SHORT STORY
“PERAHU KERTAS”
Aliran air yang deras menghanyutkan perahu kertasku entah
berhenti di persinggahan mana aku tak tahu yang aku inginkan adalah perahu
kertas ini mengantarkan sejuta rasa rinduku pada seseorang yang aku cinta.
Detak jantungku ada di dalam perahu kertas ini dan aku mau perahu kertasku ini
berhenti di hati dia yang ku tuju.
***
Sore itu aku
berjalan disekitar kompleks perumahanku dan di dekat situ ada sebuah kali kecil
yang berada dekat dengan lapangan basket tempat bermain anak-anak kompleks
kami. Aku ingin mencari udara segar karena telah berhasil menyelesaikan ujian
akhir nasional di bangku SMA. Bayangkan saja gimana rasanya setelah belajar
mati-matian di tekan oleh orangtua di rumah untuk belajar,belajar,belajar dan
belajar belum lagi dibayang-bayangi oleh guru-guru di sekolah tentang
pelaksanaan ujian yang ketat dan disiplin serta nilai rata-ratanya harus
mencukupi kalau tidak… aahhh sudahlah tak mau dipikirkan hasilnya nanti
belakangan yang penting udah berjuang sekuat tenaga dan nggak lupa berdoa juga
itu sudah pasti. Sekarang nggak mau mikir-mikir itu lagi mendingan nyantai
menikmati pemandangan yang sudah ada di depan mataku ini. Ketika aku ingin
duduk di sebuah kursi bercat warna biru yang terletak di tepi kali itu aku menemukan
ada sebuah perahu kertas yang melaju mendekat ke tempat aku berdiri dan hendak
duduk. Aku tergerak hati dan karena rasa ingin tahuku tinggi aku langsung saja mengambilnya
tanpa berpikir panjang, lalu aku duduk sambil membuka isi surat tersebut yang sudah setengah
basah oleh air. Aku membaca isi surat itu dengan seksama dan apa yang terjadi?.
Hatiku ikut tersiram bara api yang panas karena begitu sakitnya perasaan orang
yang menuliskan surat itu. Demikian bunyinya :
Salah aku apa? Aku hanya mencintaimu dengan cinta yang ku
punya mungkin sekarang aku tidak bisa memberikan apa yang diberikannya
padamu,tapi suatu saat nanti aku akan mampu memberikan segala yang kau
inginkan. Dulu aku pernah berpikir bahwa kau adalah salah satu dari
bintang-bintang yang memancarkan keindahan hanya untukku namun aku salah menilamu.
Kau adalah cewek pengincar uang.
Surat yang
menurutku isinya sangat mengerikan sekali tetapi membuatku merasakan apa yang
dirasakan si penulis tersebut. Walau tidak sama persis dengan dia tapi aku juga
pernah punya kisah cinta dan menurutku sial semua. Bagaimana tidak semua cowok
yang ku taksir satu sekolah semuanya nggak ada respon. Maklum gayaku dan diriku
mungkin nggak sesuai kriteria cewek yang mereka suka. Itu menyakitkan banget
sama kayak si penulis surat ini, jadi mereka para cowok di sekolahku hanya
pengen punya pacar kalau mereka itu cantik. Btw… Aku penasaran ingin melihat
nama si penulis surat yang baru saja ku baca tapi air telah membasahinya
sehingga aku hanya dapat melihat inisial huruf L di bagian bawah kertas itu. Diam-diam hatiku
ingin sekali membalas surat tersebut tapi aku tidak tahu orangnya siapa. Aaahhh
sudahlah jalan-jalan sore ini kucukupkan dulu nanti besok balik lagi siapa tahu
bisa bertemu dengan penulis surat itu. Oh yah…aku bawa aja suratnya pulang.
