia berasal dari Serui kampung Ambai dan mamanya berasal dari kampung yang sama dengan Ani. Dan benar saja, jawaban kali ini yang ia dapatkan sama saja yaitu MENGECEWAKAN, MEMBAKAR, MENGHANGUSKAN YANG NAMANYA CINTA dari dalam hatinya untuk selama-lamanya. Mungkin Ani tidak akan pernah lagi jatuh cinta, tidak akan pernah lagi menyatakan perasaannya kepada siapa pun dan memilih sendiri dengan orang tua, saudara serta menikmati hidupnya dengan gaji hasil pekerjaannya tanpa harus berkelahi dengan batinnya lagi soal perasaan-perasaan suka, kagum, sayang dan cinta kepada lawan jenis. 

Ya TUHAN, kenapa Engkau menciptakan hati? Kenapa Engkau menciptakan kasih (cinta) kalau hanya membuat manusia tersiksa seperti ini. ANI SANGAT MEMBENCI "CINTA". Dan ANI SANGAT MEMBENCI DAI.

HATI YANG PATAH DAN HANCUR (Part 1)

Ada sebuah kisah yang rapuh tentang seorang perempuan di ufuk timur tempat mentari terbit. Sebut saja Ani, dia berjalan mengembara di dunia ini dengan tujuan dan masa depan yang jelas karena sedari kecil ia telah mendapat banyak bimbingan dan didikan yang mantap oleh kedua orang tuanya karena itu dia tidak pernah berbuat masalah dengan siapapun. Hanya saja, 1 masalah yang melilit hidupnya yaitu kisah percintaannya yang tak semulus perjalanan pendidikan dan karirnya. Sudah 4 kali dia di buat kecewa dan air mata tak kunjung kering dari matanya. Menangisi ke-3 lelaki yang berasal dari 1 daerah (kota) yang sama di Papua berdekatan dengan daerah asalnya dan 1 cowok lainnya yang berasal dari daerah nenek dari almarhum bapaknya. Ke-4 lelaki ini menolak cintanya mentah-mentah tanpa ada kejelasan yang benar-benar dapat diterimanya pakai logika dan hati. Mungkinkah Ani tidak cukup baik? Sedangkan dia tidak pernah neko-neko sepanjang perjalanan studinya dan aman sampai sarjana tanpa berbuat kasus apa-apa seperti contohnya hamil di tengah jalan. Mungkinkah Ani tidak cukup cantik? Sedangkan dia berusaha membeli alat make-up dan semua baju dan celana yang bagus-bagus berdandan demi menarik perhatian orang yang disukainya. Mungkinkah Ani tidak cukup pintar? Sedangkan dalam pendidikan khususnya di SMA kelas XI dan XII dia selalu mendapat ranking terbaik yaitu ranking 1 dan lulus dari bangku perkuliahan sebagai cum laude (nomor 1). Ani tak mengerti apa yang sebenarnya ada di pikiran ke-4 lelaki tersebut yang telah menyia-nyikan perasaannya yang tulus darinya sewaktu ada di bangku SMA sampai perkuliahan. Ani takkan pernah lupa bagaimana sikap dan cara mereka menolak Ani dan Ani hanya bisa membawanya di dalam doa semoga apa yang Ani rasakan mereka juga akan merasakannya bahwa BETAPA SAKIT DAN HANCURNYA RAGA, JIWA DAN PERASAAN INI APABILA DI TOLAK OLEH ORANG YANG KITA SAYANGI.


((BASED ON THE TRUE STORY/BERDASARKAN KISAH NYATA))

Monday, December 14, 2020

Poetry, "They Don't Care".

 "They Don't Care"


They don't care about the color of your skin

They don't care about the type of your hair

They don't care about where you came from

All that they care is your land


Isn't important to educate you

Isn't important to make you smart

Isn't important to make you have a job

All important is they earn lots of money


Do you want to fight? Jail is your home

Do you want to speak? Gun is your destiny

Do you want to be free? Death is the answer

All that you want it was only just a DREAM




Saturday, December 12, 2020

Poetry, "Are You There?".


"Are You There?"




Are you there, my love?

Do you see me? I am standing right here

Are you there, my love?

Do you hear me? I am calling your name


Are you there, my love?

I try to find you between lots of people in West Papua

Are you there, my love?

I cry in my prayer day and night just to have you


I try to stand up on the hills

So you can turn your eyes and see me

I try to swim in the oceans

With hoping the waves brings me to you


I know it's impossible to meet you

I know it's hard for us to being unite

I know it's crazy to make you love me

But I believe soul mate will not go anywhere








Friday, December 11, 2020

Poetry, "My Love For You".

