Wednesday, July 22, 2020

Cerpen, "Dia Pikir Dia Siapa?".


SHORT STORY

 “DIA PIKIR DIA SIAPA?”


Semua yang kulakukan selama ini sepertinya tak membuahkan hasil apa-apa, putus-asa tidak,pantang-menyerah pun tidak. Yah… di tengah-tengah kedua-duanyalah, aku benar-benar membenci dia karena dia semua yang ku mau dan ingin kumiliki telah sirna. Memangnya dia pikir dia siapa?.
“woiii Sinta orang sudah pada mau rapat pemilihan ketua Osis baru kok kamu malah bengong sih”,”ahhh sudahlah aku mau pergi dulu buang-buang waktu saja di sini nungguin presiden dan para menteri nggak muncul-muncul juga”,”looh kamu tidak bisa seenaknya saja pergi begitu suara kamu juga dibutuhkan kita kan termasuk anggota Osis lama yang harus milih mereka yang baru”,”Osis apalah aku nggak peduli pokoknya kamu sendiri tahu prinsipku kalau orang yang terlambat dan membiarkanku menunggu berjam-jam akan aku tinggalkan”,”kamu tidak boleh egois Sinta kita harus melihat kepentingan bersama di sini dan bukan kepentingan pribadi”. Tiba-tiba saja ada orang yang menyebalkan yang mencela dan yang ingin mencampuri urusanku dengan sahabatku Santi.”Kakak sudahlah tidak perlu ribut-ribut di sini aku dan teman-teman kelas XI minta maaf karena tadi kami memang ada jam pelajaran” (sambil menyodorkan tangannya meminta maaf, saat aku tengok aduh… malas sekali harus berjabat-tangan dengan musuhku…iya dia itu musuhku namanya Rein atau yah nama panjangnya Reinhard. Adik kelas yang SKSD alias sok kenal sok dekat). “Hei…Sinta adik Rein sudah minta maaf tuh”,”yah sudahlah dimaafkan lain kali kalau ada jam pelajaran tolong sms ke siapalah ke kak Santi dan kakak-kakak yang lainnya”,(sambil berbicara dengan Rein aku malas memperhatikan wajahnya apalagi berjabat tangan dengannya,mungkin karena risih dia langsung menarik tangannya kembali). Kali ini rapat Osisnya cukup lama karena kita benar-benar memilih dan memutuskan siapa yang pantas menjadi pemimpin setahun kedepan yang peduli akan sekolah dan terutama siswa-siswi yang ada di dalamnya, sekolah kami sekarang mengalami perubahan karena kepala sekolahnya telah diganti makanya agak ketat juga sih peraturan sekolah SMA N.1 Jayapura yang terletak di lingkaran Abepura. “Sinta ayo maju ke depan dan catat nama-nama yang dicalonkan”,pinta Ronal ketua Osis lama (yah kan sebentar lagi sudah diganti jadi pantaslah aku memanggilnya ketua Osis lama),”sip bos”,jawabku santai sembari mengambil spidol di meja.” Ok yang pertama Reinhard,yang kedua Hani dan yang ketiga Tirsa”,(apa aku nggak salah dengar nih Reinhard lagi Reinhard lagi wuhhh menyebalkan,posisiku sekarang menjadi Sekretaris Osis otomatis dia harus satu level di bawah aku paling nggak bendahara mungkin lebih pantas). Setelah semua nama dituliskan seluruh anggota Osis lama dibagikan kertas dan menuliskan siapa yang hendak mereka pilih karena ternyata dipertemuan sebelumnya mereka bertiga sudah memperlihatkan program kerja mereka masing-masing termasuk motto,visi,misi dan kawan-kawannya kedepan dalam masa jabatan mereka nanti, aku saja yang tidak hadir waktu itu kalau tidak salah hari Jumat karena aku sakit. Semua kertas yang telah dibagikan oleh sahabatku Santi telah dikumpulkan kembali dan di bawa ke meja depan tempat aku berdiri dan Ronal yang sementara duduk di situ,aku juga di beri kertas tapi aku malas memilih setelah dipaksa oleh Santi yah sudah aku pilih Tirsa saja. Nama-nama di kertas satu persatu di buka dan di baca oleh Santi sambil menulis aku merasa ada yang memperhatikanku begitu aku balik ke arahnya dia langsung tertunduk,(dasar ternyata si Reinhard dari tadi memperhatikanku sekali aku kedapatan lagi akan aku hajar dia). Dan hasilnya pun keluar Reinhard adalah ketua Osis yang baru,malas sekali dia setingkat di atas aku (susah sekali mengalahkannya,gumamku dalam hati) semua orang memberi salam padanya hanya aku yang tidak mau dan buru-buru pergi dari situ dengan alasan ibu menelpon dan minta diantarkan ke toko.”Aduh kayaknya aku harus pulang deh Santi soalnya ini sudah jam 14:30 apalagi ibuku minta antar ke toko”,”what? Tante Anisa siang-siang begini mau ke toko”,”yaiyalah Santi emang kebutuhan itu harus pada jam-jam tertentu kalau terdesak yah harus dipenuhi segera bagaimana sih kamu”,”oh iya-iya maaf maklum sudah siang jadinya LOLA”,”hehehehe” kami berdua tertawa dan kemudian aku meninggalkannya dan pulang dengan motor maticku yang berwarna biru,warna favoritku.


***
“Selamat pagi kak Sinta boleh aku minta waktu sebentar? Tanya Reinhard (aduh makhluk ini kenapa selalu menggangu kehidupanku aku kan sudah tidak mau berurusan dengan Osis aku mau pensiuuuunn),”aduh kamu ada perlu apa sih mau sekarang atau nanti jam istirahat soalnya kakak ada pelajaran Kimia dan gurunya yang kamu tahu suka ngomel kalau masuk kelas terlambat”,”oh iya kalau begitu nanti istirahat saja kak”,”ok kalau begitu”. Aku langsung meninggalkan dia tanpa memusingkan kata-kata sampai nanti.” Sinta sinta selalu saja terlambat”,”maaf bu aku tidak sengaja tadi aku di jalan macet”,”kemarin macet hari ini macet besok lagi macet yah sudah kamu duduk”,”makasih bu”. Mendengar penjelasan bu guru dengan wajahku yang geram dan marah Santi jadi takut jangan-jangan dia jadi santapan siangku, begitu bu guru Lisa keluar aku langsung memukul meja.”Kamu kenapa Sinta?”


,”gara-gara ketua Osis baru sialan itu aku terlambat dan di tegur lagi sama bu Lisa tadi aku sudah datang cepat tapi dia menghalagi jalanku sebentar kalau aku ketemu akan aku pukul dia”,”apa-apaan sih kamu Sinta kamu ingat kamu itu perempuan tidak boleh berkelahi nanti tidak ada cowok yang naksir sama kamu”,”biarin aku sekolah buat belajar mengalahkan kepintarannya Reinhard bukan belajar cari pacar”,”ya ampun Sinta segitu bencinya kamu sama dia yah”. Iya aku benci dan akan terus benci sama dia”,”tapi kenapa harus dia? Kayaknya dia tidak punya salah sama kamu”. Percakapanku dengan Santi terputus karena guru Bahasa Inggris sudah masuk “nanti saja kita lanjutkan ceritanya”,”ok tapi kamu janji yah”,”iya-iya”. (Teng…Teng…Teng bel berbunyi) “ok students see you next week and don’t forget to finish your homework”,”ok ma’am…”(seru anak-anak sekelas)”. “Aku pergi dulu yah Santi soalnya sih ketua Osis sialan itu pasti sudah menungguku di kantin”,”pergi itu ajak-ajak dong jangan sendiri-sendiri biar ada temannya nanti di kira orang…”ssshhh…(tanganku menutup mulutnya Santi) apaan sih kamu mau meledek simpan sana karena tidak akan bermanfaat”,”oh iya aku lupa kan musuh”. Sesampainya di kantin aku menyuruh Santi yang duduk di dekat Reinhard dan aku disebelahnya jadi Santi berada di tengah- tengah aku dan Reinhard. “Sekarang aku sudah di sini apa yang mau kamu bicarakan”,”begini kak kami masih membutuhkan kakak dan juga senior yang lainnya untuk mempersiapkan pensi sekolah”,”apa pensi sekolah kayaknya aku nggak bisa”,”aku mohon sama kakak karena aku tahu keahlian kakak dalam menyanyi dan melatih adik-adik yang ingin menunjukkan bakat mereka”,”sudahlah Sinta nggak ada salahnya kamu terima kan semuanya untuk kemajuan sekolah kita,sanggah Santi. “yah sudah aku terima tapi kayaknya aku hanya bisa latih mereka hari sabtu sore jam 16:00-17:30 selebihnya aku sibuk untuk mempersiapkan ujian nasional”,jawabku “kakak terima kasih banyak untuk kesediaannya”,”ok kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi aku pamit yah,ayo Santi (sambil menarik Santi). Kami berdua (aku dan Santi) membeli mie goreng dan teh kotak,tempat duduk kami berdua biasalah di pojok yang tidak terlalu ribut oleh makhluk-makhluk aneh di seberang sana. “Sintaa aku penasaran”,”penasaran apalagi sih”,”yang tadi kamu janji mau cerita”,”oh yang itu”,”iya yang tentang Reinhard” (tanganku lagi-lagi menutup mulutnya yang terlalu ribut). “Kamu ini bagaimana sih lihat  si Reinhard mendengar namanya di sebut jadinya balik ke sini”,”oh sorry sorry boss I didn’t mean”,”aaallllahh..didn’t mean,didn’t mean apaan emang ini di luar negeri”,”biarin sambil belajar sambil praktek”,”hehehehehe…”,”ketawa melulu kamu cepat ceritakan”,”jadi begini aku itu sebal dan benci sama dia dari aku masih SMP kita sama-sama sekolah di SMP Paulus yang kamu tahulah paling keren itu”,”nggak salah SMP-ku kali yang keren SMP N.2 Jayapura”,”wuhhh (sambil mengaduk mie di piringku)…iya kamu dengarin aku nih jadi ceritanya semua yang aku inginkan itu kayaknya berpihak sama dia sampai aku heran jampi-jampi apa yang dia pakai”,”wahhhh…tidak mungkin dia pakai jampi-jampi”,”mungkin saja soalnya semua guru-guru dia dekati,sok pintar di kelas dan seluruh anak-anak di sekolah kami dulu kayaknya pada suka sama dia emang dia pikir dia siapa ARTIS aja bukan,aku paling benci kalau dengar namanya di mana-mana tuh dipanggil di minta tolong ini itu dari guru-guru dan teman-temannya terus dia gabung juga di Osis SMP dan ada aku juga di situ siapa yang merasa nggak tersaingi”,”terus…teruss” (Santi semakin penasaran),”padahal aku lebih cantik,pintar,ikut organisasi dan pandai mendapatkan teman juga lebih baik dari dia yang cakep juga nggak,pintar juga dibawah aku,gabung di Osis juga cuma anggota biasa”,”Sinta…Sinta jadi hanya karena itu rasa benci kamu sama dia bertambah merah seperti darah dan api”,”iya dong aku marah dan sebal soalnya dia ikut-ikutan aku masuk di sekolah ini dan melakukan hal yang sama seperti di SMP dulu sakit hatilah aku,awalnya semua jadi milikku tapi setelah itu berpindah semenjak dia ada”,”perasaan kamu saja buktinya aku masih jadi sahabat kamu dan tadi dia bilang dia masih membutuhkan kamu di Osis”,”itu hanya akal-akalan dia saja nggak usah percaya”,”aku mengerti perasaanmu sahabatku maka apapun yang terjadi aku memang dipihak kamu”,”terima kasih”(Santi dan aku lalu berpelukan).