***
Pagi-pagi benar
sekitar jam 7 saat semua orang di rumah masih pada bobo manis aku berjalan
menelusuri jalan menuju tempat aku bertemu dengan perahu kertas itu. “Bukkk….”,
(Kepalaku terkena bola), “Hei apa-apaan kamu main bola seenak kepala loe
emangnya badan gue ini tiang gawang seenaknya aja nendang-nendang kemari”, Seseorang
menghampiriku dan dengan nada tak bersalah berkata “hmmm… aduh sorry yah nggak
sengaja habisnya loe lewat pas di belakang gawang sih”,” Apa loe bilang
sorry…ehhh nggak usah kebarat-baratan deh biasa aja kale”,”ohh…kalau gitu maaf
deh”,”nih bolanya (buuukk)”, bola tersebut mendarat dikepala si cowok reseh
tersebut, “satu sama”, aku berlari menjauh dan meninggalkan cowok reseh itu
menjerit kesakitan. “Emang gue pikirin lagian masih pagi ada aja yang bikin
ribut…oh iya yah mereka kan biasa suka sparing sama anak-anak kompleks sini but
whatever I don’t wanna know”. Dengan membawa pulpen hitam dan kertas berwarna
biru muda yang ada gambar boneka-bonekanya aku menulis sebuah surat harapannya
sih bisa di baca oleh si penulis surat yang kemarin. Setelah selesai menuliskan
surat di bangku yang kemarin ku duduk sambil membaca surat itu, aku melipat
surat tersebut berbentuk perahu dan melepaskan perahu kertasku. “Semoga di baca
sama dia”, kataku. Setelah surat berbentuk perahu itu semakin menjauh di bawah
oleh aliran air di kali tersebut aku berjalan menyusuri lapangan bola dan
pulang kembali ke rumah. Anehnya saat aku berjalan pulang “anak-anak reseh yang
tadi bermain bola disini mereka dimana yah”, kataku, “kenapa loe mau ditendangi
bola lagi jadi nanya kita dimana?”, aku kaget dan berbalik badan sontak saja ku
balas “enak aja emang ku peduli mereka mau main sampe kakinya patah tuh bukan
urusanku,”,”hmmhhh…emang cewek aneh”,”ehh eloo… lagi males gue bicara sama
cowok reseh yang udah buat badan gue sakit kena bola”,”satu sama dong tadi loe
bilang kan loe udah bales gue”,”apaan sih males gue bicara ama loe nggak
penting banget kenal juga nggak”,”sombong loe”, Aku berjalan secepat mungkin
biar si cowok reseh itu nggak usah SKSD atau sok kenal sok dekat sama aku. Setelah
sampai di rumah papa dan mama mengagetkanku. “hey kamu dari mana aja”,kata papa
sambil mengoleskan selai kacang dirotinya, “iya nih nggak ikut sarapan sama
kita,kamu lagi diet yah” sambung mama, “nggak kok siapa bilang aku diet aku
tadi cuma jalan-jalan pagi kok di depan”, kataku sambil menyembunyikan pena
yang kupegang ke dalam saku celana. “yah dia nggak mungkin bohong dong papa dan
mama tadi abang lewat di depan benaran kok dia jalan pagi tapi sama cowok”, aku
kenal sama suara ini arahnya dari
belakangku “bang Ferry” suaraku yang cempreng membuat papa dan mama hanya bisa
geleng-geleng kepal. Aku langsung memeluk abangku, “aahh abang nyebelin dateng
nggak bilang-bilang abang liburan berapa lama disini”,”abang nggak libur dong
abang mau lamaran makanya kesini”,”males semuanya udah ninggalin Kelly sendiri
di sini di kota ini di rumah ini sama papa dan mama doang”,”Kelly sayang kalau
ada liburan panjang pasti bang Ferry dan abang kamu satunya yang super sibuk
itu bang Soni pasti bakal kunjungan kesini percaya deh di hati ini cuma Kelly
doang yang bisa bikin abang-abang pulang ke rumah”,”aahh abang bisa aja gini
nih pasti ada maunya…mau minum apa?”,”biasa adikku yang mungil abang mau minum
jus jeruk”,”siap abang Kelly buatin dua soalnya Kelly juga mau minum”,”jangan
dua dong harus tiga tambah cowok yang tadi kamu ketemu di depan”,”aahh
abang…ihhh mama liatin abang dong gangguin mulu dari tadi”,”Ferry udah adikmu
nggak mau digangguin”,”iya…ma”. Sambil buatin minum untuk kakakku, aku lagi
mikirin kira-kira perahu kertasku udah singgah di salah satu dermaga alias
tangan seseorang untuk di baca belum atau hanya jadi sampah masyarakat di kali.