 "My Love For You"



My love for you is like oil in Sorong

My love for you is like sunset in Kaimana

My love for you is like gold in Timika

My love for you is like waves in Sarmi


My love for you is like coral reef in Biak

My love for you is like mangrove in Waropen

My love for you is like education in Jayapura

My love for you is like white sand in Wamena


My love for you is pure as the gospel in Manokwari

My love for you is beauty as the flower in Odo Serui

My love for you is sweet as the orange in Nabire

My love for you is fast as the deer running in Merauke


My love for you is higher than the mountain

My love for you is deeper than the oceans

My love for you is stronger than death

I love you like you love the land of Papua.



((THIS POEM I DEDICATE TO SOMEONE WHO INSPIRE ME WITH HIS SPIRIT TO FIGHT AGAINST THE CAPITALISM WITH HIS POSTS AT THE SOCIAL MEDIA AND I DO LOVE HIM I WISH GOD CREATED HIM TO BE WITH ME .AMEN)).


Written By : APRIANI PASKALIN AYOMI.



Wednesday, December 9, 2020

Cerpen, "Cinta Bukan Untukku".

 

“Cinta Bukan Untukku”




Aku mengenal cinta ketika usiaku belia

Cinta yang diberikan kedua orangtuaku kepadaku

Semakin hari aku bertumbuh menjadi dewasa dan mengenal cinta

Ternyata cinta adalah sesuatu yang paling membahagiakan di dunia ini

Ternyata cinta adalah ketika kedua insan yang berbeda memiliki rasa yang sama

 

Aku sendiri mencoba untuk mengecap cinta

Dengan keberanian perasaanku kubiarkan bergelora dalam ombak cinta

Membawaku kepada lima pilihan yang tidak pasti

Tapi ku mencoba dengan sabar menanti yang tepat bagiku

Karena kuyakini ada rahasia dalam  cinta yang disembuyikan Yang Mahakuasa

 


Pertama kali cinta membawaku kepada Serui tapi ia memilih yang lain

Kedua cinta membawaku kepada Biak tapi ia menolak diriku

Ketiga cinta membawaku kepada Sorong tapi aku tak cukup baginya

Keempat cinta membawaku kepada Jayapura tapi aku masih belia baginya

Kelima ku memilih untuk berdiam dan menahan perih di dadaku

 

Lima kali kugagal membahagiakan perasaanku sendiri

Cinta yang salah selalu kutemukan dalam hidupku

Betapa bahagianya sepasang burung yang menikmati cinta di atas pohon

Betapa bahagianya sepasang kekasih yang berpegangan tangan didepanku

Ah...hidup, ternyata cinta diciptakan bukan untukku.



OLEH : APRIANI PASKALIN AYOMI

Poetry, "Who Is He?"

                                                                                "Who Is He?"


Every night in my dream he showed up 

Everyday I'm tryin to find out, "who is he?"

I never stop to pray so God can make him real

Because I want to get to know him better


I thought this is ridiculous 

I am stuck in the middle of half conscious and half crazy 

I thought I should stop to looking for something that doesn't belong to me

But the more I try to stop, the more my heart push me to find him



((This poem I dediate to someone who always showed up in my dreams please become a real to me))😊.

By : Apriani Paskalin Ayomi





Saturday, July 25, 2020

Cerpen, Kue Pembawa Berkat".


SHORT STORY

KUE PEMBAWA BERKAT






Perkenalkan nama-ku Cindy aku adalah anak pertama dari 7 bersaudara. Orangtua-ku nggak kaya-kaya amat mereka hanyalah penjual kue doang membuat adik-adik-ku nggak bisa bersekolah. Yang bersekolah hanyalah aku dan harapan mereka cuman ada pada diri-ku supaya bisa menjadi orang hebat seperti yang mereka harapkan.Ini cerita-ku.

***
“Cin, Cin udah pagi ayo cepet bangun mandi lalu sarapan dan berangkat ke sekolah nanti kamu terlambat lagi”, suara ibu Cindy membuatnya segera bangun dan menuju ke kamar mandi untuk mandi. (Tok-tok-tok) “aduh siapa sih di kamar mandi cepetan dong nggak tahu apa aku bakalan terlambat kalau kayak gini caranya awas yah...kalau keluarnya kelamaan aku toki nih kepalanya pakai handuk”, bentak Cindy dari luar kamar mandi membuat adikknya Lidia segera keluar dari kamar mandi “maaf kak Lidia ke belet pipis jadinya menghalangi kakak buat mandi”, jawab Lidia dengan nada mendatar (sambil menundukkan kepalanya). “Iya...iya kali ini kakak maafin jangan ulangi lagi kalau sampe ulangi lagi awas kamu”. Begitulah sifat Cindy nggak di sekolah nggak di rumah sifatnya sama saja membuat ayah dan ibunya ingin sekali menyadarkannya supaya bisa mengubah sifatnya yang suka manja, mau serba ada, dan suka marah-marahin adik-adiknya.