***
Hari Sabtu saatnya bersantai,(ke pantai dulu aahhh…pikirku). “Ayah,Ibu kita ke pantai yuk sepertinya sudah lama kita tidak ke pantai”,”yah sudah Ayah juga sementara tidak sibuk”,”ok Ibu masak dulu makanan yang perlu di bawa”,jawab Ibu-ku kegirangan “kamu bereskan barang-barang yang mau di bawa Sinta”,”iya Ayah pasti akan selesai dalam 10 menit”,”kamu ini ada-ada saja”. Dari dulu aku merasa kesepian tidak punya kakak atau adik karena aku anak tunggal dan di rumah Ayah selalu sibuk ke kantor dan Ibu sibuk memasak dan membereskan rumah,keluarga kecilku adalah kehidupan dan sumber kebahagiaanku. Kami berekreasi menggunakan mobil Ayah yang baru di beli sebulan yang lalu mobil Inova namanya dan warna mobilnya aku yang pilih so berwarna biru. Setelah sampai di pantai Ibu menjaga barang-barang kami di pondok,aku dan Ayah berenang di pantai,kami pergi ke pantai Base-G pantai ini salah satu pantai kesukaanku karena banyak orang yang mengunjunginya dan ramai sehingga tindak kriminal tidak akan terjadi. Kami bersantai dan menikmati momen-momen indah itu dengan canda-tawa dan kegirangan,Ayah meledekku dan Ibu hanya menertawakanku. “Anak Ayah sudah SMA kelas XII pasti sudah punya kekasih yah”,”Ayah…kekasih? apa itu kekasih..? aku ini masih kecil masih pengen di sayang Ayah sama Ibu”,”sayang suatu ketika kalau Ayah sama Ibu tidak ada kan pasti ada orang yang mengganti kami untuk menjaga,melindungi dan menyayangimu seperti kami” jelas Ibu “pokoknya aku tidak mau rasa sayangku hanya untuk Ayah dan Ibu”,”suatu saat kamu pasti akan mengerti nak” kata Ayah. Setelah selesai berekreasi dengan keluarga dan hendak naik mobil barulah aku memegang handphone-ku sebab aku tidak mau handphone menghalangi momen bahagia kami.
“Sinta kamu kemana aja, Rein dan adik-adik kelas kita udah nunggu kamu di sekolah aku juga udah di sekolah nih buruan kamu datang”.
Pesan singkat itu mengagetkan aku dan setelah aku tengok jam dipojok kanan handphone-ku ya…ampun ini sudah jam 16:15 harus buru-buru nih (gumamku). Karena melihat aku terdiam dan gelisah Ibu memegang kepalaku dari kursi depan ke kursi belakang tempat aku duduk. “Ada apa nak?”,”ini bu sahabatku Santi mengirimkan pesan menyuruh aku datang ke sekolah karena aku sudah janji akan melatih adik-adik kelasku yang hendak menyanyi di acara pensi sekolah”,”oh kamu kenapa tidak bilang supaya kita pulangnya tadi lebih awal”,kata Ibu. “Iya nak Ayah mengira kamu tidak ada kesibukan maka kamu mengajak ke pantai”,”memang benar Ayah ini kesalahanku karena aku tidak sempat menaruh pengingat di handphone-ku”,”kalau begitu Ayah bawa mobilnya agak cepat yah supaya kamu tidak telat”,”tidak apa-apa Ayah jangan karena terdesak Ayah membuat kita semua bisa celaka”,”benar kata anak kita bawa mobilnya dalam kecepatan normal saja yah Ayah”,”iya kesayangan Ayah”.Pada saat kami mau pulang aku meminta untuk Ayah dan Ibu menurunkan aku di sekolahku dan aku langsung turun dari mobil karena sudah diberikan uang taksi Ayah dan Ibuku pulang meninggalkan aku disekolah,atas permintaanku sendiri.
“Santi masih ada anak-anak di sekolah kan aku sudah di pagar depan mau ke ruang tempat latihan tapi aku tidak tahu di ruangan berapa?”
Sms-ku sama sekali tidak dibalas oleh Santi. “Tidak seperti biasanya dia tidak membalas sms-ku,biasanya juga sudah cepat dibalas (ada apa yah,pikiranku tidak tenang)”. Setelah mencari-cari ruangan tempat latihan akhirnya aku temukan namun tidak ada anak-anak atau lebih tepatnya adik-adik kelas kita yang mau ikut pensi khusus bagi yang mau menyanyi. Di situ hanya ada Santi dan Reinhard,tanpa merasa bersalah aku lalu masuk dan tersenyum dengan memberi salam kepada mereka berdua. “Selamat sore (sapa-ku)”,”kamu apa-apaan sih Sinta ini sudah jam berapa?”,”baru mau jam 17:00 sore”,”apa kamu bilang baru mau jam 17:00 sore kamu itu sadar nggak sih”,”apa yang harus aku sadari”,”kamu baru saja melunturkan harapan adik-adik kelas kita yang mau ikut pensi sekolah mereka sudah tidak mau menyanyi lagi padahal kamu tahu mereka udah datang dari jam 15:00 sore hanya karena semangat mereka”,”loh kenapa aku yang harus disalahkan Santi?”,”alllahhh…kamu nggak usah pura-pura deh aku tahu itu pasti karena rasa benci kamu sama Reinhard makanya kamu mengorbankan adik-adik kita”,(Santi langsung pergi meninggalkan ruangan tempat latihan itu tepatnya di ruang Osis dekat dengan ruang Guru kami). Sekarang hanya tinggal aku dan Reinhard dan aku benar-benar tidak tahu harus ngomong apa ke Rein yang bisa aku lakukan hanya tertunduk dan berbalik kearah yang berlawanan dengannya. “Aku permisi dulu yah Kak Sinta selamat sore”,”iiii…iya selamat sore”. Perasaan bersalahku menghantui aku sepanjang tidur di malam minggu ini sampai-sampai ajakkan Ayah dan Ibu untuk makan malam tidak aku hiraukan dan aku langsung ke kamar dan tidur.

