Wednesday, July 22, 2020

Cerpen, "Perahu Kertas".



SHORT STORY

 “PERAHU KERTAS”
Aliran air yang deras menghanyutkan perahu kertasku entah berhenti di persinggahan mana aku tak tahu yang aku inginkan adalah perahu kertas ini mengantarkan sejuta rasa rinduku pada seseorang yang aku cinta. Detak jantungku ada di dalam perahu kertas ini dan aku mau perahu kertasku ini berhenti di hati dia yang ku tuju.



***
Sore itu aku berjalan disekitar kompleks perumahanku dan di dekat situ ada sebuah kali kecil yang berada dekat dengan lapangan basket tempat bermain anak-anak kompleks kami. Aku ingin mencari udara segar karena telah berhasil menyelesaikan ujian akhir nasional di bangku SMA. Bayangkan saja gimana rasanya setelah belajar mati-matian di tekan oleh orangtua di rumah untuk belajar,belajar,belajar dan belajar belum lagi dibayang-bayangi oleh guru-guru di sekolah tentang pelaksanaan ujian yang ketat dan disiplin serta nilai rata-ratanya harus mencukupi kalau tidak… aahhh sudahlah tak mau dipikirkan hasilnya nanti belakangan yang penting udah berjuang sekuat tenaga dan nggak lupa berdoa juga itu sudah pasti. Sekarang nggak mau mikir-mikir itu lagi mendingan nyantai menikmati pemandangan yang sudah ada di depan mataku ini. Ketika aku ingin duduk di sebuah kursi bercat warna biru yang terletak di tepi kali itu aku menemukan ada sebuah perahu kertas yang melaju mendekat ke tempat aku berdiri dan hendak duduk. Aku tergerak hati dan karena rasa ingin tahuku tinggi aku langsung saja mengambilnya tanpa berpikir panjang, lalu aku duduk sambil  membuka isi surat tersebut yang sudah setengah basah oleh air. Aku membaca isi surat itu dengan seksama dan apa yang terjadi?. Hatiku ikut tersiram bara api yang panas karena begitu sakitnya perasaan orang yang menuliskan surat itu. Demikian bunyinya :
Salah aku apa? Aku hanya mencintaimu dengan cinta yang ku punya mungkin sekarang aku tidak bisa memberikan apa yang diberikannya padamu,tapi suatu saat nanti aku akan mampu memberikan segala yang kau inginkan. Dulu aku pernah berpikir bahwa kau adalah salah satu dari bintang-bintang yang memancarkan keindahan hanya untukku namun aku salah menilamu. Kau adalah cewek pengincar uang.
Surat yang menurutku isinya sangat mengerikan sekali tetapi membuatku merasakan apa yang dirasakan si penulis tersebut. Walau tidak sama persis dengan dia tapi aku juga pernah punya kisah cinta dan menurutku sial semua. Bagaimana tidak semua cowok yang ku taksir satu sekolah semuanya nggak ada respon. Maklum gayaku dan diriku mungkin nggak sesuai kriteria cewek yang mereka suka. Itu menyakitkan banget sama kayak si penulis surat ini, jadi mereka para cowok di sekolahku hanya pengen punya pacar kalau mereka itu cantik. Btw… Aku penasaran ingin melihat nama si penulis surat yang baru saja ku baca tapi air telah membasahinya sehingga aku hanya dapat melihat inisial huruf  L di bagian bawah kertas itu. Diam-diam hatiku ingin sekali membalas surat tersebut tapi aku tidak tahu orangnya siapa. Aaahhh sudahlah jalan-jalan sore ini kucukupkan dulu nanti besok balik lagi siapa tahu bisa bertemu dengan penulis surat itu. Oh yah…aku bawa aja suratnya pulang.