***
“Teng...teng...teng lonceng sekolah Cindy berbunyi, Cindy bersekolah di salah satu sekolah yang lumayan mahal karena dia gengsi harus sekolah di kampus,takut di bilang ketinggalan jaman dan anak kampungan. Di sekolah Cindy termasuk anak yang nggak terlalu pintar dan nggak bodoh juga tapi dia bisa terkenal karena berteman dengan anak-anak kaya yang terbilang populer di sekolah itu, Cindy juga nggak mau ngaku pekerjaan orangtuanya apa dan rumahnya di mana. “Eh entar kita mau nonton film di bioskop loh mau ikutan nggak Cin”, tanya Lisa pada Cindy (Sambil menunggu pelajaran pertama di mulai). “Aku mau dong jam berapa kita pergi terus karcisnya bayar berapa sih?”, Tanya Cindy pada Lisa, “karcisnya Rp.100.000-an” jawab Lisa sinis, wah ada ngitung-ngitung nih jangan-jangan nggak mampu kali loh”, Lisa semakin menyindir Cindy. “Ha..ha..ha..ha emangnya loh pikir gue nggak bisa apa beli karcis gitu doang lagi pula kalian berdua bakal gue traktir makan deh entar kalau emang gue bohonga nggak punya duit gimana?”, jawab Cindy (dengan nada meyakinkan kedua temannya) “Iya deh kita berdua percaya”,jawab Christin dan Lisa serentak. “Kamu mau dijemput jam berapa Cin soalnya filmnya mulai jam 19.00 malam”, tanya Christin pada Cindy “Ah nggak usah dijemput nanti kita ketemuan aja di bioskop ok”, jawab Cindy pada kedua temannya. “Yah udah deh”,sahut Lisa. Tak lama kemudian guru Matematika mereka masuk dan mereka pun mengikuti pelajaran Matematika dengan pikiran yang tidak konsentrasi akibat terbayang-bayang akan keseruan jalan-jalan bareng ke biskop nanti malam. Satu demi satu pelajaran mereka lewati sampai waktunya jam pulang sekolah jam 1 siang. “Sampai jumpa ntar malam yah Cin”, sahut Lisa dan Christin, “ok sampai jumpa juga sebentar malam”,balas Cindy.

***
“Selamat siang, ayah dan ibu ada uang nggak aku pengen nonton ama temen-temen-ku ntar malem di bioskop”, (kedua orangtuanya heran melihat anak mereka Cindy) “kamu ini pulang sekolah langsung nanya duit emang ayah sama ibu kerjanya apaan sih sampai kamu pengen pergi kesana-sini hanya untuk bersenang-senang lebih baik kamu belajar bikin kue sama ibu kamu supaya kamu itu bisa membantu kami orangtua”, nasihat yang keluar dari mulut ayahnya membuat Cindy marah dan lari ke kamarnya lalu menutup pintu kamarnya (duk,bunyi yang kasar). “Biarkan saja bu nanti dia akan mengerti bahwa apa yang dia lakukan itu salah”, “Iya pa tapi bapa nggak boleh terlalu kasar sama Cindy”, “bapa nggak kasar bu bapa hanya menasihati dia supaya dia bisa menata masa depannya dan bisa lebih baik lagi dari kita berdua harus sukses dan memerhatikan adik-adiknya”, tiba-tiba Cindy keluar (bunyi pintu terbuka) bapa, ibu maafin Cindy yah emang apa yang bapa dan ibu bilang itu bener Cindy harusnya bersyukur bisa sekolah sekarang dan mendapat fasilitas yang baik dari bapa dan ibu. Cindy sadar Cindy memberatkan bapa dan ibu sekarang Cindy mau diajarin buat kue sama ibu, Cindy nggak akan pergi ikut temen-temen Cindy buat menghambur-hamburkan uang Cindy akan nelpon mereka batalin jalan-jalannya, kata Cindy. “Baiklah sayang sekarang kita pergi ke toko buat beli bahan-bahannya”, sahut ibunya Cindy “Iya bu ayo kita pergi tapi tunggu dulu Cindy ganti bajunya”,jawab Cindy. Cindy dan ibunya berjalan ke toko dan membeli bahan-bahan kue untuk membuat kue dan di jual di kios kecil milik mereka yang berada di dekat emperan toko-toko ternama di Jakarta.