Di seberang sana perahu kertasku yang telah di bawa aliran air telah berhenti
di depan kaki seseorang dan orang itu
menemukannya serta membacanya.
Janganlah takut untuk mencintai terkadang cinta itu tidak
perlu dipaksakan hanya perlu dirasakan sebab kita tidak akan pernah mengalami
perasaan seperti itu untuk kedua kalinya lagi. Nikmatilah hidup dan railah apa
yang perlu untuk diraih sebab dengan sendirinya cinta akan menghampirimu dengan
sejuta cara yang akan membuatmu kagum.
Dia yang membaca
perahu kertasku lalu merenungkan kata-kata yang kutuliskan dalam kertas itu
sambil duduk di pinggir kali tempat ia biasa melabuhkan hatinya dalam sepucuk
surat yang menjadi perahu kertas yang salah satunya telah ku baca. Disimpannya
surat itu dengan baik dalam tasnya lalu ia berjalan pulang.
***
Keesokan harinya
kakakku mengajakku lari pagi tapi kali ini dia sengaja mengajakku berlari lewat
lapangan bola. “Kelly kemarin kamu lari lewat sini emang kamu suka perasaan
waktu abang masih tinggal di rumah kamu nggak pernah keluar rumah paling
sekolah-rumah begitu juga sebaliknya rumah-sekolah“,”yah abang kan
sekali-sekali aku keluar rumah biar cari udara segar masa terkurung di rumah
mulu”,”aahh…yang ini nih abang suka siapa sih yang udah buat kamu jadi berani
keluar rumah cowok apa cewek kenalin dong”,”abang mau tau aja urusan orang
lagipula di kompleks ini mana ada cewe semuanya cowok kale jadi mau ajak main
nggak bisa”. Sambil lari pagi aku juga merenung benar juga nanti orang-orang
pada kira aku anti sosial hidupnya di rumah terus, belajar terus, tidak ada
istirahatnya.”woii…ngelamun awas ketabrak”, seru cowok yang di atas motor
tersebut,”aduh…maaf yah adikku lari nggak lihat” seru abangku, “iya…iya ma…what?
loe lagi nggak bosen yah cari masalah mulu ama gue”,”eh gue nggak mau cari
masalah yah gue udah telat mau pemanasan tuh anak-anak udah pada manggil”,
Kakakku menarik aku berdiri dan dengan sopan kakak meminta maaf padanya kalau
aku tidak mau mengeluarkan kata maaf enak sekali nanti skornya dia dua aku
satu. “kamu kenapa sih dek sama dia, kamu yang salah lari sambil ngelamun”,”iya
iya deh apalah Kelly nggak peduli”,”Kel…Kelly jangan marah dong sama
abang”,”biarin berteman aja tuh sama teman barunya abang”,”Kel…ayolah abang
nggak bermaksud”. Aku lari menuju tempat sepi tempat tenang yang menyenangkan,
“sip udah nggak ada lagi keributan nggak dikejar-kejar sama abang plus nggak
ada suara rewel cowok reseh itu, duduk dulu aahh”. Setelah lima menit kemudian
ada sebuah surat yang melintas, “wahhh ada surat tuh yang nongol siapa tau aku
dapet balesan lagi”. Setelah mengambil surat itu dengan wajah penuh riang
gembira isinya ternyata
Hey there…aku nggak tau kamu siapa tapi makasih buat
balesan surat kamu, balesan surat darimu membuat hatiku merasa tenang. Selama
ini aku melabuhkan suratku tanpa tahu arahnya kemana dan nggak nyangka bakal
dapet balesan. Kalau kamu itu real boleh nggak aku ketemu sama kamu. By Leonard
William
“Wow suratku di bales dan bahkan aku diajak
ketemu yang bener aja…eh ada nomor hp-nya lagi”. Tapi aku tidak diperbolehkan
memakai handphone sampai aku dinyatakan lulus dulu dari SMA. “Gimana
yah…pikirku”, sambil menimbang-nimbang aku melihat ada seorang adik kecil yang
membawa buku dan bolpen dia mau bermain sama teman-temannya “halo adik maaf
kakak ganggu boleh nggak kakak minjem bolpen dan minta kertasnya satu aja”,”boleh
kak ambil aja”,”kakak pakai bolpennya dulu kalau udah selesai kakak ke tempat
kalian bermain dan kembaliin bolpennya oke”,”oke kak aku kesana dulu
temen-temen udah manggil”,”oke..”. Aku segera menuju bangku dekat kali itu dan
menuliskan surat yang menjelaskan bahwa aku tidak bisa berkomunikasi dengannya
karena orangtuaku melarang aku menggunakan handphone. Surat itu ku labuhkan di
air dengan harapan ada cara lain bisa berkomunikasi dengannya atau bertemu
langsung? Who knows?.