***
Pagi-pagi benar sekitar jam 7 saat semua orang di rumah masih pada bobo manis aku berjalan menelusuri jalan menuju tempat aku bertemu dengan perahu kertas itu. “Bukkk….”, (Kepalaku terkena bola), “Hei apa-apaan kamu main bola seenak kepala loe emangnya badan gue ini tiang gawang seenaknya aja nendang-nendang kemari”, Seseorang menghampiriku dan dengan nada tak bersalah berkata “hmmm… aduh sorry yah nggak sengaja habisnya loe lewat pas di belakang gawang sih”,” Apa loe bilang sorry…ehhh nggak usah kebarat-baratan deh biasa aja kale”,”ohh…kalau gitu maaf deh”,”nih bolanya (buuukk)”, bola tersebut mendarat dikepala si cowok reseh tersebut, “satu sama”, aku berlari menjauh dan meninggalkan cowok reseh itu menjerit kesakitan. “Emang gue pikirin lagian masih pagi ada aja yang bikin ribut…oh iya yah mereka kan biasa suka sparing sama anak-anak kompleks sini but whatever I don’t wanna know”. Dengan membawa pulpen hitam dan kertas berwarna biru muda yang ada gambar boneka-bonekanya aku menulis sebuah surat harapannya sih bisa di baca oleh si penulis surat yang kemarin. Setelah selesai menuliskan surat di bangku yang kemarin ku duduk sambil membaca surat itu, aku melipat surat tersebut berbentuk perahu dan  melepaskan perahu kertasku. “Semoga di baca sama dia”, kataku. Setelah surat berbentuk perahu itu semakin menjauh di bawah oleh aliran air di kali tersebut aku berjalan menyusuri lapangan bola dan pulang kembali ke rumah. Anehnya saat aku berjalan pulang “anak-anak reseh yang tadi bermain bola disini mereka dimana yah”, kataku, “kenapa loe mau ditendangi bola lagi jadi nanya kita dimana?”, aku kaget dan berbalik badan sontak saja ku balas “enak aja emang ku peduli mereka mau main sampe kakinya patah tuh bukan urusanku,”,”hmmhhh…emang cewek aneh”,”ehh eloo… lagi males gue bicara sama cowok reseh yang udah buat badan gue sakit kena bola”,”satu sama dong tadi loe bilang kan loe udah bales gue”,”apaan sih males gue bicara ama loe nggak penting banget kenal juga nggak”,”sombong loe”, Aku berjalan secepat mungkin biar si cowok reseh itu nggak usah SKSD atau sok kenal sok dekat sama aku. Setelah sampai di rumah papa dan mama mengagetkanku. “hey kamu dari mana aja”,kata papa sambil mengoleskan selai kacang dirotinya, “iya nih nggak ikut sarapan sama kita,kamu lagi diet yah” sambung mama, “nggak kok siapa bilang aku diet aku tadi cuma jalan-jalan pagi kok di depan”, kataku sambil menyembunyikan pena yang kupegang ke dalam saku celana. “yah dia nggak mungkin bohong dong papa dan mama tadi abang lewat di depan benaran kok dia jalan pagi tapi sama cowok”, aku  kenal sama suara ini arahnya dari belakangku “bang Ferry” suaraku yang cempreng membuat papa dan mama hanya bisa geleng-geleng kepal. Aku langsung memeluk abangku, “aahh abang nyebelin dateng nggak bilang-bilang abang liburan berapa lama disini”,”abang nggak libur dong abang mau lamaran makanya kesini”,”males semuanya udah ninggalin Kelly sendiri di sini di kota ini di rumah ini sama papa dan mama doang”,”Kelly sayang kalau ada liburan panjang pasti bang Ferry dan abang kamu satunya yang super sibuk itu bang Soni pasti bakal kunjungan kesini percaya deh di hati ini cuma Kelly doang yang bisa bikin abang-abang pulang ke rumah”,”aahh abang bisa aja gini nih pasti ada maunya…mau minum apa?”,”biasa adikku yang mungil abang mau minum jus jeruk”,”siap abang Kelly buatin dua soalnya Kelly juga mau minum”,”jangan dua dong harus tiga tambah cowok yang tadi kamu ketemu di depan”,”aahh abang…ihhh mama liatin abang dong gangguin mulu dari tadi”,”Ferry udah adikmu nggak mau digangguin”,”iya…ma”. Sambil buatin minum untuk kakakku, aku lagi mikirin kira-kira perahu kertasku udah singgah di salah satu dermaga alias tangan seseorang untuk di baca belum atau hanya jadi sampah masyarakat di kali. Di seberang sana perahu kertasku yang telah di bawa aliran air telah berhenti di depan kaki  seseorang dan orang itu menemukannya serta membacanya.