***

Keesokan harinya Cindy ke sekolah dan temen-temennya Lisa dan Christin memarahinya. “Cin mana kata-kata loh yang sok-sok mau traktir kita makan”, suara cempreng Lisa menusuk telinga Cindy, “alah Lis kayak loh nggak tahu aja Cindy kan hanya mulut besar doang buktinya nggak ada gayanya aja sok mau gabung dengan kita berdua padahal janji kayak gini aja nggak ditepati”, sindir Christin “ayo kita pergi aja, kamu udah bukan lagi temen kita”, kata-kata Lisa menyayat jantung Cindy. Sekarang Cindy hanyalah sebatang kara di sekolah nggak ada satupun yang mau deket dengan dia, tapi dia tetep senang karena masih ada ayah,ibu dan adik-adiknya dan yang paling penting sekarang dia fokus untuk membantu kedua orangtuanya. Sepulang sekolah Cindy membantu ibunya membuat kue dan Cindy serta adik-adiknya dengan semangat pergi mengantarkan kue-kue itu ke kios mereka dan adik-adiknya membantu Cindy menjaga kios kue mereka. Tak lama mereka menjaga kue itu tiba-tiba temen-temen Cindy yaitu Lisa dan Christin tak sengaja memarkirkan mobil mereka di dekat kios kuenya. “Eh ada penjual kue yah di sini, pentesan aja kemaren nggak berani ikut kita ke bioskop karena ternyata miskin toh”, sindir Christin “ha...ha...ha yaiyalah emangnya ada yah penjual kue bisa nge-shooping ke toko-toko mewah dan nonton di bioskop”, sambung Lisa. “Emang aku bukan orang kaya seperti kalian berdua tapi aku juga punya harga diri,aku bangga bisa bekerja seperti ini yang penting aku dapetin uang halal buat hidupin keluarga-ku nggak kayak kalian berdua yang hanya menghabiskan uang orang tua kalian”, kata-kata kasar yang keluar dari mulut Cindy membuat Lisa dan Christin tak dapat berkata-kata lagi, “ayo kita pergi yuk males lama-lama di tempat kumuh kayak gini” kata Lisa pada Christin “Yuk aku juga males di sini” jawab Christin.

***
Setahun kemudian ayah Cindy meninggal membuat dia terpukul dan harus berpikir menjalani hidupnya kedepan bersama ibu dan adik-adiknya apalagi ibunya sakit parah karena kesedihan yang berkepanjangan membuat penyakit-penyakit muncul dalam tubuh ibunya. Sekarang Cindy fokus membuat kue demi menghasilkan uang bagi keluarganya dia berhenti dari sekolahnya dan memilih meneruskan usaha keluarga. Hari itu cuaca sangat baik sekali bagi anak-anak yang mau kesekolah, orang-orang yang berpergian ke tempat kerja dan adik Cindy yang menjaga ruko sembari menunggu Cindy mengantarkan sebagian kue yang dibuat dari rumah ke ruko. Tiba-tiba ada suara dari jauh makin mendekat menyapa selamat pagi dek”, sapa seorang pemuda bernama Andi pada adik Cindy bernama Dinda yang saat itu menjaga kios kue. “Iya pagi kak,ada perlu apa yah”, sahut Dinda “adik pemilik ruko kue ini?” Tanya Andi pada Dinda,”iya benar kak ini ruko milik keluarga kami”, jawab Dinda, “begini ada salah satu karyawan perusahaan kakak yang suka membeli kue di sini dan kakak pernah mencobanya,kuenya enak sekali maka kakak ingin menawarkan pada adik” (belum lama berbicara Cindy datang) “Kak ini ada yang perlu kakak”, kata Dinda “Siapa Din?” tanya Cindy “Tuh orangnya kakak yang layani deh biar kakak yang lebih tahu”. “Pagi mba,mba pemilik ruko kue ini?”, tanya Andy pemuda yang sedari tadi berbicara dengan Dinda, “Iya benar,emangnya ada apa yah?” Cindy menjawab dengan wajah penasaran, “perkenalkan nama aku Andi, sambil menyodorkan tangannya, Cindy juga menyodorkan tangannya dan berkat, ”nama aku Cindy”. ”Enggak mba jadi gini aku sudah beberapa hari ini ngerasa ada yang berbeda dari kue-kue yang disajikan di kantorku waktu aku tanya sama OB-ku dimana mereka membeli dan mereka bilang kuenya dari rukonya mba yang di beli dan rasanya enak banget jadi aku mau nawarin mba gimana kalau kita bekerja sama jadi mba menyediakan sarapan kue-kue dari ruko ini ke kantorku setiap hari bagaimana?”, tawar Andy kepada Cindy. Cindy terharu sampai air mata keluar dari matanya dan dia menjawab Andy, “saya menerima tawarannya terima kasih banyak atas kebaikan hati bapak”,”nggak usah panggil bapak panggil Andy saja”,”eh…iya terima kasih Andy”.