***
Pagi ini lain dari pagi-pagi selama ini yang telah aku jalani bersama dengan Santi,dia tidak berkata-kata sepanjang kami mengikuti pelajaran pertama hingga selesai dan ke kantin juga dia pergi sama teman-teman yang lain. Aku memilih tidak jajan hari ini dan membaca novel di kelas, sepanjang membaca novel itu teman-ku Randy memperhatikanku dan sengaja menabrakku supaya buku yang ku baca itu jatuh. “Apaan sih kamu Randy sengaja yah”,”iya emang aku sengaja habisnya kamu serius sih baca bukunya”,(sambil menarik buku yang ku baca). “Kamu ada masalah sama Santi certain dong dari pada dipendam sendiri siapa tahu aku bisa bantu”,”orang kayak kamu mana bisa bantu kesulitan aku”,”weitttsss…jangan salah begini-begini aku juga bisa jadi superhero dadakan”,”hahahaha…kamu ada-ada aja”,”yah udah makanya certain”,”ok-lah jadi kan begini aku sudah janji sama Reinhard ketua Osis yang baru itu kalau aku bakal melatih adik-adik kelas kita yang mau ikut pensi tapi karena aku lupa jadi aku ngajak keluarga Ayah dan Ibuku untuk berekreasi ke pantai Base-G dan kita pulangnya itu sudah jam 16:15 sedangkan janjiku pada si ketua Osis itu jam 16:00 otomatislah tiba dari pantai ke sekolah kita itu sudah hampir mau jam 17:00 sore dan adik-adik sudah pulang terus aku dimarahi sama Santi karena telah melunturkan semangat adik-adik kita yang mau ikut pensi”,”ohh…begitu ceritanya aku bisa bantuin kamu”,”tapi aku takut Randy kalau-kalau adik-adik kita sudah tidak mau mengikuti kelas bernyanyi bersamaku”,”serahkan semuanya padaku dan kamu harus yakin kalau aku bisa bantu kamu”,”ok kalau begitu aku minta tolong yah dan sebelumnya terima kasih”,”yoi princess” jawab Randy santai seakan semuanya sudah beres (Teng…Teng…Teng bel masuk kelas). Pelajaran terakhir aku berusaha fokus karena ini pelajaran yang termasuk susah yaitu Fisika. Karena melamun pak guru menyuruhku mengerjakan soal di depan kelas,”Sinta coba kamu maju dan mengerjakan soal yang baru saja bapak jelaskan contohnya”,”saya pak?”,”iya kamu-lah memangnya siapa lagi yang bernama Sinta dalam ruang kelas ini”,”hahahaha (Santi tertawa kecil disampingku). Aku maju dan menyelesaikan soal itu dengan baik kebetulan aku pernah mengerjakan soal yang mirip seperti soal yang di berikan pak Harun di rumah pas belajar malam sebelum tidur. “Bagus sekali Sinta tapi lain kali bapak tidak mau lihat kamu melamun”,”iya pak”,”kalau ada masalah langsung diselesaikan supaya tidak menggangu konsentrasi belajar-mu”,”baik pak” (mataku terarah pada Santi namun dia tidak melihat wajahku,aku sedih sekali). Seusai pelajaran Fisika Santi sudah pulang lebih dulu dariku karena ingin menghindar, dan suara Randy mengangetkan aku “Sinta kamu jangan pulang dulu tadi aku sms pacarku dan dia bakal tolongin kamu”,”apa kamu yakin?”,”yaiyalah secara pacarku itu termasuk yang berpengaruh di kelas X dari sekarang saja mereka sudah mencalonkan dia sebagai ketua Osis periode mereka nanti”,”wah hebat kamu nggak nyangka aku kamu bisa dapatkan cinta dari adik secantik,sebaik dan sepintar Juita “,”loh kok kamu tahu namanya”,”tahu-lah emang dia anggota Osis juga kali”,”oh iya benar-benar kalian kan anak-anak unggulan”,”nggak gitu juga sih Randy buktinya dia memilih kamu yang biasa-biasa saja namun bisa membuat dia merasa luar biasa senang”,”aahhh kamu ini bisa saja…ayo kita pergi”. Berkenalan dan dekat dengan Juita itu menyenangkan dia enak di ajak ngobrol dan bertukar-pikiran semua ide-idenya digabung dengan ide-ideku akhirnya kami telah mendapatkan solusi terbaik untuk pensi nanti tanpa sepengetahuannya Reinhard. “Juita kakak mau bilang terima kasih banyak kamu sudah mau membantu kakak”,”sama-sama kak aku senang juga bisa dekat sama kakak apalagi kakak orangnya asyik dan suka bercanda”,”hehehe…kamu bisa saja”,”ok kak aku dan kak Randy pulang dulu yah kak”,”iya deh kasihan juga Randy udah nungguin kita ngobrol lama di depan taman ruang guru ini”,”hehehe…iya kak aku duluan yah kak”,”dah..dah hati-hati di jalan”,”terima kasih kak…dah…dah”.