***
Hari itu lapangan
sepi biasanya mereka latihan bola tiap pagi tapi kayaknya mereka sudah mulai
perlombaan bermain bolanya di lapangan sungguhan. What? Maksudku lapangan yang
benar-benar ada penontonnya dan ada teriakan-teriakan hsiteris para kaum hawa
yang nggak tahu apa yang mereka teriakin mungkin supaya para pemainnya bisa
mencetak gol atau karena mereka fans sama pemain bolanya karena tampan. Ahh…
whateverlah yang penting tujuanku mau mengecek surat apa sudah ada balasan
belum. Ketika aku sampai suratnya sudah basah semua aku tafsirkan dia nulis
surat tersebut dari kemarin dan aku baru ngambil sekarang otomatis basah semua.
Btw aku masih memegang bolpen yang diberikan seorang adik kecil kemarin hari
ini aku juga rencana mau mengembalikannya tapi kenapa si adik nggak muncul lagi
yah. Karena penasaran aku ambil kertas tersebut dan membacanya di dalam surat
itu si Leonard William menulis nama lengkapnya, alamat tempat tinggalnya dan
nomor handphone-nya serta harapan ingin bertemu denganku. Aku spontan
mengangguk kepala mengiyakan “wah… parah aku berdiri sendirian pagi-pagi baca
surat yang udah basah sambil senyum dan mengangguk nanti orang-orang pada
bilang aku gila”, sudahlah kubalas saja suratnya dengan mengiyakan
permintaannya. Entahlah apa aku sudah gila masak janjian dengan orang yang
belum pernah aku ketemu sebelumnya. Aku berjalan pulang sambil merenung dan
“buuukkk…” lagi-lagi bola terkena badanku “eh kalau nendang lihat-lihat
dong”,”maaf dek kakak nggak lihat”, “kakak…ngapain disini sejak kapan kakak
main bola terus sama…sama dia lagi” (sambil menunjuk wajah si cowok yang bahkan
aku nggak mau tahu namanya). “Kelly nggak boleh gitu”,”emangnya kenapa”,”udah
kak biarin aja memang aku suka buat dia kesal” potong si cowok tersebut. “udah
deh kak goodbye aku pulang duluan”. Sambil banting pintu rumah aku ngomel nggak
jelas membuat papa dan mama bertanya-tanya “kamu dari mana Kelly kok kelihatan
kesel?” tanya papa yang selalu kepo pengin tahu segala-galanya tentang anak
gadisnya, “nggak pa, aku kesel lihat orang yang aku benci malah akrab sama
abangku sok kenal banget yah”,”nggak apa-apa itu ternyata calon ipar abangmu
kemarin papa sama mama ke rumah calon isteri abangmu eh malah ketemu sama dia”
kata Mama,”whatttt? Kok nggak ada yang bilang-bilang sih sama Kelly”,”gimana
kami mau ngasih tahu kamu aja sibuk sendiri tiap pagi keluyuran nggak jelas
kemana”,”aku tuh lagi nulis surat ma dan itu penting bang…upss sorry ma bukan
apa-apa Kelly pergi mandi dulu yah”,”eh Kelly main kabur aja belum cerita tuh
papa mau dengar”. Aku tak ambil pusing kata-kata papa aku berjalan terus ke
kamar mandi mau mandi.