***

Akhir yang bahagia, Cindy mampu bekerja menyediakan sarapan kue setiap pagi ke kantor Andy dan Cindy bisa membantu biaya berobat ibunya serta menyekolahkan ke-6 adiknya. Setiap Sabtu dan Minggu ruko kuenya tutup dan biasanya Cindy menikmati hari liburnya itu di halaman rumahnya. Ibu yang melihat Cindy duduk di belakang halaman rumah mereka, datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya serta berkata “Cindy ibu bangga sekali melihat apa yang sudah kamu lakukan kesalahanmu di masa lalu telah mengubahmu menjadi anak yang bertanggung jawab itu semua berkat nasihat keras dari almarhum bapamu, pasti bapamu di Surga sana tersenyum melihat kerja keras-mu, nak”, “ibu ini memang sudah menjadi tanggung-jawab Cindy sebagai anak dan sebagai kakak tertua yang harus mengurus ibu dan adik-adik, Cindy minta maaf karena selalu menyusahkan ibu dan bapa”, Cindy menunduk dan menendang-nendang rumput yang ada dibawah kursi tempat ia dan ibunya duduk, ibunya berkata lagi, ”kamu harus lanjutkan sekolahmu yah nak”, “tapi ibu aku kan sudah umuran tidak bisa masuk SMA lagi”,”kamu ikut ujian paket saja sayang nggak ada yang nggak mungkin selama kita mau berusaha seperti kamu membantu mengembangkan usaha keluarga ini, ibu yakin kamu pasti mampu menyelesaikan sekolahmu yang tertunda juga”,”baik bu”, “maafkan ibu karena kesakitan ibu membuatmu repot,”nggak papa bu Cindy sayang ibu dan adik-adik apapun akan ibu lakukan untuk keluarga kita," Cindy dan ibunya berhadapan lalu berpelukan.

Inilah kisah hidupku yang kubagikan bahwa kita harus siap sedia menghadapi hidup ini baik atau nggak baik tetep harus berusaha. Kepergian salah satu orang tua kita entah itu bapa atau ibu akan buat kita jadi orang yang lebih dewasa lagi. Jadi nggak boleh patah semangat yakinlah bahwa ada orang-orang yang setia dukung kita terlebih Tuhan. 💙


KARYA : APRIANI PASKALIN AYOMI

Friday, July 24, 2020

Cerpen, "Lima Kali Kucoba".


SHORT STORY
BERDASARKAN KISAH NYATA HIDUPKU
“LIMA KALI KUCOBA”