***
Hari baru aku mulai merasa lega walaupun aku sama sekali tidak berkomunikasi lagi dengan Reinhard maupun Santi sahabatku ada yang membuatku merasa kurang tapi aku tetap berusaha membuat suasana seakan semuanya baik-baik saja. Reinhard dengan resmi mau meniadakan pensi tahun 2013 ini menurut informasi yang aku dengar dari adik-adik kelas kami. Aku langsung bergegas menemuinya di ruang Osis .“Kamu apa-apaan sih Rein menghentikan pensi dengan cara sepihak itu tidak adil namanya”,”maaf kakak tapi kakak tidak punya hak di sini untuk mencampuri urusan Osis”,”tapi kamu kan sudah berikan kepercayaan kepada kakak untuk menangani acara pensi”,”iya memang benar tapi waktu itu sebelum aku mengetahui bahwa sebenarnya kakak nggak suka sama aku dan hendak mengorbankan aku dan adik-adik terlebih mengecewakan hati semua orang dengan tindakan kakak yang tidak hadir tepat waktu untuk melatih mereka”,”kalian jangan berperasangka buruk terhadap aku memang aku nggak suka sama kamu Rein tapi aku benar-benar lupa kalau hari itu ada latihan makanya aku sama keluargaku pergi ke pantai Base-G dengan dan tanpa meninggalkan pesan karena aku nggak punya nomor handphone-mu”,”kalau begitu terserah kakak sekarang semua tanggung-jawab aku serahkan pada kakak dan dalam waktu sesingkat ini apakah kakak mampu mempersiapkan semuanya?”,”terima kasih untuk kepercayaannya kakak permisi”. Dengan tertunduk aku keluar dari ruangan Osis dan Santi yang sementara berada di ruang guru menengok keluar jendela karena penasaran dia menghampiri Rein dan menanyakan apa yang terjadi denganku. Rein menjelaskan semuanya kepada Santi. Aku,Juita dan Randy mulai mempromosikan kegiatan dengan menunjukkan selebaran yang berisikan kegiatan pentas seni yang di dalamnya ada drama musikal bahasa Inggris,tarian modern,latihan lagu-lagu barat maupun lagu Indonesia sekuler yang terkenal untuk dipentaskan. Adik-adik semakin menyukainya apalagi di dalamnya disertakan membaca puisi,dan ada band yang kami undang yaitu band Indonesia bernama Volts. Oleh persetujuan sekolah kami diperbolehkan mengundang band tersebut dan memulai latihan setiap hari Sabtu dengan bersemangat Randy dan Juita membantuku, Randy yang jago dance mengajarkan adik-adik beberapa gerakan tarian modern untuk ditampilkan tapi juga ada adik-adik yang sudah mahir dan punya grup  dance mereka langsung mendaftar dengan pendaftaran Rp.100.000,- begitu juga dengan yang mau menyanyi entah solo,duet,trio,kwartet ataupun vocal grup,membaca puisi serta memainkan drama musikal mereka membayar Rp.50.000,-. Tiket masuk bagi siswa-siswi sekolahan seharga Rp.20.000,- dan yang dari luar sekolah seharga Rp.50.000,-. Biasanya setelah selesai latihan kami semua membersihkan lapangan sekolah dan menata sedikit demi sedikit menjelang hari pensi yang tidak terasa tinggal seminggu lagi. “Kak kapan mau pesan tenda dan kursi-kursi serta panggung?” Tanya Juita,”kakak juga lagi mikirin tapi tidak apa-apa kamu jangan khawatir jalan-jalan Tuhan pasti ajaib dan ada yang menolong kita”,kataku menguatkan Juita yang kelihatan ragu-ragu. “Aku akan menolong kalian”,sambung Santi suara yang tak asing bagiku aku lalu membalikkan tubuhku ke arahnya “kamu benar-benar Santi?”tanyaku terheran-heran “yaiyalah aku Santi sahabatmu sekarang dan selamanya”,”tapi kenapa kamu mau membantuku aku pikir kamu membenciku dan tidak mau lagi bersahabat denganku karena melihat keegoisanku”,”Sinta sayang sebenarnya aku berbuat demikian supaya kamu itu sadar dan jangan mementingkan diri sendiri”,”tapi…”,”sudahlah ayo kita bekerja tak ada waktu untuk basa-basi”, (aku mengangguk dan kami berpelukkan lalu bekerja). Karena Om-nya Santi kebetulan adalah pengusaha bagian peminjaman tenda dan kursi-kursi maka Santi yang mengurusnya (acara pensi kami diadakan Sabtu malam jam 18:00). Adik-adik kelas kami sangat bersemangat karena hanya menghitung jam untuk hari esoknya pertunjukkan dan sebelum pertunjukkan itu kami gladi bersih khususnya uji coba panggung,mike dan tempat untuk dance nanti. “Sinta kamu kelihatan lelah ayo kita duduk dulu”,”Tapi San tak ada waktu bagiku untuk bersantai-santai”,”sudahlah kan ada Juita sama Randy”,benarkan (sambil memalingkan wajah ke Juita dan Randy). “Iya kak Sinta nggak perlu khawatir kakak kayaknya butuh istirahat deh duduk dulu-lah sama kak Santi”,kata Juita ”iya Sin bener tuh” sambung Randy (aku menagangguk tanda setuju). Santi menarik tanganku lalu kami duduk di depan halaman dekat lapangan tempat pensi. “Sinta boleh nggak aku minta sesuatu padamu”,”minta apaan emang?  kalau aku bisa pasti aku bakal ngasih”,”aku pengen besok kamu nyanyi di paling akhir setelah pertunjukkan semua adik-adik kelas kita”,”whatttt…nggak mungkinlah emang aku pantas nyanyi depan publik kamu kan tahu aku nggak berani dan aku belum pernah nyanyi solo sendirian?”,”Sinta…Sinta yaiyalah kamu pantas kalau nggak demikian kenapa kamu dipilih Rein buat ngatur adik-adik latihan nyanyi?”,”tapi…kan aku ngasih kesempatan mereka bukan aku yang menguasai panggung” (Santi tertunduk dan kelihatan bersedih,aku mengelus pundaknya) “yah sudah demi sahabatku besok aku akan nyanyi”,”terima kasih yah Sinta” (kami berdua berpelukkan lalu menghabiskan minuman coca-cola beserta oreo vanilla). Setelah selesai gladibersih semua adik-adik pulang termasuk Santi,Juita dan Randy, aku memilih tinggal sejenak di lapangan sekolah. Dengan menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskannya aku memberanikan diri untuk naik ke panggung pensi dan bernyanyi kali ini aku menyanyikan lagu dari Michelle Branch yang judulnya All You Wanted
If you want to I can save you, I can take you away from here so lonely inside so busy out there and all you wanted was somebody who cares…
Begitulah sepintas lirik yang kunyanyikan tapi aku rasa ada yang memperhatikanku dari kejauhan namun aku tak dapat melihat siapa gerangan di balik pagar sekolah itu. Tanpa kusadari Ayah sudah menungguku sekitar 15 menit di luar gerbang sekolah,aku lalu bergegas menuju halaman parkir sekolah dan berjumpa dengan Ayah. “Nak bagaimana sudah selesai?” Tanya Ayah “sudah ayah dari 15 menit yang lalu tapi Sinta keasyikkan menyanyi jadi lupa kalau Ayah sudah menunggu Sinta di luar”,”tidak apa-apa suaramu memang sudah lama tidak didengar oleh Ayah boleh kamu menyanyi sekarang sepanjang Ayah membawa mobil”,”aah…Ayah aku malu tahu dan aku juga lelah pengen istirahat”,”ok kalau begitu tapi besok di acara pensi kamu harus menyanyi Ayah tidak mau tahu”,”hhhmmm…Ayah” (Aku tertidur di dalam mobil dan Ayah menggendongku ke kamar tidurku karena badanku juga tidak berat-berat amat).
***
Tet…tet…tet…tet bunyi alarm membangunkanku dan aku terkaget mendengar suara berisik itu dan segera aku bangkit dari tempat tidurku dan menuju ke kamar mandi untuk mandi. Bersiap-siap rapih kemudian menuju ke ruang makan dan di sana aku kaget ternyata tidak ada orang. “Yah ampuunn …ternyata ini masih jam 6 pagi siapa yang tega mengatur alarm di kamarku dan mengerjaiku seperti ini”,”Ayah yang melakukannya supaya kamu bangun pagi sarapan dan latihan bernyanyi untuk sebentar malam”,”iya Ayah tapi aku ada kelas pagi bersama guru Kimia-ku dan aku pasti dihukum kalau tidak mengikuti pelajarannya”,”loh…Ayah sempat baca di meja belajarmu ada tempelan pengingat kalau hari ini tidak ada jam pelajaran oleh karena pensi sekolah”,”oohhh…iya bener banget Ayah aku kok bisa lupa gini?”,”jelaslah itu akibat dari kamu kerjanya terlalu banyak sampai lupa istirahat”,”iiihhh…Ayah”. “Sudah-sudah berhenti beradu mulut karena Ibu pusing mendengarnya lagi pula Ibu senang kalian bangun pagi supaya bantu Ibu memasak nasi goreng sebagai sarapan pagi kita” kata Ibu “aaahh Ibu” kataku. Aku,Ayah dan Ibu mempersiapkan bumbu-bumbu untuk memasak nasi goreng,kerja yang baik pagi ini tak seperti biasanya aku senang sekali setiap melihat kebersamaan kami ini. “Sinta selesai sarapan kamu langsung ke ruangan musik kita dan latihan-lah di sana” kata Ayah (melihatku telah selesai makan),”baik Ayah tapi nggak apa-apa kan Sinta menyanyi lagu barat”,”justru itu yang bagus sayang,kamu tahu Ayah ini dulu bukan hanya pemain musik tapi juga bernyanyi dan yang belum kamu tahu Ibu kamu dan Ayahmu dulu ini bertemu karena musik”,”iya benar kata Ayahmu Ibu jatuh hati pada Ayah karena dia lihai memainkan musik terutama gitar dan piano dan Ibu juga suka bernyanyi sehingga kalau mampir ke Cafe tempat Ayahmu bekerja dulu di Entrop kami selalu mengisi lagu bersama”,”ooh jadi Ibu bernyanyi lalu Ayah bermain musik’,”iya Ayah dan teman-teman Ayah bermain musik pada saat Ibumu mau bernyanyi”,”jadi begitu ceritanya”,”iya sayang maka tak heran kamu mewarisi suara merdu Ibu”,”dan Ayah juga yah jangan lupa itu”,”iya..iya” kataku (sambil tersenyum geli melihat tingkah kedua orangtuaku yang semakin ABG saja). Kini aku melangkah masuk ke ruang musik kami dan menyetel lagu yang akan aku nyanyikan dan aku berlatih sebaik mungkin dari jam 7 sampai jam 9 pagi itu hari Sabtu yang adalah hari pensi.
Selamat siang Sinta kamu nggak usah ke sekolah kamu datang pas sore aja jam 4 sore saja…
Tapi gimana dengan artis yang kita undang???
Kamu tenang aja ada Ronal dan teman-teman kita yang lainnya mereka sedang beradadi bandara menjemput mereka dan langsung ke hotel muspaco
Oh ok kalau begitu nanti aku datang jam 4 sip…sip…
Ok sip…
Pesan singkat antara aku dan Santi membawaku lebih hanyut lagi ke dalam lirik lagu yang akan aku nyanyikan nanti karena sms kami terjadi pada saat aku berlatih. Aku tak menyadari bahwa sudah jam 14:00 siang di dinding ruang musik kami itu tandanya…”Sinta ayo cepat keluar Ibu dan Ayah sudah nungguin kamu makan siang”,”iya Ibu”,sahutku perlahan. Ayah dan Ibu memantapkan diri untuk ke sekolahku dan melihat aku mengikuti pensi itu padahal sebenarnya aku hanya ditugaskan buat bantu-bantu tapi karena permintaan sahabatku yang tak bisa ku tolak jadinya yah…begini deh (ayo kita selidiki acara pensi yang telah dikerjakan oleh Aku,Juita,Randy dan juga Santi). Aku mengenakan gaun biru selutut,Juita mengenakan gaun berwarna oranye dan Santi mengenakkan gaun berwarna silver.
Sudah pukul 18:00 tepat,kepala sekolah kami membuka acara dengan sambutan yang meriah lalu kami melanjutkan dengan menghadirkan band Volts yang membawakan lagu “Fatamorgana” lagu yang cukup menguras energy karena musiknya kencang setelah itu Juita dan Randy membacakan nama-nama grup yang akan tampil dengan bakat mereka masing-masing jadi itu selang-seling ada dance,solo,duet,trio,kwartet,membaca puisi,drama musikal lalu kembali lagi (berputar-putar hingga selesai). “Sinta habis ini giliran-mu” kata Santi,”apa?” (aku kaget mendengarnya),”iya kak aku pikir sudah dengar tadi aku sama Randy bacakan peserta terakhir yang akan tampil dari kelas XII yaitu kakak”,kata Juita. “Aku yakin kamu bisa Sinta berikanlah yang terbaik untuk kita semua yang hadir di sini,”baiklah sahabatku”. “Hadirin yang terkasih kita sambut penampilan terakhir dari kakak Sinta siswi kelas XII IPA 5”,”selamat menyaksikan” (begitulah kata-kata penyambutan bagiku yang dilontarkan oleh Juita dan Randy). Semua lampu di samping panggung dipadamkan dan hanya lampu sorotan berwarna-warni yang diarahkan kepadaku,aku langsung bernyanyi dengan meyakinkan lagu yang kubawakan dari Joe Jonas “Gotta Find You yang dinyanyikannya di film Camp Rock 1
Everytime I think I’m closer to the heart of what it means to know just who I am I think I’ve finally found a better place to start but no one ever seems to understand, I need to try to get the where you are could it be your not that far
Chorus :You’re the voice I hear inside my head the reason that I’m singing I need to find you I gotta find you…oh yeah
You’re the remedy I’m searching hard to find to fix the puzzle that I see inside painting all my dreams the color of your smile when I find you I’ll be alright I need to try to get the where you are,could it be your not that far… (back to Chorus)
Been feeling lost,can’t find the words to say spending all my times stuck in yesterday where you are is where I want to be…ohhh…NEXT TO YOU and YOU NEXT TO ME…ohhh I need to find you..yeahhhh (whoooahh sorak orang-orang yang berada disitu).
“Wow pertunjukkan yang mengangumkan terima kasih sudah mau menyanyi untukku sahabatku”,(Santi menyambutku dengan pelukan hangat),”terima kasih Santi”. Ayah dan Ibuku benar-benar kaget melihat aksiku membawakan lagu itu dengan sangat menghatinya,”Sinta anak Ayah kamu benar-benar luar biasa”,”iya sayang Ibu dan Ayah bangga sekali padamu”,”tetaplah bernyanyi nak,Ayah akan terus support kamu”,”Ibu juga demikian nak”,”kamu mau Ayah dan Ibu menunggumu?” Tanya Ayah.”Om dan Tante pulang aja nanti Sinta bareng sama aku”,”iya Ayah dan Ibu maaf yah acara belum selesai kami harus menyimpan dulu baru pulang”,”ok Ayah dan Ibu pulang dulu yah sayang” kata Ayah (sambil aku dipeluk kedua hartaku yang berharga itu). Santi langsung pergi meninggalkanku entah kemana dia tanpa berpikir panjang aku pergi mencari meja tempat persediaan minuman bagi para siswa-siswi dan penonton ketika aku sepintas melihat penontonnya lumayan banyak yang datang sampai-sampai kayaknya  yang duduk dibelakang tidak kebagian lihat peserta yang manggung ataupun dance tadi.” Hei Sinta”,sapa seoarang lelaki yang sepertinya aku kenal (saat aku hendak berbalik hampir saja minuman yang kupegang jatuh mengenai gaun-ku tapi untung dia menolongku..waittss sabar…apa? Dia ini musuhku itu Rein ngapain dia disini (pikirku). “Ngapain kamu disini oh iya makasih yah sudah mau pegang minuman-ku yang hampir jatuh”,”oh iya..iya tidak apa-apa”,”aku permisi dulu yah”,”hhhmmhh bisa aku bicara sebentar dengan kakak”,(apa…sejak kapan nih orang mau ngobrol sama aku). “Aku mau bilang makasih ke kakak karena sudah bersedia mengurus semua acara ini walaupun sempat ada konflik diantara kita yang buat aku nggak berani menyapa atau bertemu dengan kakak sampai sekarang”,”oh…ya ya nggak apa-apalah aku bisa tangani kayak begini sendiri”,”aku tahu kak Sinta benci banget sama aku tapi aku mohon kali ini di hari ulang tahunku kakak jangan lagi membenci aku karena aku sangat kagum sama kakak”,”kagum sama aku memangnya aku artis?”(jawabanku terus saja cuek) “bukan begitu maksudku aku kagum kakak pitar nyanyi,pintar berorganisasi,pintar di pelajaran maka dari itu sewaktu kita ketemu di SMP dulu kesan pertama melihat kakak di Osis aku menjadikan kakak teladan bagiku untuk melakukan segala sesuatu intinya karena kakak aku juga berhasil soalnya dulu di SD aku orangnya nggak pintar seperti yang kakak lihat sekarang tapi ketika melihat kakak-lah aku jadi rajin buat belajar aku nggak pernah bermaksud merebut semua yang kakak punya tapi semua itu datang padaku secara kebetulan dan aku mensyukurinya”, (aku terdiam dan berpikir yah ampun jadi selama ini rasa iri-ku padanya tidak membuahkan hasil apa-apa karena ternyata dia mengagumiku sampai-sampai menjadikanku teladan segala lagi).”Kesuksesanku sekarang ini salah satunya karena kak Sinta terima kasih yah dan aku berharap kakak tidak menganggapku musuh atau lawan tapi kita bekerja sama dengan ide-ide yang kita punya dalam organisasi sekolah”,”hhhmmh…iiiya Rein maa…maafff yah atas sikap kakak selama ini sama kamu oh iya kakak minta maaf nggak punya kado apa-apa untukmu”,”iya nggak apa-apa kak aku juga salah seandainya aku ngomong dari dulu mungkin kakak nggak bakal menaruh kebencian padaku dan lagu kakak tadi sudah cukup sebagai kado di hari ulang tahunku ini”,”aahhh kamu ini oklah kalau kado lagu kakak tadi sudah cukup buatmu dan tak usah dibahas lagi yang penting acara yang diselenggarakan Osis telah berjalan dengan baik dan kakak bersedia kalau Osis masih membutuhkan kakak tapi bila kakak tidak sibuk yah…” kataku. “Ok kakak siap”,”hehehehe…” (kami berdua tertawa) “ada apa sih aku ketinggalan cerita bagus nih” potong Sinta “yeehh telat dari mana aja sih kamu”,”aku dari toilet”,”ya udah bye aku mau nyanyi bareng anak-anak lainnya dengan band Volts sekalian minta foto”.”aku ikut kak” sahut Rein,”ok let’s go” kataku. “Tungguin dong aku benci kamu Sinta”,”ayo princess jangan marah dong aku hanya bercanda doang” (kami berdua langsung menuju keramaian dan menonton lagu terakhir yang dibawakan band Volts judulnya INDAH)
Indah kaulah hidupku,indah aku milikmu ku akan slalu menjagamu…ku rela mati untukmu…
TUHAN menciptakanku untuk mencintaimu hanya dirimu yang mampu menghidupkanku…
Indah kaulah nyawaku…indah kaulah nafasku jangan pernah tinggalkan aku,jangan pernah pergi dariku…oh…
TUHAN menciptakanku untuk mencintaimu hanya dirimu yang mampu menghidupkanku…oohhh…ohhh
Jangan pernah tinggalkan aku..ku rela mati untukmu…ohhhh
TUHAN menciptakanku untuk mencintaimu hanya dirimu yang mampu menghidupkanku separuh nafasku ada karenamu hanya dirimu yang mampu menghidupkanku…hanya dirimu yang mampu menghidupkanku…hanya dirimu yang mampu menghidupkanku.