***
Wah deg-degan
banget yah pengen muntah rasanya ini adalah hari dimana pertemuan pertama aku dan si Leonard si
penulis surat itu, maka aku berpikir untuk membawa alat-alat tajam yang akan
melindungi diriku bila dia hendak melakukan hal-hal yang aneh padaku. Dengan
ijin dari orangtuaku aku diantar abangku Ferry ke kawasan Mall terbesar di
Jayapura yaitu Mall Matahari kebetulan aku tinggal di Kloofkamp jadi tidak
terlalu jauh ke arah Mall Matahari. “Kamu ini orang yang belum pernah kamu
temui begitu diajak ketemuan hanya lewat surat kamu mau nanti kalau kamu di
apa-apakan gimana?” kata abangku merasa cemas, ”kak aku hanya kasihan aja sama
dia di surat yang dia tulis dia kayak putus-asa banget nggak ada salahnya kan
aku nolongin dia jangan sampai dia depresi atau bunuh diri karena cinta”,
“alaahhh sudahlah jangan-jangan dia bohong lagi”, “kak postif thinking aja kenapa
sih sewot banget”,”iya…iya ok deh abang nemenin kamu nggak?”,”nggak usah abang
aku bisa sendiri nanti kalau udah selesai aku telpon abang deh minta
dijemput”,”baiklah kalau begitu hati-hati yah”,”ok bang”. Kini kakakku telah
meninggalkan aku sendirian sebenarnya tidak sendirian juga sih ini kan di Mall
tentunya banyak orang dong. Aku melangkahkan kaki masuk dan berhenti di salah
satu tempat favoritku yaitu toko buku Pelita. “Eh ada Kelly”,”kalian
siapa?”,”ya ampun Kelly, Kelly kamu udah lupa yah kita ini temen sekolah kamu
waktu SD” jawab Gita, “masa sih kok sekarang berubah yah makin cantik
gitu”,”yaiyalah Kel emang mau kamu gimana” sambung Darlene,”hehehe…nggak kok
kalian berdua ngapain disini”,”ini nih diundang sama Leonard katanya ada party
gitu kalau kamu ngapain disini diundang juga yah?” tanya Gita,”soalnya ini kana
car ulthanya yang ke 17 tuh dan dia mau rayain disini katanya temen-temen SD
diundang semua loh”,”oh yah”. Aku semakin penasaran kok nama yang mereka sebut
sama dengan nama orang yang aku lagi janjian sama dia. “Kalau aku boleh tahu
nama panjangnya Leonard apa yah?”, tanyaku, “nama panjangnya itu Leonard
William anak kelas 6B waktu itu” jawab Gita, “ohh gitu yah”,”kamu nggak kenal
sama dia?” tanya Darlene. Sambil memasang wajah bingung aku menggelengkan
kepala dan kaget setengah mati bahwa orang yang selama ini bertukar pesan lewat
perahu kertas itu teman SD-ku , “oh iya pantesan kamu kan dari SD sukanya baca
buku nggak suka bermain kayak kita-kita gini”, “hahahaha…” akhirnya percakapan
siang itu ditutup dengan tawa geli mengingat masa kecil SD yang penuh dengan
kenakalan dan keseriusan belajar. “Btw Kel kamu ikut kita deh”, Gita dan
Darlene memasang wajah permohonan. “iya deh aku bakalan ikut emang acaranya
dimana?”,”di Solaria lantai 2”, jawab Gita,”udah yuk kita jalan naik udah jam
12:30 udah lewat dari jam yang tertera
diundangan”, sambung Darlene. Kami bertiga langsung bergegas naik ke lantai 2
menggunakan escalator. Sesampainya disana ternyata acara sudah berjalan dan
telah sampai di pemotongan kue. Dengan memasang wajah bingung aku lihat ke
dalam ternyata ada abangku. “Ngapain abang Ferry ada disini tadi kan dia bilang
dia mau pulang”, gumamku dalam hati. “Kue pertama ini aku pengen kasih ke
Kelly”. Tunggu dulu kenapa semua orang jadi memperhatikanku apa ada yang salah
dengan dandananku? Atau?. “hey Kelly kamu dipanggil kedepan tuh mau dikasih kue
ultah”, kata-kata Gita membawaku kembali kealam bawah sadar yang sesungguhnya.