Janganlah takut untuk mencintai terkadang cinta itu tidak perlu dipaksakan hanya perlu dirasakan sebab kita tidak akan pernah mengalami perasaan seperti itu untuk kedua kalinya lagi. Nikmatilah hidup dan railah apa yang perlu untuk diraih sebab dengan sendirinya cinta akan menghampirimu dengan sejuta cara yang akan membuatmu kagum.
Dia yang membaca perahu kertasku lalu merenungkan kata-kata yang kutuliskan dalam kertas itu sambil duduk di pinggir kali tempat ia biasa melabuhkan hatinya dalam sepucuk surat yang menjadi perahu kertas yang salah satunya telah ku baca. Disimpannya surat itu dengan baik dalam tasnya lalu ia berjalan pulang.
***
Keesokan harinya kakakku mengajakku lari pagi tapi kali ini dia sengaja mengajakku berlari lewat lapangan bola. “Kelly kemarin kamu lari lewat sini emang kamu suka perasaan waktu abang masih tinggal di rumah kamu nggak pernah keluar rumah paling sekolah-rumah begitu juga sebaliknya rumah-sekolah“,”yah abang kan sekali-sekali aku keluar rumah biar cari udara segar masa terkurung di rumah mulu”,”aahh…yang ini nih abang suka siapa sih yang udah buat kamu jadi berani keluar rumah cowok apa cewek kenalin dong”,”abang mau tau aja urusan orang lagipula di kompleks ini mana ada cewe semuanya cowok kale jadi mau ajak main nggak bisa”. Sambil lari pagi aku juga merenung benar juga nanti orang-orang pada kira aku anti sosial hidupnya di rumah terus, belajar terus, tidak ada istirahatnya.”woii…ngelamun awas ketabrak”, seru cowok yang di atas motor tersebut,”aduh…maaf yah adikku lari nggak lihat” seru abangku, “iya…iya ma…what? loe lagi nggak bosen yah cari masalah mulu ama gue”,”eh gue nggak mau cari masalah yah gue udah telat mau pemanasan tuh anak-anak udah pada manggil”, Kakakku menarik aku berdiri dan dengan sopan kakak meminta maaf padanya kalau aku tidak mau mengeluarkan kata maaf enak sekali nanti skornya dia dua aku satu. “kamu kenapa sih dek sama dia, kamu yang salah lari sambil ngelamun”,”iya iya deh apalah Kelly nggak peduli”,”Kel…Kelly jangan marah dong sama abang”,”biarin berteman aja tuh sama teman barunya abang”,”Kel…ayolah abang nggak bermaksud”. Aku lari menuju tempat sepi tempat tenang yang menyenangkan, “sip udah nggak ada lagi keributan nggak dikejar-kejar sama abang plus nggak ada suara rewel cowok reseh itu, duduk dulu aahh”. Setelah lima menit kemudian ada sebuah surat yang melintas, “wahhh ada surat tuh yang nongol siapa tau aku dapet balesan lagi”. Setelah mengambil surat itu dengan wajah penuh riang gembira isinya ternyata
Hey there…aku nggak tau kamu siapa tapi makasih buat balesan surat kamu, balesan surat darimu membuat hatiku merasa tenang. Selama ini aku melabuhkan suratku tanpa tahu arahnya kemana dan nggak nyangka bakal dapet balesan. Kalau kamu itu real boleh nggak aku ketemu sama kamu. By Leonard William
 “Wow suratku di bales dan bahkan aku diajak ketemu yang bener aja…eh ada nomor hp-nya lagi”. Tapi aku tidak diperbolehkan memakai handphone sampai aku dinyatakan lulus dulu dari SMA. “Gimana yah…pikirku”, sambil menimbang-nimbang aku melihat ada seorang adik kecil yang membawa buku dan bolpen dia mau bermain sama teman-temannya “halo adik maaf kakak ganggu boleh nggak kakak minjem bolpen dan minta kertasnya satu aja”,”boleh kak ambil aja”,”kakak pakai bolpennya dulu kalau udah selesai kakak ke tempat kalian bermain dan kembaliin bolpennya oke”,”oke kak aku kesana dulu temen-temen udah manggil”,”oke..”. Aku segera menuju bangku dekat kali itu dan menuliskan surat yang menjelaskan bahwa aku tidak bisa berkomunikasi dengannya karena orangtuaku melarang aku menggunakan handphone. Surat itu ku labuhkan di air dengan harapan ada cara lain bisa berkomunikasi dengannya atau bertemu langsung? Who knows?.