Lima tahun berlalu dengan cepat aku sudah sarjana rupanya. Berkuliah dengan tekun bersusah-susah selama lima tahun akhirnya saat yang kunantikan tiba juga, aku wisuda. Dan aku bahagia sekali karena dinobatkan sebagai mahasiswa dengan predikat cum laude pada bidang yang kutempuh yaitu pendidikan agama. “Selamat yah Dina, Ayah dan Ibu bangga sekali padamu” kata Ibu,”iya Dina tapi ingat tetap rendah hati” sambung Ayah. “Selamat adik bungsu kita” kedua kakakku yang ikut pada waktu aku yudisium dan wisuda memberi selamat padaku. Setelah kami sampai dirumah ayah dan ibu mengatakan bahwa tidak ada acara untuk wisudaku tapi akan ada ibadah keluarga dirumah sesuai jadwal ibadah dalam lingkungan gereja kami, jadi pengucapan syukur wisudaku disatukan dengan ibadah keluarga tersebut. “tidak apa-apa bu, yang penting aku boleh yah undang ketiga sahabat SMA-ku”, kataku,”tentu saja boleh sayang”, jawab ibu. Akhirnya semua kebahagiaan waktu aku yudisium dan wisuda segera berlalu seiring berjalannya waktu yang begitu cepat.
***
Dengan perjuangan keras setelah yudisium dan wisuda aku kembali ke kampusku dan bersama teman-teman lainnya kami mengecek ijasah kami dibagian Akademik. Meskipun kami agak kelelahan bulak-balik kampus untuk mengecek ijasah kami tapi akhirnya kami bisa memegangnya juga di hari terakhir pendaftaran CPNS 2018. Karena kami semua terburu-buru ingin mendaftar CPNS. “Kakak tolong kami, kami mau daftar CPNS hari ini ditutup pendaftarannya”, kata Denis, “iya kak tolong aku sudah isi semua persyaratan tinggal nomor seri ijasah”, timpal Ria. “Baik-baik tinggu sebentar yah sedikit lagi ibu wakil ketua bagian akademik menandatangani ijasah kalian baru boleh diambil”, kata kakak Roni yang bekerja di bagian Akademik kepada kami. “Teman-teman bagaimana kalau kita jalan-jalan ke toko Saga abe setelah itu baru kita balik lagi ke kampus”, ajak Fina, “boleh…boleh ayo nanti setelah ini kita pasti tidak sering bertemu lagi karena masing-masing pulang ke daerah asal”, seru Kezia, “oke deh kalau begitu” kataku, serempak teman-teman lain mengiyakan. Kelas kami hanya terdiri dari 12 orang jadi tidak banyak seperti teman-teman kami yang dijurusan lain sehingga kami terlihat kompak. Jalan-jalan pun sukses ada makan bakso bersama juga, lalu kami berjalan kaki kembali ke kampus dan akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Ijasah kami diberikan hampir jam 18:00 WIT. Dengan bergegas aku meminta tolong temanku Denis, “Den bantu aku mendaftar CPNS 2018 dong kamu kan sudah”, “tapi kamu ada internet tidak? Di rumah”, tanya Denis, “tentu saja aku ada kami pasang Wi-Fi, ada laptopku dan semua persyaratan CPNS siap sedia, hanya ini pertama kali untukku dan aku masih bingung”, kataku. “Oke nanti aku bantuin”, kata Denis. Teman-teman yang lain sudah pada pulang dan aku mengajak Denis “ayo kita ke rumahku sekarang nanti pendaftarannya keburu tutup”, cetusku. Akhirnya malam itu dengan hujan, kilat dan guntur aku mengurus semua persyaratanku dan namaku terdaftar dalam seleksi CPNS 2018, aku berterima kasih kepada temanku Denis yang sudah membantuku. Karena kehujanan dan rumahnya jauh di Polimak temanku Denis berpamitan pulang. Setelah hari itu aku berdoa dengan tekun menanti hasil tes, hingga saat yang dinantikan tiba. Aku berdoa dan membuka laptopku, sangat disayangkan melihat hasil tesku. “Ayah, Ibu aku tidak lolos” dengan setengah suara aku menyahut dari kamar tidurku memberi tahu ayah dan ibuku. “tidak apa-apa jangan patah semangat coba lagi yang lain” kata ayah menyemangatiku, “iya benar masih banyak tempat lain yang menunggumu mendaftar pekerjaan” sambung ibu. Dengan kecewa aku mematikan laptopku dan tidak mengambil bagian dalam makan malam tetapi langsung tidur. Ayah, ibu seandainya kalian tahu betapa aku berjuang gigih demi membanggakan hati kalian karena telah memiliki aku sebagai anak kalian yang berguna dalam keluarga.
***
Hari-hari berlalu aku menjalani aktivitas yang menurutku sangat membosankan yaitu membantu ibuku mengerjakan pekerjaan sehari-hari dirumah. Setelah membantu ibu memasak aku berusaha membuka internet di akun Facebook dan Instagramku, aku berusaha mencari pekerjaan lagi. Kutemukan satu akun menulis dibutuhkan customer service di salah satu tempat kursus bahasa Inggris, “mau coba ah”, “coba apan” sapa kakak sepupuku yang dari tadi sudah ada di depan pintu kamarku dan memerhatikanku mengotak atik handphoneku, “eh kak Kia sudah datang dari tadi?” tanyaku, “baru saja nih”, “kak temenin aku urusin lamaran kerjaan di Entrop”,”boleh…boleh kapan?” tanya kak Kia,”sekaranglah kak masa 20 tahun lagi kan ketuaan”, candaku, “hahahaha…” serempak kami tertawa. Dengan