Semua orang yang hadir disitu bersorak gembira dan mereka yang masih ingin disekolah untuk berfoto-foto dengan grup band ini mereka tetap bertahan dan yang sudah mau pulang mereka langsung pulang.Guru-guru pun langsung meninggalkan sekolah hanya satpam dan kami para anggota Osis yang senantiasa berada di sekolah untuk membersihkan sekolah lalu kemudian baru bisa melangkahkan kaki untuk pulang.
***
Malam itu akhirnya perselisihan nggak jelas antara aku dan Reinhard berakhir di malam pensi sekolah . Aku benar-benar tak menyangka bahwa ternyata ada yang diam-diam mengangumiku menjadikanku teladan dalam proses belajarnya sampai menjadi siswa berprestasi sekarang dan dia itu adalah adik kelasku ketua Osis sekolah kami yang baru. Semenjak hari pensi itu kalau dia minta bantuan padaku dan Santi kami pasti mengiyakan dan adik-adik kelas kami sangat senang karena program-program yang diselenggarakan Osis dibawah kepemimpinan Reinhard Semuanya itu bermanfaat karena adanya kesatuan ide-ide kami (aku,Santi,Rein,Juita dan tak lupa Randy juga ikut membantu didalamnya walaupun dia bukan anggota organisasi sekolah tapi bakatnya sangat bagus untuk dibudidayakan dalam acara-acara yang Osis selenggarakan) 😄.



KARYA : APRIANI PASKALIN AYOMI



Cerpen, "Perahu Kertas".



SHORT STORY

 “PERAHU KERTAS”
Aliran air yang deras menghanyutkan perahu kertasku entah berhenti di persinggahan mana aku tak tahu yang aku inginkan adalah perahu kertas ini mengantarkan sejuta rasa rinduku pada seseorang yang aku cinta. Detak jantungku ada di dalam perahu kertas ini dan aku mau perahu kertasku ini berhenti di hati dia yang ku tuju.