***
Hari itu lapangan sepi biasanya mereka latihan bola tiap pagi tapi kayaknya mereka sudah mulai perlombaan bermain bolanya di lapangan sungguhan. What? Maksudku lapangan yang benar-benar ada penontonnya dan ada teriakan-teriakan hsiteris para kaum hawa yang nggak tahu apa yang mereka teriakin mungkin supaya para pemainnya bisa mencetak gol atau karena mereka fans sama pemain bolanya karena tampan. Ahh… whateverlah yang penting tujuanku mau mengecek surat apa sudah ada balasan belum. Ketika aku sampai suratnya sudah basah semua aku tafsirkan dia nulis surat tersebut dari kemarin dan aku baru ngambil sekarang otomatis basah semua. Btw aku masih memegang bolpen yang diberikan seorang adik kecil kemarin hari ini aku juga rencana mau mengembalikannya tapi kenapa si adik nggak muncul lagi yah. Karena penasaran aku ambil kertas tersebut dan membacanya di dalam surat itu si Leonard William menulis nama lengkapnya, alamat tempat tinggalnya dan nomor handphone-nya serta harapan ingin bertemu denganku. Aku spontan mengangguk kepala mengiyakan “wah… parah aku berdiri sendirian pagi-pagi baca surat yang udah basah sambil senyum dan mengangguk nanti orang-orang pada bilang aku gila”, sudahlah kubalas saja suratnya dengan mengiyakan permintaannya. Entahlah apa aku sudah gila masak janjian dengan orang yang belum pernah aku ketemu sebelumnya. Aku berjalan pulang sambil merenung dan “buuukkk…” lagi-lagi bola terkena badanku “eh kalau nendang lihat-lihat dong”,”maaf dek kakak nggak lihat”, “kakak…ngapain disini sejak kapan kakak main bola terus sama…sama dia lagi” (sambil menunjuk wajah si cowok yang bahkan aku nggak mau tahu namanya). “Kelly nggak boleh gitu”,”emangnya kenapa”,”udah kak biarin aja memang aku suka buat dia kesal” potong si cowok tersebut. “udah deh kak goodbye aku pulang duluan”. Sambil banting pintu rumah aku ngomel nggak jelas membuat papa dan mama bertanya-tanya “kamu dari mana Kelly kok kelihatan kesel?” tanya papa yang selalu kepo pengin tahu segala-galanya tentang anak gadisnya, “nggak pa, aku kesel lihat orang yang aku benci malah akrab sama abangku sok kenal banget yah”,”nggak apa-apa itu ternyata calon ipar abangmu kemarin papa sama mama ke rumah calon isteri abangmu eh malah ketemu sama dia” kata Mama,”whatttt? Kok nggak ada yang bilang-bilang sih sama Kelly”,”gimana kami mau ngasih tahu kamu aja sibuk sendiri tiap pagi keluyuran nggak jelas kemana”,”aku tuh lagi nulis surat ma dan itu penting bang…upss sorry ma bukan apa-apa Kelly pergi mandi dulu yah”,”eh Kelly main kabur aja belum cerita tuh papa mau dengar”. Aku tak ambil pusing kata-kata papa aku berjalan terus ke kamar mandi mau mandi.