Pas aku maju melangkahkan kaki depan dan menerima kue ternyata… “lohhh kok elo
lagi sih”, ternyata si Leonard William adalah cowok reseh itu yang katanya
adalah calon ipar abangku, pemain bola yang suka nendang kesasar kena badanku,
dan dia teman SD-ku. Whatttt???. “hai Kelly ini kue buat kamu”
Hatiku berkata itu Leonard dan ini tempat dia
biasa melajukan perahu kertasnya. Aku langsung duduk di sebelah dia dan
berkata-kata seperti orang yang telah saling kenal. “Pemandangannya indah,indah
ketika kita melajukan berjuta rasa kita di dalam perahu kertas yang akan
membawanya pada perhentian yang abadi”,kataku membuka percakapan. “Tapi lebih
indah lagi ketika keabadian itu datang menghampiri kita yang menantikannya di
dunia nyata”,sambungnya.”Kenalkan aku Leonardo William (Sambil
Berjabat-Tangan), aku Kezia Laura. “Senang bisa berjumpa dengan orang yang bisa
mengerti kita”,kata Leonard “lebih senang lagi bila kita menemukan cinta sejati
kita”,sambungku “iya kamu benar dan cinta sejati itu takkan menunjukkan dirinya
kecuali kita berusaha mencarinya”,”tidak perlu di cari dia akan datang dengan
sendirinya padamu aku tahu perasaanmu saat ini hancur lebur aku kesini karena
tergerak oleh batinku untuk memberitahu padamu bahwa jangan pernah salahkan
cinta sebab cinta tahu ke mana arah dia
berlabuh.”Namanya Selvi dia pergi meninggalkan aku karena dia menemukan
lelaki yang kaya padahal aku tulus mencintainya mungkin bagi dia aku hanya
memiliki wajah yang ok tapi dompetku kosong jadi waktu kami masih sekolah di
SMA dia hanya menjadikanku model gandengan supaya tidak ditertawakan
teman-temannya karena dia perempuan tercantik pertama yang diidolakan di
sekolah kami maka pacarnya juga harus tampan,aku dijadikan korbannya dan aku
benar-benar tidak tahu bahwa di luar sana ternyata dia berpacaran dengan orang
lain aku baru mengetahuinya ketika kita selesai ujian nasional dan aku
memutuskan hubungan kami,dia tidak merasa menyesal sebab telah mendapat
penggatiku (Leonard marah dan memukul kursi)”,”itulah cinta Leonard terkadang
kita harus pandai-pandai mengendalikan perasaan kita,saat kita berkomitmen
serius dengan pasangan kita maka dari situlah cinta sejati akan terlihat,maaf Leonard
aku pergi dulu kakakku sudah menelponku”,kataku “baiklah senang bertemu
denganmu kalau tidak keberatan aku selalu ada di sini tiap sore,datanglah kalau
kamu punya waktu”.Jawab Leonard
***
Aku banyak
menghabiskan waktu liburanku (sebelum mendengar hasil kelulusan di SMA) bersama
Leonard di taman kecil di Jl.Melati. Aku tak tahu hubunganku dengannya di beri
status apa lajang,hubungan tanpa status atau pacaran sebab setiap kami bertemu
kami banyak berceritera tentang pengalaman-pengalaman hidup dan juga tentang
masa depan masing-masing. Leonard bilang dia akan melanjutkan studinya di
Sulawesi dia ingin masuk di IPDN sedangkan aku ingin masuk di universitas
sastera karena aku senang menulis karya sastera entah itu novel,cerpen dan lain
sebagainya. Sore itu merupakan pertemuan terakhir aku dengannya sebab dia akan