semangat aku dan kakak sepupuku mengurus lamaran kerja hari itu juga selepas makan siang bersama lamaranku aku berikan kepada ayahku untuk didoakan. “semoga berhasil, nak” kata ayah, “terima kasih ayah”. Sesudah berpamitan, aku dan kakak sepupuku mengantarnya ke tempat kursus tersebut yang terletak di Entrop. Sayang dan sangat disayangkan sesampainya disana aku ditolak karena posisi yang mau kulamar sudah ada yang menempatinya. Lamaran keduaku ditolak, tetapi ayah dan ibuku terus menyemangatiku dengan berbagai kata-kata bijak. Aku harus bisa move on sekarang dan mencari pekerjaan lain. Kebetulan saja ada lowongan di salah satu organisasi keagamaan yang berada di Jerman karena mereka bekerja sama dengan gereja tempat aku beribadah. Lamaranku aku kirim lewat e-mail karena aku punya basic English yang bagus karena pernah mengikuti kursus bahasa Inggris di Australia salah satu program yang kakak-kakakku ikut juga sewaktu mereka kuliah, jadi aku optimis bakalan lolos. Seperti biasa kamaranku, aku berikan ke ayahku untuk didoakan dan setelah itu baru aku kirimkan lamaran tersebut melalui e-mail. Hampir sebulan aku menanti dengan harap dan cemas, tiap selesai melakukan aktivitas di dalam rumah aku mengecek e-mail masuk di laptopku. Akhirnya jawaban datang e-mail baru di kotak masuk. “Wuhuuuuhhuu…akhirnya aku diterima” ucapku bahagia, “anak ibu diterima”, sahut ibu dari luar kamar yang mendengarku bergembira mendapat e-mail.”Huffftthh…lagi-lagi kejadian” kataku dengan air mata dipipi sambil melihat isi e-mail tersebut yang bertuliskan sorry we already chose another person to take the position that you would like to apply for. Ibu yang dari tadi mendengarku bersorak dikamar lalu tiba-tiba suasana menjadi hening, ia penasaran dan mengetuk pintu kamarku tapi aku tidak menghiraukannya, ibuku terdiam di depan pintu kamarku karena ia tahu bahwa lagi-lagi aku tidak diterima kerja.
***
Keesokan harinya pagi-pagi, aku menemani ibu ke pasar karena belanjaan kami sudah banyak aku memutuskan untuk menunggu ibu dipintu pagar keluar dari pasar. “Hei Dina”, sapa seseorang dibelakangku yang mengagetkan aku yang sedang duduk bengong menunggu ibu. “oh…hai Lisa”, sapaku, “lama sekali kita tidak berjumpa”, kami berdua berjabat tangan dan berpelukkan. Tak bisa kujelaskan dengan kata-kata Lisa teman SMA-ku dulu dia sudah secantik ini, dulu rambutnya pendek sekarang rambutnya panjang, ia memakai make-up dan tentu saja apa yang ia kenakkan? Pakaian dinas. Hebat sekali dia, tidak seperti diriku yang sekolahnya dapat predikat cum-laude tapi tidak ada guna sama sekali di dunia mencari pekerjaan dan bekerja. “Kamu dengan siapa ke pasar?” tanya Lisa mengagetkanku dari lamunanku yang mengharapkan bisa menjadi seperti dirinya, “dengan ibu, ibu lagi belanja ayam di dalam karena barang bawaan kami banyak aku milih duduk dipintu keluar pasar, kamu sendiri ngapain ke pasar dengan pakaian rapih gitu”,”oh ini aku mau belanja buah-buahan anakku sakit karena suamiku yang jaga di rumah sakit maka aku mutusin buat ke pasar beliin buah buat dia kata dokter buah bagus untuk kesehatannya”,”semoga cepat sembuh yah anakmu”,”terima kasih untuk dukungannya, oh iya kamu sekarang kerja dimana”, “tidak usah bertanya tentang pekerjaan deh, kalau yang punya kantoran itu keluargaku pasti aku diterima”,”jangan patah semangat mulai dari yang kecil aja sebagai honorer siapa tahu kalau ada pengangkatan kamu diangkat juga”,”iya ntar aku coba”,”atau antarkan saja lamaranmu ke restoran atau café dan lain-lain”, “terima kasih untuk saran dan jalan keluarnya”. “Dina ayo kita pulang” panggil ibuku dari jalan sebelah, “oke bu sebentar” balasku. “Lisa aku pamit dulu ibuku sudah panggil-panggil”,”oke sampai nanti yah”, aku dan Lisa berpisah disitu, aku pulang bersama ibu naik taksi dan Lisa berjalan masuk ke pasar ke tempat jualan buah segar. Dalam perjalanan pulang di taksi ada yang meninggalkan selebaran dari toko Pizza yang baru dibuka dan membutuhkan tenaga kerja tanpa berpikir panjang aku mengambil selebaran tersebut dan menyimpannya disaku. Sesampainya dirumah aku meletakkan semua barang belanjaan dan aku mencoba saran Lisa, lamaranku kuantarkan ke toko Pizza. Setelah  lamarannya diterima dan dibaca oleh bosnya, aku ditelepon oleh mereka dan aku kembali lagi ke toko Pizza tersebut keesokan harinya. Semuanya oke, aku diinterview, setelah interview hasilnya aku terima saat itu juga bahwa aku ditolak bekerja di toko tersebut dengan alasan karena pendidikanku tinggi dengan nilai akademik yang bagus tidak layak bagiku untuk bekerja di toko. Untuk keempat kalinya aku ditolak bekerja, dengan alasan yang menurutku tidak masuk akal. Aku hanya butuh pekerjaan dan nilaiku tak ku pedulikan selama aku bisa memberi uang untuk kedua orangtuaku, terlebih ayahku yang sebentar lagi pensiun dengan begitu hatiku puas. Akhirnya suatu hari aku diberitahu kakakku yang sudah bekerja sebagai guru bahwa ada lamaran menjadi honorer di kantor kementerian dan aku tertarik mendaftar walau aku tahu lagi-lagi akan ditolak tapi optimisme tetap ada dalam diriku karena semangat yang berasal dari ayah dan ibu.