***
Wah deg-degan banget yah pengen muntah rasanya ini adalah hari dimana  pertemuan pertama aku dan si Leonard si penulis surat itu, maka aku berpikir untuk membawa alat-alat tajam yang akan melindungi diriku bila dia hendak melakukan hal-hal yang aneh padaku. Dengan ijin dari orangtuaku aku diantar abangku Ferry ke kawasan Mall terbesar di Jayapura yaitu Mall Matahari kebetulan aku tinggal di Kloofkamp jadi tidak terlalu jauh ke arah Mall Matahari. “Kamu ini orang yang belum pernah kamu temui begitu diajak ketemuan hanya lewat surat kamu mau nanti kalau kamu di apa-apakan gimana?” kata abangku merasa cemas, ”kak aku hanya kasihan aja sama dia di surat yang dia tulis dia kayak putus-asa banget nggak ada salahnya kan aku nolongin dia jangan sampai dia depresi atau bunuh diri karena cinta”, “alaahhh sudahlah jangan-jangan dia bohong lagi”, “kak postif thinking aja kenapa sih sewot banget”,”iya…iya ok deh abang nemenin kamu nggak?”,”nggak usah abang aku bisa sendiri nanti kalau udah selesai aku telpon abang deh minta dijemput”,”baiklah kalau begitu hati-hati yah”,”ok bang”. Kini kakakku telah meninggalkan aku sendirian sebenarnya tidak sendirian juga sih ini kan di Mall tentunya banyak orang dong. Aku melangkahkan kaki masuk dan berhenti di salah satu tempat favoritku yaitu toko buku Pelita. “Eh ada Kelly”,”kalian siapa?”,”ya ampun Kelly, Kelly kamu udah lupa yah kita ini temen sekolah kamu waktu SD” jawab Gita, “masa sih kok sekarang berubah yah makin cantik gitu”,”yaiyalah Kel emang mau kamu gimana” sambung Darlene,”hehehe…nggak kok kalian berdua ngapain disini”,”ini nih diundang sama Leonard katanya ada party gitu kalau kamu ngapain disini diundang juga yah?” tanya Gita,”soalnya ini kana car ulthanya yang ke 17 tuh dan dia mau rayain disini katanya temen-temen SD diundang semua loh”,”oh yah”. Aku semakin penasaran kok nama yang mereka sebut sama dengan nama orang yang aku lagi janjian sama dia. “Kalau aku boleh tahu nama panjangnya Leonard apa yah?”, tanyaku, “nama panjangnya itu Leonard William anak kelas 6B waktu itu” jawab Gita, “ohh gitu yah”,”kamu nggak kenal sama dia?” tanya Darlene. Sambil memasang wajah bingung aku menggelengkan kepala dan kaget setengah mati bahwa orang yang selama ini bertukar pesan lewat perahu kertas itu teman SD-ku , “oh iya pantesan kamu kan dari SD sukanya baca buku nggak suka bermain kayak kita-kita gini”, “hahahaha…” akhirnya percakapan siang itu ditutup dengan tawa geli mengingat masa kecil SD yang penuh dengan kenakalan dan keseriusan belajar. “Btw Kel kamu ikut kita deh”, Gita dan Darlene memasang wajah permohonan. “iya deh aku bakalan ikut emang acaranya dimana?”,”di Solaria lantai 2”, jawab Gita,”udah yuk kita jalan naik udah jam 12:30 udah lewat dari  jam yang tertera diundangan”, sambung Darlene. Kami bertiga langsung bergegas naik ke lantai 2 menggunakan escalator. Sesampainya disana ternyata acara sudah berjalan dan telah sampai di pemotongan kue. Dengan memasang wajah bingung aku lihat ke dalam ternyata ada abangku. “Ngapain abang Ferry ada disini tadi kan dia bilang dia mau pulang”, gumamku dalam hati. “Kue pertama ini aku