berangkat paginya ke Sulawesi. Perasaanku bercampur-aduk antara takut
kehilangannya ataukah mendukungnya dalam menggapai cita-citanya. Aku bersyukur
bertemu dengannya dan banyak mendapatkan pengalaman saat bersamanya,dia membuat
hari-hariku berwarna dan aku punya semangat untuk menuliskan ceritera pertamaku
yang kutulis berdasarkan kisahku bersamanya dan itu akan aku abadikan dalam
sebuah novel karyaku sendiri. “Kezia,besok aku akan berangkat ke Sulawesi aku
harap kamu baik-baik yah di sini”,”aku pasti akan baik-baik saja karena aku
yakin ada perahu kertas yang membawa kabar tentang diriku padamu yang jauh di
sana”, perkataanku membuatnya tertunduk. “Kalau nanti kita bertemu lagi kamu
mau aku kasih kamu hadiah apa?”,Tanya Leonard “aku hanya ingin sebuah perahu
kertas yang bertuliskan isi perasaanmu yang sesungguhnya terhadap orang yang
kamu sayang tidak seperti perahu kertas pertama yang berisi kesedihan”,kataku
“baiklah kalau itu maumu aku akan mengantarkannya setiap malam dalam
mimpi-mimpimu”. Kata-kata Leonard membuatku semakin berat untuk melepaskannya
pergi. “Aku berhutang banyak sama kamu Kezia karena kamu aku jadi bisa memaknai
hidupku dengan lebih baik lagi dari yang sebelumnya,aku janji aku akan terus
menjalankan isi suratmu dalam perahu kertas yang bertuliskan “Nikmatilah hidup dan railah apa yang perlu
untuk diraih sebab dengan sendirinya cinta akan menghampirimu dengan sejuta
cara yang akan membuatmu kagum”. Itulah kata-kata terakhir yang
diucapkannya dalam pertemuan terakhir kami,Jl.Melati sekarang hanya menjadi
kenangan indah yang bagiku takkan terlupakan.
***
3 tahun aku dan
Leonard tidak pernah saling kontak sebab aku sibuk tekun belajar dengan target
menjadi sarjana muda dan mendapatkan pekerjaan. Sebab Ayah dan Ibuku sudah
tidak bekerja lagi dan sedang tinggal di rumah kakakku Steven dan isterinya.
Sekarang tanggung-jawab aku dan kak Steven untuk mengurus Ayah dan Ibu. Di
kampus aku selalu mendapatkan nilai terbaik maka aku mampu menyelesaikan
studiku lebih awal. Kali ini skripsiku kutuliskan berdasarkan kisahku bersama
Leonard dan dosen pembimbingku menyetujui skripsiku yang ditulis dari novel
buatanku yang adalah kisah nyata. Aku lalu menyelesaikan skripsiku dan ujian
setelah selesai ujian nama-nama kami di tempel di papan pengumuman. Aku senang
sekali karena lulus dengan nilai terbaik sebab dengan begitu aku hanya perlu
mempersiapkan diri untuk yudisium dan wisuda. “Kezia kamu sebentar lagi sudah
jadi sarjana apa kamu sudah punya pacar”,kata Ibu Kezia “belum ada ibu aku
masih belum memikirkan terlalu jauh”,”eh anak perempuan itu tidak boleh tunggu
terlalu lama nanti kalau ketuaan nggak baik loh”,”iya ibu aduh bawel banget sih
sudah aku mau mandi”,”mau ke mana kamu mau ketemu pacarmu yah”,”aaahhhh…ibu
nyebelin masa ibu lupa hari ini kan yudisium”,”oh iya benar anakku ibu mandi
setelah kamu dan sepertinya ayahmu sedang keluar jadi tidak bisa ikut yudisium
tapi besok pasti hadir”,”ok bu”.