***
Sementara aku dalam tahap mengurus lamaran untuk menjadi honorer kontrakan selama setahun di kantor kementerian tersebut. Ayahku menerima surat dan piagam pensiun dari kampus tempat ia mengabdi, di depan seluruh mahasiswa-mahasiswa yang ia didik ia berpamitan dan berterima kasih untuk kesempatan yang diberikan baginya menjadi tenaga dosen. Tak lama setelah menerima surat dan piagam itu ayahku jatuh sakit, dan sakitnya sebenarnya sudah lama namun ia menahannya sampai kali ini benar-benar parah sehingga aku dan ibuku menemani ayahku untuk berobat ke Jakarta. Akhirnya kesampaian juga aku ke Jakarta yang menurut cerita kedua orangtuaku aku lahir di kota tersebut sewaktu ayahku berkuliah menyelesaikan masternya disana. Kami kesana bukan untuk mengenang masa indah tersebut, bukan untuk kuliah lanjut seperti impianku yang ingin mendapat beasiswa setelah lulus atau mendapatkan pekerjaan agar bisa menolong keluargaku yang saat ini ayahku telah pensiun dan aku mati-matian ingin membahagian kedua orangtuaku dengan memberikan uang hasil keringatku, melainkan aku menemani ayah dan ibuku ke Jakarta untuk berobat ayah disana karena di tempat kami tinggal di Papua sekalipun di perkotaan Jayapura namun masih kekurangan dalam peralatan medis dan dokter-dokter yang baik yang bisa menangani sakit ayahku sehingga kami pergi kesana. Aku berpikir bahwa hampir sebulan kami disana dan ayahku telah mendapatkan penanganan medis terbaik dengan disedotnya cairan di paru-parunya serta dokter sudah memberi resep obat kami bisa pulang ke Papua dengan kesembuhan ayah. Tetapi ternyata harapanku sia-sia, aku harus menerima kenyataan yang menyakitkan bahwa ayahku meninggal. Disaat aku masih membutuhkannya karena banyak hal yang ingin kugapai terutama melanjutkan kuliah di Jakarta, mencari pekerjaan dimana-mana sampai hampir saja aku menjadi gila karena aku ingin memberikan uang hasil keringatku di tangannya, disaat itu dia harus meninggalkan kami berenam, ibu dan kami berlima anak-anaknya serta keempat cucunya. Memang ayahku adalah orang yang kuat pendiriannya, ia disiplin, berpendidikan tinggi walaupun dulunya ia dan kakek kami di kampung hanyalah nelayan namun keinginannya yang tinggi ia meninggalkan Serui kota kelahirannya dan menggeluti hidup yang sulit di pusat kota yaitu Jayapura. Tanpa bantuan siapapun dengan mencari ikan dan menjual ikan serta belajar dengan tekun, otaknya yang jenius itu membuat ia disekolahkan dan diangkat sebagai dosen. Seluruh mahasiswa binaannya hadir dalam upacara pemakamannya di kuburan tanah hitam Abepura. Aku belum bisa menerima kenyataan hidup ini, sebenarnya aku menyesal dengan kepergiannya yang teramat sangatlah cepat. Ketika dia pergi barulah lamaran pekerjaanku diterima di kantor kementerian setelah empat kali aku mencoba dan gagal akhirnya kali kelima aku berhasil diterima kerja dengan semangat yang selama ini kudapat darinya dan ibu. Namun bagiku, apalah arti aku bekerja di kantor tersebut bila orang yang ingin kubahagiakan dengan hasil keringatku ia telah pergi meninggalkan aku. Aku tersadar satu pesan yang sempat ayah ucapkan saat kami di Jakarta, ia berpesan “jangan lupa ibu kalau ada uang kamu harus berikan ke ibu”, waktu itu aku pikir perkataan ayah hanya perkataan biasa yang tapi ternyata itu adalah amanat, tugas yang harus kupegang dan laksanakan bersama keempat saudaraku yang lain setelah kepergiannya. Kami harus mengurus ibu, memberikannya uang jika kami punya kelebihan. Terima kasih untuk segala kebaikanmu ayah, engkaulah alasan kegigihanku mencari pekerjaan walaupun kali kelima baru aku diterima kerja, waktu mungkin berkata terlambat untukku membahagiakanmu.  Tapi aku mengucap syukur kepada TUHAN karena menganugerahiku ayah sepertimu dan 23 tahun hidupku, kuhabiskan bersamamu ayah, bersamamu ibu, bersama kalian keluargaku yang selalu ada untukku dalam naik turunnya putaran roda hidup ini. TUHAN besertamu diseberang sana ayah…kami mengasihimu.







KARYA :
APRIANI PASKALIN AYOMI

Puisi "Matahari".




























Nostalgia "Dies Natalis Kampus"

       Ini aku dan kisah nyataku yang tersimpan rapih dalam memori ingatan yang sengaja kubuka kembali setelah sekian lama berhubung tahun i...