pengen kasih ke Kelly”. Tunggu dulu kenapa semua orang jadi memperhatikanku apa ada yang salah dengan dandananku? Atau?. “hey Kelly kamu dipanggil kedepan tuh mau dikasih kue ultah”, kata-kata Gita membawaku kembali kealam bawah sadar yang sesungguhnya. Pas aku maju melangkahkan kaki depan dan menerima kue ternyata… “lohhh kok elo lagi sih”, ternyata si Leonard William adalah cowok reseh itu yang katanya adalah calon ipar abangku, pemain bola yang suka nendang kesasar kena badanku, dan dia teman SD-ku. Whatttt???. “hai Kelly ini kue buat kamu”
 Hatiku berkata itu Leonard dan ini tempat dia biasa melajukan perahu kertasnya. Aku langsung duduk di sebelah dia dan berkata-kata seperti orang yang telah saling kenal. “Pemandangannya indah,indah ketika kita melajukan berjuta rasa kita di dalam perahu kertas yang akan membawanya pada perhentian yang abadi”,kataku membuka percakapan. “Tapi lebih indah lagi ketika keabadian itu datang menghampiri kita yang menantikannya di dunia nyata”,sambungnya.”Kenalkan aku Leonardo William (Sambil Berjabat-Tangan), aku Kezia Laura. “Senang bisa berjumpa dengan orang yang bisa mengerti kita”,kata Leonard “lebih senang lagi bila kita menemukan cinta sejati kita”,sambungku “iya kamu benar dan cinta sejati itu takkan menunjukkan dirinya kecuali kita berusaha mencarinya”,”tidak perlu di cari dia akan datang dengan sendirinya padamu aku tahu perasaanmu saat ini hancur lebur aku kesini karena tergerak oleh batinku untuk memberitahu padamu bahwa jangan pernah salahkan cinta sebab cinta tahu ke mana arah dia berlabuh.”Namanya Selvi dia pergi meninggalkan aku karena dia menemukan lelaki yang kaya padahal aku tulus mencintainya mungkin bagi dia aku hanya memiliki wajah yang ok tapi dompetku kosong jadi waktu kami masih sekolah di SMA dia hanya menjadikanku model gandengan supaya tidak ditertawakan teman-temannya karena dia perempuan tercantik pertama yang diidolakan di sekolah kami maka pacarnya juga harus tampan,aku dijadikan korbannya dan aku benar-benar tidak tahu bahwa di luar sana ternyata dia berpacaran dengan orang lain aku baru mengetahuinya ketika kita selesai ujian nasional dan aku memutuskan hubungan kami,dia tidak merasa menyesal sebab telah mendapat penggatiku (Leonard marah dan memukul kursi)”,”itulah cinta Leonard terkadang kita harus pandai-pandai mengendalikan perasaan kita,saat kita berkomitmen serius dengan pasangan kita maka dari situlah cinta sejati akan terlihat,maaf Leonard aku pergi dulu kakakku sudah menelponku”,kataku “baiklah senang bertemu denganmu kalau tidak keberatan aku selalu ada di sini tiap sore,datanglah kalau kamu punya waktu”.Jawab Leonard
***
Aku banyak menghabiskan waktu liburanku (sebelum mendengar hasil kelulusan di SMA) bersama Leonard di taman kecil di Jl.Melati. Aku tak tahu hubunganku dengannya di beri status apa lajang,hubungan tanpa status atau pacaran sebab setiap kami bertemu kami banyak berceritera tentang pengalaman-pengalaman hidup dan juga tentang masa depan masing-masing. Leonard bilang dia akan melanjutkan studinya di Sulawesi dia ingin masuk di IPDN sedangkan aku ingin masuk di universitas sastera