***
Keesokan harinya
adalah hari penting dalam hidupku aku diwisudakan menjadi sarjana sastera
Indonesia banyak teman-temanku yang datang dengan pasangan mereka dan keluarga
mereka sedangkan aku hanya datang sendiri dengan keluargaku,aku sedikit kecewa
karena hatiku berharap sekali ada Leonard di sini sudah bertahun-tahun tapi aku
tidak bisa melupakan dirinya mungkin karena aku terbayang-bayang oleh perahu
kertasnya yang selalu menghampiri mimpiku seperti katanya. Di balik
kekecewaanku ada kebahagiaan karena aku menjadi mahasiswi lulusan terbaik dari
jurusan kami,setelah acara wisudanya selesai kami pulang ke rumah Ayah dan Ibu
mengundang teman-teman mereka serta keluarga besar kami dan kakakku bersama
isterinya juga mengundang teman-teman mereka hadir di rumah untuk acara
pengucapan syukur karena aku diwisudakan. Teman-temanku banyak yang tidak hadir
karena masing-masing membuat acara di rumahnya acara kami hanya singkat yaitu
berdoa dan kemudian makan-minum bersama. Aku minta ijin pada Ayah dan Ibu serta
kakakku untuk pergi ke kamar mandi dan mandi sebab aku merasa kepanasan karena
tadi di kampus kami berjam-jam duduk di ruangan yang banyak orang. Sementara
mandi hatiku banyak berbicara padaku “Kezia pasti Leonard sudah lupa padamu ini
amper mau 4 tahun kalian tidak bertemu bagaimana bila dia telah menemukan
perahu kertasnya yang lain, lupakanlah dia dan bukalah hatimu pada orang lain
pasti kamu akan menemukan titik cahaya cinta yang diberikan orang lain itu
padamu. Aku langsung mematikan air pancuran di kamar mandi dan segera keluar
memakai pakaian,menyisir rambut dan memegang sebuah kotak tempat tersimpannya
perahu kertas Leonard yang kutemukan pada hari pertama di mana aku merasa
hidupku bahagia. Aku memutuskan untuk pergi ke Jl.Melati setelah sekian lama
aku kembali ke taman indah itu lagi hendak menebarkan seluruh perahu kertas
kenaganku bersama Leonard di sana dan melupakan dia untuk selama-lamanya sebab
sepertinya kata hatiku benar dia telah pergi lama meninggalkan diriku dan tidak
ada status jelas antara aku dan dia maka wajar bila aku melupakan dirinya.
Dengan berlutut di pinggir kali aku menaruh kotak itu dan melepaskannya tapi
ada suara yang berseru dari jauh aku tidak tahu asalnya dari mana,dan orangnya
di mana tapi sepertinya suara itu tidak asing ditelingaku. “Kotak perahu kertas
itu tidak salah (sambil memegang kotak yang telah hanyut di bawa air) tapi hati
ini yang salah mereka-rekakan sesuatu yang tidak benar”,”…Le…Leonard apa benar
itu kamu?” (Leonard yang sekarang berbeda dari yang dulu,dia tampan dan
kelihatan seperti orang sukses),”seperti yang kamu lihat inilah aku dan aku
tidak pernah mengingkari janjiku dan ini perahu kertasku yang telah kutuliskan
berdasarkan permintaanmu but btw congratulation for your graduation dear”.
Leonard memberikan sepucuk kertas berbentuk perahu berwarna biru,aku penasaran
dengan isinya. Segera aku membukanya dan membacanya.
Terima kasih sudah menjadi penerang hidupku,terima kasih
telah menemukan perahu kertasku dan membimbing aku memaknai hidupku,aku
berhasil menyelesaikan studiku di IPDN itu semua karena dukungan darimu karena
perahu kertasmu telah menemaniku 4 tahun ini sekarang aku kembali padamu
bersama perahu kertasku melaju dengan kencang hendak bersandar di pelabuhan
keabadian yang adalah milik aku dan kamu
. I Love You Kezia forever you are very precious for me.


No comments:
Post a Comment