***
Sore itu aku berjalan disekitar kompleks perumahanku dan di dekat situ ada sebuah kali kecil yang berada dekat dengan lapangan basket tempat bermain anak-anak kompleks kami. Aku ingin mencari udara segar karena telah berhasil menyelesaikan ujian akhir nasional di bangku SMA. Bayangkan saja gimana rasanya setelah belajar mati-matian di tekan oleh orangtua di rumah untuk belajar,belajar,belajar dan belajar belum lagi dibayang-bayangi oleh guru-guru di sekolah tentang pelaksanaan ujian yang ketat dan disiplin serta nilai rata-ratanya harus mencukupi kalau tidak… aahhh sudahlah tak mau dipikirkan hasilnya nanti belakangan yang penting udah berjuang sekuat tenaga dan nggak lupa berdoa juga itu sudah pasti. Sekarang nggak mau mikir-mikir itu lagi mendingan nyantai menikmati pemandangan yang sudah ada di depan mataku ini. Ketika aku ingin duduk di sebuah kursi bercat warna biru yang terletak di tepi kali itu aku menemukan ada sebuah perahu kertas yang melaju mendekat ke tempat aku berdiri dan hendak duduk. Aku tergerak hati dan karena rasa ingin tahuku tinggi aku langsung saja mengambilnya tanpa berpikir panjang, lalu aku duduk sambil  membuka isi surat tersebut yang sudah setengah basah oleh air. Aku membaca isi surat itu dengan seksama dan apa yang terjadi?. Hatiku ikut tersiram bara api yang panas karena begitu sakitnya perasaan orang yang menuliskan surat itu. Demikian bunyinya :
Salah aku apa? Aku hanya mencintaimu dengan cinta yang ku punya mungkin sekarang aku tidak bisa memberikan apa yang diberikannya padamu,tapi suatu saat nanti aku akan mampu memberikan segala yang kau inginkan. Dulu aku pernah berpikir bahwa kau adalah salah satu dari bintang-bintang yang memancarkan keindahan hanya untukku namun aku salah menilamu. Kau adalah cewek pengincar uang.
Surat yang menurutku isinya sangat mengerikan sekali tetapi membuatku merasakan apa yang dirasakan si penulis tersebut. Walau tidak sama persis dengan dia tapi aku juga pernah punya kisah cinta dan menurutku sial semua. Bagaimana tidak semua cowok yang ku taksir satu sekolah semuanya nggak ada respon. Maklum gayaku dan diriku mungkin nggak sesuai kriteria cewek yang mereka suka. Itu menyakitkan banget sama kayak si penulis surat ini, jadi mereka para cowok di sekolahku hanya pengen punya pacar kalau mereka itu cantik. Btw… Aku penasaran ingin melihat nama si penulis surat yang baru saja ku baca tapi air telah membasahinya sehingga aku hanya dapat melihat inisial huruf  L di bagian bawah kertas itu. Diam-diam hatiku ingin sekali membalas surat tersebut tapi aku tidak tahu orangnya siapa. Aaahhh sudahlah jalan-jalan sore ini kucukupkan dulu nanti besok balik lagi siapa tahu bisa bertemu dengan penulis surat itu. Oh yah…aku bawa aja suratnya pulang.
***
Pagi-pagi benar sekitar jam 7 saat semua orang di rumah masih pada bobo manis aku berjalan menelusuri jalan menuju tempat aku bertemu dengan perahu kertas itu. “Bukkk….”, (Kepalaku terkena bola), “Hei apa-apaan kamu main bola seenak kepala loe emangnya badan gue ini tiang gawang seenaknya aja nendang-nendang kemari”, Seseorang menghampiriku dan dengan nada tak bersalah berkata “hmmm… aduh sorry yah nggak sengaja habisnya loe lewat pas di belakang gawang sih”,” Apa loe bilang sorry…ehhh nggak usah kebarat-baratan deh biasa aja kale”,”ohh…kalau gitu maaf deh”,”nih bolanya (buuukk)”, bola tersebut mendarat dikepala si cowok reseh tersebut, “satu sama”, aku berlari menjauh dan meninggalkan cowok reseh itu menjerit kesakitan. “Emang gue pikirin lagian masih pagi ada aja yang bikin ribut…oh iya yah mereka kan biasa suka sparing sama anak-anak kompleks sini but whatever I don’t wanna know”. Dengan membawa pulpen hitam dan kertas berwarna biru muda yang ada gambar boneka-bonekanya aku menulis sebuah surat harapannya sih bisa di baca oleh si penulis surat yang kemarin. Setelah selesai menuliskan surat di bangku yang kemarin ku duduk sambil membaca surat itu, aku melipat surat tersebut berbentuk perahu dan  melepaskan perahu kertasku. “Semoga di baca sama dia”, kataku. Setelah surat berbentuk perahu itu semakin menjauh di bawah oleh aliran air di kali tersebut aku berjalan menyusuri lapangan bola dan pulang kembali ke rumah. Anehnya saat aku berjalan pulang “anak-anak reseh yang tadi bermain bola disini mereka dimana yah”, kataku, “kenapa loe mau ditendangi bola lagi jadi nanya kita dimana?”, aku kaget dan berbalik badan sontak saja ku balas “enak aja emang ku peduli mereka mau main sampe kakinya patah tuh bukan urusanku,”,”hmmhhh…emang cewek aneh”,”ehh eloo… lagi males gue bicara sama cowok reseh yang udah buat badan gue sakit kena bola”,”satu sama dong tadi loe bilang kan loe udah bales gue”,”apaan sih males gue bicara ama loe nggak penting banget kenal juga nggak”,”sombong loe”, Aku berjalan secepat mungkin biar si cowok reseh itu nggak usah SKSD atau sok kenal sok dekat sama aku. Setelah sampai di rumah papa dan mama mengagetkanku. “hey kamu dari mana aja”,kata papa sambil mengoleskan selai kacang dirotinya, “iya nih nggak ikut sarapan sama kita,kamu lagi diet yah” sambung mama, “nggak kok siapa bilang aku diet aku tadi cuma jalan-jalan pagi kok di depan”, kataku sambil menyembunyikan pena yang kupegang ke dalam saku celana. “yah dia nggak mungkin bohong dong papa dan mama tadi abang lewat di depan benaran kok dia jalan pagi tapi sama cowok”, aku  kenal sama suara ini arahnya dari belakangku “bang Ferry” suaraku yang cempreng membuat papa dan mama hanya bisa geleng-geleng kepal. Aku langsung memeluk abangku, “aahh abang nyebelin dateng nggak bilang-bilang abang liburan berapa lama disini”,”abang nggak libur dong abang mau lamaran makanya kesini”,”males semuanya udah ninggalin Kelly sendiri di sini di kota ini di rumah ini sama papa dan mama doang”,”Kelly sayang kalau ada liburan panjang pasti bang Ferry dan abang kamu satunya yang super sibuk itu bang Soni pasti bakal kunjungan kesini percaya deh di hati ini cuma Kelly doang yang bisa bikin abang-abang pulang ke rumah”,”aahh abang bisa aja gini nih pasti ada maunya…mau minum apa?”,”biasa adikku yang mungil abang mau minum jus jeruk”,”siap abang Kelly buatin dua soalnya Kelly juga mau minum”,”jangan dua dong harus tiga tambah cowok yang tadi kamu ketemu di depan”,”aahh abang…ihhh mama liatin abang dong gangguin mulu dari tadi”,”Ferry udah adikmu nggak mau digangguin”,”iya…ma”. Sambil buatin minum untuk kakakku, aku lagi mikirin kira-kira perahu kertasku udah singgah di salah satu dermaga alias tangan seseorang untuk di baca belum atau hanya jadi sampah masyarakat di kali. Di seberang sana perahu kertasku yang telah di bawa aliran air telah berhenti di depan kaki  seseorang dan orang itu menemukannya serta membacanya.
Janganlah takut untuk mencintai terkadang cinta itu tidak perlu dipaksakan hanya perlu dirasakan sebab kita tidak akan pernah mengalami perasaan seperti itu untuk kedua kalinya lagi. Nikmatilah hidup dan railah apa yang perlu untuk diraih sebab dengan sendirinya cinta akan menghampirimu dengan sejuta cara yang akan membuatmu kagum.
Dia yang membaca perahu kertasku lalu merenungkan kata-kata yang kutuliskan dalam kertas itu sambil duduk di pinggir kali tempat ia biasa melabuhkan hatinya dalam sepucuk surat yang menjadi perahu kertas yang salah satunya telah ku baca. Disimpannya surat itu dengan baik dalam tasnya lalu ia berjalan pulang.
***
Keesokan harinya kakakku mengajakku lari pagi tapi kali ini dia sengaja mengajakku berlari lewat lapangan bola. “Kelly kemarin kamu lari lewat sini emang kamu suka perasaan waktu abang masih tinggal di rumah kamu nggak pernah keluar rumah paling sekolah-rumah begitu juga sebaliknya rumah-sekolah“,”yah abang kan sekali-sekali aku keluar rumah biar cari udara segar masa terkurung di rumah mulu”,”aahh…yang ini nih abang suka siapa sih yang udah buat kamu jadi berani keluar rumah cowok apa cewek kenalin dong”,”abang mau tau aja urusan orang lagipula di kompleks ini mana ada cewe semuanya cowok kale jadi mau ajak main nggak bisa”. Sambil lari pagi aku juga merenung benar juga nanti orang-orang pada kira aku anti sosial hidupnya di rumah terus, belajar terus, tidak ada istirahatnya.”woii…ngelamun awas ketabrak”, seru cowok yang di atas motor tersebut,”aduh…maaf yah adikku lari nggak lihat” seru abangku, “iya…iya ma…what? loe lagi nggak bosen yah cari masalah mulu ama gue”,”eh gue nggak mau cari masalah yah gue udah telat mau pemanasan tuh anak-anak udah pada manggil”, Kakakku menarik aku berdiri dan dengan sopan kakak meminta maaf padanya kalau aku tidak mau mengeluarkan kata maaf enak sekali nanti skornya dia dua aku satu. “kamu kenapa sih dek sama dia, kamu yang salah lari sambil ngelamun”,”iya iya deh apalah Kelly nggak peduli”,”Kel…Kelly jangan marah dong sama abang”,”biarin berteman aja tuh sama teman barunya abang”,”Kel…ayolah abang nggak bermaksud”. Aku lari menuju tempat sepi tempat tenang yang menyenangkan, “sip udah nggak ada lagi keributan nggak dikejar-kejar sama abang plus nggak ada suara rewel cowok reseh itu, duduk dulu aahh”. Setelah lima menit kemudian ada sebuah surat yang melintas, “wahhh ada surat tuh yang nongol siapa tau aku dapet balesan lagi”. Setelah mengambil surat itu dengan wajah penuh riang gembira isinya ternyata