karena aku senang menulis karya sastera entah itu novel,cerpen dan lain sebagainya. Sore itu merupakan pertemuan terakhir aku dengannya sebab dia akan berangkat paginya ke Sulawesi. Perasaanku bercampur-aduk antara takut kehilangannya ataukah mendukungnya dalam menggapai cita-citanya. Aku bersyukur bertemu dengannya dan banyak mendapatkan pengalaman saat bersamanya,dia membuat hari-hariku berwarna dan aku punya semangat untuk menuliskan ceritera pertamaku yang kutulis berdasarkan kisahku bersamanya dan itu akan aku abadikan dalam sebuah novel karyaku sendiri. “Kezia,besok aku akan berangkat ke Sulawesi aku harap kamu baik-baik yah di sini”,”aku pasti akan baik-baik saja karena aku yakin ada perahu kertas yang membawa kabar tentang diriku padamu yang jauh di sana”, perkataanku membuatnya tertunduk. “Kalau nanti kita bertemu lagi kamu mau aku kasih kamu hadiah apa?”,Tanya Leonard “aku hanya ingin sebuah perahu kertas yang bertuliskan isi perasaanmu yang sesungguhnya terhadap orang yang kamu sayang tidak seperti perahu kertas pertama yang berisi kesedihan”,kataku “baiklah kalau itu maumu aku akan mengantarkannya setiap malam dalam mimpi-mimpimu”. Kata-kata Leonard membuatku semakin berat untuk melepaskannya pergi. “Aku berhutang banyak sama kamu Kezia karena kamu aku jadi bisa memaknai hidupku dengan lebih baik lagi dari yang sebelumnya,aku janji aku akan terus menjalankan isi suratmu dalam perahu kertas yang bertuliskan “Nikmatilah hidup dan railah apa yang perlu untuk diraih sebab dengan sendirinya cinta akan menghampirimu dengan sejuta cara yang akan membuatmu kagum”. Itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya dalam pertemuan terakhir kami,Jl.Melati sekarang hanya menjadi kenangan indah yang bagiku takkan terlupakan.
***
3 tahun aku dan Leonard tidak pernah saling kontak sebab aku sibuk tekun belajar dengan target menjadi sarjana muda dan mendapatkan pekerjaan. Sebab Ayah dan Ibuku sudah tidak bekerja lagi dan sedang tinggal di rumah kakakku Steven dan isterinya. Sekarang tanggung-jawab aku dan kak Steven untuk mengurus Ayah dan Ibu. Di kampus aku selalu mendapatkan nilai terbaik maka aku mampu menyelesaikan studiku lebih awal. Kali ini skripsiku kutuliskan berdasarkan kisahku bersama Leonard dan dosen pembimbingku menyetujui skripsiku yang ditulis dari novel buatanku yang adalah kisah nyata. Aku lalu menyelesaikan skripsiku dan ujian setelah selesai ujian nama-nama kami di tempel di papan pengumuman. Aku senang sekali karena lulus dengan nilai terbaik sebab dengan begitu aku hanya perlu mempersiapkan diri untuk yudisium dan wisuda. “Kezia kamu sebentar lagi sudah jadi sarjana apa kamu sudah punya pacar”,kata Ibu Kezia “belum ada ibu aku masih belum memikirkan terlalu jauh”,”eh anak perempuan itu tidak boleh tunggu terlalu lama nanti kalau ketuaan nggak baik loh”,”iya ibu aduh bawel banget sih sudah aku mau mandi”,”mau ke mana kamu mau ketemu pacarmu yah”,”aaahhhh…ibu nyebelin masa ibu lupa hari ini kan yudisium”,”oh iya benar anakku ibu mandi setelah kamu dan sepertinya ayahmu sedang keluar jadi tidak bisa ikut yudisium tapi besok pasti hadir”,”ok bu”.
***
Keesokan harinya adalah hari penting dalam hidupku aku diwisudakan menjadi sarjana sastera Indonesia banyak teman-temanku yang datang dengan pasangan mereka dan keluarga mereka sedangkan aku hanya datang sendiri dengan keluargaku,aku sedikit kecewa karena hatiku berharap sekali ada Leonard di sini sudah bertahun-tahun tapi aku tidak bisa melupakan dirinya mungkin karena aku terbayang-bayang oleh perahu kertasnya yang selalu menghampiri mimpiku seperti katanya. Di balik kekecewaanku ada kebahagiaan karena aku menjadi mahasiswi lulusan terbaik dari jurusan kami,setelah acara wisudanya selesai kami pulang ke rumah Ayah dan Ibu mengundang teman-teman mereka serta keluarga besar kami dan kakakku bersama isterinya juga mengundang teman-teman mereka hadir di rumah untuk acara pengucapan syukur karena aku diwisudakan. Teman-temanku banyak yang tidak hadir karena masing-masing membuat acara di rumahnya acara kami hanya singkat yaitu berdoa dan kemudian makan-minum bersama. Aku minta ijin pada Ayah dan Ibu serta kakakku untuk pergi ke kamar mandi dan mandi sebab aku merasa kepanasan karena tadi di kampus kami berjam-jam duduk di ruangan yang banyak orang. Sementara mandi hatiku banyak berbicara padaku “Kezia pasti Leonard sudah lupa padamu ini amper mau 4 tahun kalian tidak bertemu bagaimana bila dia telah menemukan perahu kertasnya yang lain, lupakanlah dia dan bukalah hatimu pada orang lain pasti kamu akan menemukan titik cahaya cinta yang diberikan orang lain itu padamu. Aku langsung mematikan air pancuran di kamar mandi dan segera keluar memakai pakaian,menyisir rambut dan memegang sebuah kotak tempat tersimpannya perahu kertas Leonard yang kutemukan pada hari pertama di mana aku merasa hidupku bahagia. Aku memutuskan untuk pergi ke Jl.Melati setelah sekian lama aku kembali ke taman indah itu lagi hendak menebarkan seluruh perahu kertas kenaganku bersama Leonard di sana dan melupakan dia untuk selama-lamanya sebab sepertinya kata hatiku benar dia telah pergi lama meninggalkan diriku dan tidak ada status jelas antara aku dan dia maka wajar bila aku melupakan dirinya. Dengan berlutut di pinggir kali aku menaruh kotak itu dan melepaskannya tapi ada suara yang berseru dari jauh aku tidak tahu asalnya dari mana,dan orangnya di mana tapi sepertinya suara itu tidak asing ditelingaku. “Kotak perahu kertas itu tidak salah (sambil memegang kotak yang telah hanyut di bawa air) tapi hati ini yang salah mereka-rekakan sesuatu yang tidak benar”,”…Le…Leonard apa benar itu kamu?” (Leonard yang sekarang berbeda dari yang dulu,dia tampan dan kelihatan seperti orang sukses),”seperti yang kamu lihat inilah aku dan aku tidak pernah mengingkari janjiku dan ini perahu kertasku yang telah kutuliskan berdasarkan permintaanmu but btw congratulation for your graduation dear”. Leonard memberikan sepucuk kertas berbentuk perahu berwarna biru,aku penasaran dengan isinya. Segera aku membukanya dan membacanya.
Terima kasih sudah menjadi penerang hidupku,terima kasih telah menemukan perahu kertasku dan membimbing aku memaknai hidupku,aku berhasil menyelesaikan studiku di IPDN itu semua karena dukungan darimu karena perahu kertasmu telah menemaniku 4 tahun ini sekarang aku kembali padamu bersama perahu kertasku melaju dengan kencang hendak bersandar di pelabuhan keabadian  yang adalah milik aku dan kamu . I Love You Kezia forever you are very precious for me.




KARYA :APRIANI PASKALIN AYOMI


No comments:

Post a Comment

Nostalgia "Dies Natalis Kampus"

       Ini aku dan kisah nyataku yang tersimpan rapih dalam memori ingatan yang sengaja kubuka kembali setelah sekian lama berhubung tahun i...