Hey there…aku nggak tau kamu siapa tapi makasih buat balesan surat kamu, balesan surat darimu membuat hatiku merasa tenang. Selama ini aku melabuhkan suratku tanpa tahu arahnya kemana dan nggak nyangka bakal dapet balesan. Kalau kamu itu real boleh nggak aku ketemu sama kamu. By Leonard William
 “Wow suratku di bales dan bahkan aku diajak ketemu yang bener aja…eh ada nomor hp-nya lagi”. Tapi aku tidak diperbolehkan memakai handphone sampai aku dinyatakan lulus dulu dari SMA. “Gimana yah…pikirku”, sambil menimbang-nimbang aku melihat ada seorang adik kecil yang membawa buku dan bolpen dia mau bermain sama teman-temannya “halo adik maaf kakak ganggu boleh nggak kakak minjem bolpen dan minta kertasnya satu aja”,”boleh kak ambil aja”,”kakak pakai bolpennya dulu kalau udah selesai kakak ke tempat kalian bermain dan kembaliin bolpennya oke”,”oke kak aku kesana dulu temen-temen udah manggil”,”oke..”. Aku segera menuju bangku dekat kali itu dan menuliskan surat yang menjelaskan bahwa aku tidak bisa berkomunikasi dengannya karena orangtuaku melarang aku menggunakan handphone. Surat itu ku labuhkan di air dengan harapan ada cara lain bisa berkomunikasi dengannya atau bertemu langsung? Who knows?.
***
Hari itu lapangan sepi biasanya mereka latihan bola tiap pagi tapi kayaknya mereka sudah mulai perlombaan bermain bolanya di lapangan sungguhan. What? Maksudku lapangan yang benar-benar ada penontonnya dan ada teriakan-teriakan hsiteris para kaum hawa yang nggak tahu apa yang mereka teriakin mungkin supaya para pemainnya bisa mencetak gol atau karena mereka fans sama pemain bolanya karena tampan. Ahh… whateverlah yang penting tujuanku mau mengecek surat apa sudah ada balasan belum. Ketika aku sampai suratnya sudah basah semua aku tafsirkan dia nulis surat tersebut dari kemarin dan aku baru ngambil sekarang otomatis basah semua. Btw aku masih memegang bolpen yang diberikan seorang adik kecil kemarin hari ini aku juga rencana mau mengembalikannya tapi kenapa si adik nggak muncul lagi yah. Karena penasaran aku ambil kertas tersebut dan membacanya di dalam surat itu si Leonard William menulis nama lengkapnya, alamat tempat tinggalnya dan nomor handphone-nya serta harapan ingin bertemu denganku. Aku spontan mengangguk kepala mengiyakan “wah… parah aku berdiri sendirian pagi-pagi baca surat yang udah basah sambil senyum dan mengangguk nanti orang-orang pada bilang aku gila”, sudahlah kubalas saja suratnya dengan mengiyakan permintaannya. Entahlah apa aku sudah gila masak janjian dengan orang yang belum pernah aku ketemu sebelumnya. Aku berjalan pulang sambil merenung dan “buuukkk…” lagi-lagi bola terkena badanku “eh kalau nendang lihat-lihat dong”,”maaf dek kakak nggak lihat”, “kakak…ngapain disini sejak kapan kakak main bola terus sama…sama dia lagi” (sambil menunjuk wajah si cowok yang bahkan aku nggak mau tahu namanya). “Kelly nggak boleh gitu”,”emangnya kenapa”,”udah kak biarin aja memang aku suka buat dia kesal” potong si cowok tersebut. “udah deh kak goodbye aku pulang duluan”. Sambil banting pintu rumah aku ngomel nggak jelas membuat papa dan mama bertanya-tanya “kamu dari mana Kelly kok kelihatan kesel?” tanya papa yang selalu kepo pengin tahu segala-galanya tentang anak gadisnya, “nggak pa, aku kesel lihat orang yang aku benci malah akrab sama abangku sok kenal banget yah”,”nggak apa-apa itu ternyata calon ipar abangmu kemarin papa sama mama ke rumah calon isteri abangmu eh malah ketemu sama dia” kata Mama,”whatttt? Kok nggak ada yang bilang-bilang sih sama Kelly”,”gimana kami mau ngasih tahu kamu aja sibuk sendiri tiap pagi keluyuran nggak jelas kemana”,”aku tuh lagi nulis surat ma dan itu penting bang…upss sorry ma bukan apa-apa Kelly pergi mandi dulu yah”,”eh Kelly main kabur aja belum cerita tuh papa mau dengar”. Aku tak ambil pusing kata-kata papa aku berjalan terus ke kamar mandi mau mandi.
***
Wah deg-degan banget yah pengen muntah rasanya ini adalah hari dimana  pertemuan pertama aku dan si Leonard si penulis surat itu, maka aku berpikir untuk membawa alat-alat tajam yang akan melindungi diriku bila dia hendak melakukan hal-hal yang aneh padaku. Dengan ijin dari orangtuaku aku diantar abangku Ferry ke kawasan Mall terbesar di Jayapura yaitu Mall Matahari kebetulan aku tinggal di Kloofkamp jadi tidak terlalu jauh ke arah Mall Matahari. “Kamu ini orang yang belum pernah kamu temui begitu diajak ketemuan hanya lewat surat kamu mau nanti kalau kamu di apa-apakan gimana?” kata abangku merasa cemas, ”kak aku hanya kasihan aja sama dia di surat yang dia tulis dia kayak putus-asa banget nggak ada salahnya kan aku nolongin dia jangan sampai dia depresi atau bunuh diri karena cinta”, “alaahhh sudahlah jangan-jangan dia bohong lagi”, “kak postif thinking aja kenapa sih sewot banget”,”iya…iya ok deh abang nemenin kamu nggak?”,”nggak usah abang aku bisa sendiri nanti kalau udah selesai aku telpon abang deh minta dijemput”,”baiklah kalau begitu hati-hati yah”,”ok bang”. Kini kakakku telah meninggalkan aku sendirian sebenarnya tidak sendirian juga sih ini kan di Mall tentunya banyak orang dong. Aku melangkahkan kaki masuk dan berhenti di salah satu tempat favoritku yaitu toko buku Pelita. “Eh ada Kelly”,”kalian siapa?”,”ya ampun Kelly, Kelly kamu udah lupa yah kita ini temen sekolah kamu waktu SD” jawab Gita, “masa sih kok sekarang berubah yah makin cantik gitu”,”yaiyalah Kel emang mau kamu gimana” sambung Darlene,”hehehe…nggak kok kalian berdua ngapain disini”,”ini nih diundang sama Leonard katanya ada party gitu kalau kamu ngapain disini diundang juga yah?” tanya Gita,”soalnya ini kana car ulthanya yang ke 17 tuh dan dia mau rayain disini katanya temen-temen SD diundang semua loh”,”oh yah”. Aku semakin penasaran kok nama yang mereka sebut sama dengan nama orang yang aku lagi janjian sama dia. “Kalau aku boleh tahu nama panjangnya Leonard apa yah?”, tanyaku, “nama panjangnya itu Leonard William anak kelas 6B waktu itu” jawab Gita, “ohh gitu yah”,”kamu nggak kenal sama dia?” tanya Darlene. Sambil memasang wajah bingung aku menggelengkan kepala dan kaget setengah mati bahwa orang yang selama ini bertukar pesan lewat perahu kertas itu teman SD-ku , “oh iya pantesan kamu kan dari SD sukanya baca buku nggak suka bermain kayak kita-kita gini”, “hahahaha…” akhirnya percakapan siang itu ditutup dengan tawa geli mengingat masa kecil SD yang penuh dengan kenakalan dan keseriusan belajar. “Btw Kel kamu ikut kita deh”, Gita dan Darlene memasang wajah permohonan. “iya deh aku bakalan ikut emang acaranya dimana?”,”di Solaria lantai 2”, jawab Gita,”udah yuk kita jalan naik udah jam 12:30 udah lewat dari  jam yang tertera diundangan”, sambung Darlene. Kami bertiga langsung bergegas naik ke lantai 2 menggunakan escalator. Sesampainya disana ternyata acara sudah berjalan dan telah sampai di pemotongan kue. Dengan memasang wajah bingung aku lihat ke dalam ternyata ada abangku. “Ngapain abang Ferry ada disini tadi kan dia bilang dia mau pulang”, gumamku dalam hati. “Kue pertama ini aku pengen kasih ke Kelly”. Tunggu dulu kenapa semua orang jadi memperhatikanku apa ada yang salah dengan dandananku? Atau?. “hey Kelly kamu dipanggil kedepan tuh mau dikasih kue ultah”, kata-kata Gita membawaku kembali kealam bawah sadar yang sesungguhnya. Pas aku maju melangkahkan kaki depan dan menerima kue ternyata… “lohhh kok elo lagi sih”, ternyata si Leonard William adalah cowok reseh itu yang katanya adalah calon ipar abangku, pemain bola yang suka nendang kesasar kena badanku, dan dia teman SD-ku. Whatttt???. “hai Kelly ini kue buat kamu”
 Hatiku berkata itu Leonard dan ini tempat dia biasa melajukan perahu kertasnya. Aku langsung duduk di sebelah dia dan berkata-kata seperti orang yang telah saling kenal. “Pemandangannya indah,indah ketika kita melajukan berjuta rasa kita di dalam perahu kertas yang akan membawanya pada perhentian yang abadi”,kataku membuka percakapan. “Tapi lebih indah lagi ketika keabadian itu datang menghampiri kita yang menantikannya di dunia nyata”,sambungnya.”Kenalkan aku Leonardo William (Sambil Berjabat-Tangan), aku Kezia Laura. “Senang bisa berjumpa dengan orang yang bisa mengerti kita”,kata Leonard “lebih senang lagi bila kita menemukan cinta sejati kita”,sambungku “iya kamu benar dan cinta sejati itu takkan menunjukkan dirinya kecuali kita berusaha mencarinya”,”tidak perlu di cari dia akan datang dengan sendirinya padamu aku tahu perasaanmu saat ini hancur lebur aku kesini karena tergerak oleh batinku untuk memberitahu padamu bahwa jangan pernah salahkan cinta sebab cinta tahu ke mana arah dia berlabuh.”Namanya Selvi dia pergi meninggalkan aku karena dia menemukan lelaki yang kaya padahal aku tulus mencintainya mungkin bagi dia aku hanya memiliki wajah yang ok tapi dompetku kosong jadi waktu kami masih sekolah di SMA dia hanya menjadikanku model gandengan supaya tidak ditertawakan teman-temannya karena dia perempuan tercantik pertama yang diidolakan di sekolah kami maka pacarnya juga harus tampan,aku dijadikan korbannya dan aku benar-benar tidak tahu bahwa di luar sana ternyata dia berpacaran dengan orang lain aku baru mengetahuinya ketika kita selesai ujian nasional dan aku memutuskan hubungan kami,dia tidak merasa menyesal sebab telah mendapat penggatiku (Leonard marah dan memukul kursi)”,”itulah cinta Leonard terkadang kita harus pandai-pandai mengendalikan perasaan kita,saat kita berkomitmen serius dengan pasangan kita maka dari situlah cinta sejati akan terlihat,maaf Leonard aku pergi dulu kakakku sudah menelponku”,kataku “baiklah senang bertemu denganmu kalau tidak keberatan aku selalu ada di sini tiap sore,datanglah kalau kamu punya waktu”.Jawab Leonard
***
Aku banyak menghabiskan waktu liburanku (sebelum mendengar hasil kelulusan di SMA) bersama Leonard di taman kecil di Jl.Melati. Aku tak tahu hubunganku dengannya di beri status apa lajang,hubungan tanpa status atau pacaran sebab setiap kami bertemu kami banyak berceritera tentang pengalaman-pengalaman hidup dan juga tentang masa depan masing-masing. Leonard bilang dia akan melanjutkan studinya di Sulawesi dia ingin masuk di IPDN sedangkan aku ingin masuk di universitas sastera karena aku senang menulis karya sastera entah itu novel,cerpen dan lain sebagainya. Sore itu merupakan pertemuan terakhir aku dengannya sebab dia akan berangkat paginya ke Sulawesi. Perasaanku bercampur-aduk antara takut kehilangannya ataukah mendukungnya dalam menggapai cita-citanya. Aku bersyukur bertemu dengannya dan banyak mendapatkan pengalaman saat bersamanya,dia membuat hari-hariku berwarna dan aku punya semangat untuk menuliskan ceritera pertamaku yang kutulis berdasarkan kisahku bersamanya dan itu akan aku abadikan dalam sebuah novel karyaku sendiri. “Kezia,besok aku akan berangkat ke Sulawesi aku harap kamu baik-baik yah di sini”,”aku pasti akan baik-baik saja karena aku yakin ada perahu kertas yang membawa kabar tentang diriku padamu yang jauh di sana”, perkataanku membuatnya tertunduk. “Kalau nanti kita bertemu lagi kamu mau aku kasih kamu hadiah apa?”,Tanya Leonard “aku hanya ingin sebuah perahu kertas yang bertuliskan isi perasaanmu yang sesungguhnya terhadap orang yang kamu sayang tidak seperti perahu kertas pertama yang berisi kesedihan”,kataku “baiklah kalau itu maumu aku akan mengantarkannya setiap malam dalam mimpi-mimpimu”. Kata-kata Leonard membuatku semakin berat untuk melepaskannya pergi. “Aku berhutang banyak sama kamu Kezia karena kamu aku jadi bisa memaknai hidupku dengan lebih baik lagi dari yang sebelumnya,aku janji aku akan terus menjalankan isi suratmu dalam perahu kertas yang bertuliskan “Nikmatilah hidup dan railah apa yang perlu untuk diraih sebab dengan sendirinya cinta akan menghampirimu dengan sejuta cara yang akan membuatmu kagum”. Itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya dalam pertemuan terakhir kami,Jl.Melati sekarang hanya menjadi kenangan indah yang bagiku takkan terlupakan.
***
3 tahun aku dan Leonard tidak pernah saling kontak sebab aku sibuk tekun belajar dengan target menjadi sarjana muda dan mendapatkan pekerjaan. Sebab Ayah dan Ibuku sudah tidak bekerja lagi dan sedang tinggal di rumah kakakku Steven dan isterinya. Sekarang tanggung-jawab aku dan kak Steven untuk mengurus Ayah dan Ibu. Di kampus aku selalu mendapatkan nilai terbaik maka aku mampu menyelesaikan studiku lebih awal. Kali ini skripsiku kutuliskan berdasarkan kisahku bersama Leonard dan dosen pembimbingku menyetujui skripsiku yang ditulis dari novel buatanku yang adalah kisah nyata. Aku lalu menyelesaikan skripsiku dan ujian setelah selesai ujian nama-nama kami di tempel di papan pengumuman. Aku senang sekali karena lulus dengan nilai terbaik sebab dengan begitu aku hanya perlu mempersiapkan diri untuk yudisium dan wisuda. “Kezia kamu sebentar lagi sudah jadi sarjana apa kamu sudah punya pacar”,kata Ibu Kezia “belum ada ibu aku masih belum memikirkan terlalu jauh”,”eh anak perempuan itu tidak boleh tunggu terlalu lama nanti kalau ketuaan nggak baik loh”,”iya ibu aduh bawel banget sih sudah aku mau mandi”,”mau ke mana kamu mau ketemu pacarmu yah”,”aaahhhh…ibu nyebelin masa ibu lupa hari ini kan yudisium”,”oh iya benar anakku ibu mandi setelah kamu dan sepertinya ayahmu sedang keluar jadi tidak bisa ikut yudisium tapi besok pasti hadir”,”ok bu”.
***
Keesokan harinya adalah hari penting dalam hidupku aku diwisudakan menjadi sarjana sastera Indonesia banyak teman-temanku yang datang dengan pasangan mereka dan keluarga mereka sedangkan aku hanya datang sendiri dengan keluargaku,aku sedikit kecewa karena hatiku berharap sekali ada Leonard di sini sudah bertahun-tahun tapi aku tidak bisa melupakan dirinya mungkin karena aku terbayang-bayang oleh perahu kertasnya yang selalu menghampiri mimpiku seperti katanya. Di balik kekecewaanku ada kebahagiaan karena aku menjadi mahasiswi lulusan terbaik dari jurusan kami,setelah acara wisudanya selesai kami pulang ke rumah Ayah dan Ibu mengundang teman-teman mereka serta keluarga besar kami dan kakakku bersama isterinya juga mengundang teman-teman mereka hadir di rumah untuk acara pengucapan syukur karena aku diwisudakan. Teman-temanku banyak yang tidak hadir karena masing-masing membuat acara di rumahnya acara kami hanya singkat yaitu berdoa dan kemudian makan-minum bersama. Aku minta ijin pada Ayah dan Ibu serta kakakku untuk pergi ke kamar mandi dan mandi sebab aku merasa kepanasan karena tadi di kampus kami berjam-jam duduk di ruangan yang banyak orang. Sementara mandi hatiku banyak berbicara padaku “Kezia pasti Leonard sudah lupa padamu ini amper mau 4 tahun kalian tidak bertemu bagaimana bila dia telah menemukan perahu kertasnya yang lain, lupakanlah dia dan bukalah hatimu pada orang lain pasti kamu akan menemukan titik cahaya cinta yang diberikan orang lain itu padamu. Aku langsung mematikan air pancuran di kamar mandi dan segera keluar memakai pakaian,menyisir rambut dan memegang sebuah kotak tempat tersimpannya perahu kertas Leonard yang kutemukan pada hari pertama di mana aku merasa hidupku bahagia. Aku memutuskan untuk pergi ke Jl.Melati setelah sekian lama aku kembali ke taman indah itu lagi hendak menebarkan seluruh perahu kertas kenaganku bersama Leonard di sana dan melupakan dia untuk selama-lamanya sebab sepertinya kata hatiku benar dia telah pergi lama meninggalkan diriku dan tidak ada status jelas antara aku dan dia maka wajar bila aku melupakan dirinya. Dengan berlutut di pinggir kali aku menaruh kotak itu dan melepaskannya tapi ada suara yang berseru dari jauh aku tidak tahu asalnya dari mana,dan orangnya di mana tapi sepertinya suara itu tidak asing ditelingaku. “Kotak perahu kertas itu tidak salah (sambil memegang kotak yang telah hanyut di bawa air) tapi hati ini yang salah mereka-rekakan sesuatu yang tidak benar”,”…Le…Leonard apa benar itu kamu?” (Leonard yang sekarang berbeda dari yang dulu,dia tampan dan kelihatan seperti orang sukses),”seperti yang kamu lihat inilah aku dan aku tidak pernah mengingkari janjiku dan ini perahu kertasku yang telah kutuliskan berdasarkan permintaanmu but btw congratulation for your graduation dear”. Leonard memberikan sepucuk kertas berbentuk perahu berwarna biru,aku penasaran dengan isinya. Segera aku membukanya dan membacanya.
Terima kasih sudah menjadi penerang hidupku,terima kasih telah menemukan perahu kertasku dan membimbing aku memaknai hidupku,aku berhasil menyelesaikan studiku di IPDN itu semua karena dukungan darimu karena perahu kertasmu telah menemaniku 4 tahun ini sekarang aku kembali padamu bersama perahu kertasku melaju dengan kencang hendak bersandar di pelabuhan keabadian  yang adalah milik aku dan kamu . I Love You Kezia forever you are very precious for me.




KARYA :APRIANI PASKALIN AYOMI


Nostalgia "Dies Natalis Kampus"

       Ini aku dan kisah nyataku yang tersimpan rapih dalam memori ingatan yang sengaja kubuka kembali setelah sekian lama berhubung tahun i...